Ternyata Chat Mesra dengan AI Bisa Dikategorikan Selingkuh, Kok Bisa?

Selasa 08-09-2026,16:03 WIB
Ternyata Chat Mesra dengan AI Bisa Dikategorikan Selingkuh, Kok Bisa?

Ilustrasi Chat dengan AI-DC Studio-Dok. Istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID - Pernahkah Anda membayangkan pasangan Anda menghabiskan setiap malam mengobrol mesra, bertukar pesan manis, hingga curhat mendalam dengan sosok virtual berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence)? Apakah interaksi tersebut bisa dianggap sebagai bentuk perselingkuhan, padahal tidak ada manusia lain yang terlibat?

Bagi sebagian besar masyarakat modern, pertanyaan ini bukan lagi sekadar hipotetis. Sebuah survei terbaru mengenai fenomena hubungan digital dengan AI mengungkapkan bahwa 50.5% warga Amerika Serikat menganggap hubungan romantis dengan AI sebagai bentuk perselingkuhan.

Studi yang dipublikasikan oleh Aigirlfriend.coach terhadap 2.150 responden dewasa telah memetakan bagaimana pandangan publik mulai berubah terhadap kehadiran chatbot interaktif pacar virtual atau biasa disebut AI Girlfriend.

Fenomena ini membuktikan bahwa di era digital berbasis AI telah mengaburkan batas kesetiaan dalam suatu hubungan, perselingkuhan tidak lagi sebatas interaksi antar manusia.

Bukan Manusia Nyata, tapi Tetap Memicu Kecemburuan

Secara konvensional, perselingkuhan memerlukan keterlibatan orang ketiga yang bisa dijumpai, dilabrak, atau dicemburui secara langsung. Namun, kehadiran aplikasi AI companion atau AI girlfriend mengubah hal tersebut dengan menghilangkan sosok fisik manusia, tanpa mengurangi beban emosional yang ditimbulkannya.

Berdasarkan the AI relationship survey, pandangan responden terbagi menjadi beberapa sudut pandang menarik:

  • 50.5% secara tegas menilai interaksi romantis atau seksual dengan AI sebagai perselingkuhan.
  • 21.2% memilih untuk tidak menggunakan kata "selingkuh", namun tetap mengaku tidak nyaman jika pasangan mereka menjalin hubungan mesra dengan AI.
  • 28.3% menganggap hal ini bukan masalah karena AI dianggap sebatas program komputer dan bukan manusia sungguhan.

Jika digabungkan, terdapat 71.7% responden yang menuntut adanya batasan tegas terhadap keintiman digital pasangan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kecemburuan dan ancaman pengkhianatan emosional tetap dapat terpicu, terlepas dari fakta bahwa lawan bicara pasangan hanyalah barisan kode algoritma. Apalagi biasanya Pacar Virtual di desain sangat sempurna dalam menanggapi segala curhat sampai godaan.

Bukan Sekadar Hasrat, melainkan Kesepian

Banyak orang berasumsi bahwa penggunaan aplikasi AI girlfriend didorong oleh pencarian konten dewasa atau pemenuhan kebutuhan seksual semata. Namun, data survei justru menunjukkan hal yang berbeda terkait motivasi penggunanya:

  • 56.6% responden menyatakan alasan utama menggunakan AI companion adalah untuk mencari teman bicara atau mengurangi rasa kesepian.
  • 10.3% responden menyebutkan motif utama mereka adalah mencari afeksi, hubungan romantis, atau keintiman seksual.

Temuan ini memperrumit batasan perselingkuhan itu sendiri. Ketika seseorang berpaling ke AI, hal yang terbagi bukan sekadar fantasi fisik seperti pada pornografi konvensional, melainkan perhatian, curahan hati, dan ikatan emosional harian yang seharusnya menjadi bagian dari hubungan dunia nyata.

Pengguna AI Justru Menetapkan Standar Lebih Ketat

Temuan unik lain dari riset ini terletak pada perbedaan persepsi antara kelompok yang terbuka terhadap AI dan kelompok yang skeptis. Secara intuitif, orang yang menerima konsep hubungan AI diperkirakan akan lebih bersikap toleran, namun data menunjukkan dinamika sebaliknya:

  • Responden yang terbuka untuk memiliki perasaan romantis pada AI mencapai 73% dalam menyebut AI romance sebagai perselingkuhan.
  • Di sisi lain, pada kelompok yang merasa tidak akan pernah bisa jatuh cinta pada AI, hanya 41.2% yang menganggapnya sebagai bentuk perselingkuhan.

Pola senada ditemukan pada tingkat pengalaman pengguna. Pengguna aktif aplikasi AI companion menilai perilaku ini sebagai perselingkuhan hingga mencapai 80.6%, dibandingkan dengan non-pengguna yang berada di angka 44%. Ketika seseorang memahami bahwa interaksi dengan AI dapat terasa sangat nyata secara emosional, batasan antara nyata dan artifisial menjadi mengabur, sehingga memicu standar moral yang justru jauh lebih ketat.

Perkembangan teknologi yang kian pesat memaksa setiap pasangan untuk mendefinisikan ulang arti kesetiaan. Di tengah makin fasihnya kecerdasan buatan dalam menirukan empati, pembicaraan mengenai batasan penggunaan AI dalam hubungan pribadi tampaknya akan menjadi topik krusial yang perlu disepakati bersama.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: