Depan Pemimpin Kota Dunia, Pramono Anung Pamer Program Pilah Sampah Jakarta

Jumat 25-09-2026,16:41 WIB
Reporter: Cahyono |
Depan Pemimpin Kota Dunia, Pramono Anung Pamer Program Pilah Sampah Jakarta

Gubernur DKI Pramono Anung menjadi pembicara dalam Heat Roundtable di New York, Amerika Serikat pada Minggu, 20 September 2026.-ist-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan jika saat ini Jakarta tengah memperkuat pengolahan sampah melalui program Pilah Sampah dari Sumber.

Hal ini untuk menangani persoalan sampah di Jakarta yang setiap hari menghasilkan sekitar 9.000 ton.

Untuk diketahui, Pramono menjadi pembicara utama dalam Heat Roundtable di New York, Amerika Serikat pada Minggu, 20 September 2026.

BACA JUGA:Pemprov DKI Jakarta Targetkan Jalur MRT Bartambah Jadi 46,5 KM pada 2034

Forum ini mempertemukan para pemimpin kota dunia untuk bertukar pengalaman mengenai tantangan panas perkotaan dan ketahanan iklim.

"Jakarta memperkuat pengelolaan sampah. Dengan produksi sekitar 9.000 ton sampah per hari, Pemprov DKI mengubah pendekatan dari sekadar kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah," katanya melalui keterangan tertulis pada Jumat, 25 September 2026.

Sejak 1 Agustus 2026, sambung Pramono, Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang hanya menerima sampah residu. 

Sementara itu, pemilahan dan pengolahan sampah didorong dilakukan sejak dari sumber.

Jakarta juga mengembangkan fasilitas waste-to-energy (WTE) bersama pemerintah pusat. 

Dua fasilitas tersebut diarahkan untuk mengolah sampah menjadi energi sekaligus mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.

"Pemprov DKI turut memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Gerakan Pilah Sampah dan kegiatan daur ulang," ucaphya.

BACA JUGA:Gubernur Pramono Ungkap Strategi Aksi Iklim Jakarta di Heat Roundtable New York

Gubernur Pramono lebih lanjut mengatakan, ketahanan iklim tidak hanya dibangun melalui proyek berskala besar, tetapi juga melalui perubahan cara kota salah satunya dalam mengelola sampah.

“Kita tidak boleh melihat aksi iklim sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan masyarakat. Ukurannya sederhana: apakah udara menjadi lebih bersih, perjalanan menjadi lebih mudah, ruang publik menjadi lebih baik, dan lingkungan menjadi lebih sehat,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: