Saya Tidak Lulus SMA (Seri 2)
Waktu pertama tiba di rumah John dan Chris Mohn, saya ditanya umur berapa dan kelas berapa. Saya bilang Juli itu baru ultah ke-16. Seharusnya masuk kelas 10 alias sophomore. -dok disway-
Padahal, saya satu-satunya anak Asia di radius 150 km. Mungkin lebih. Bahkan, di SMA saya, anak kulit hitam juga hanya satu. Semua lainnya kulit putih. Kebanyakan orang Kansas sejarahnya adalah keturunan Jerman atau Rusia. Termasuk John Mohn. Jadi kulitnya putih banget, hidungnya runcing, dan rambutnya banyak yang pirang. Sebagian lagi keturunan Irlandia, seperti Chris Mohn.
Karena itu, sampai hari ini, saya selalu menegaskan reputasi orang Kansas sebagai orang yang ramah. Cerita Superman juga menegaskan itu. Ada alasan kenapa pesawat Kal-El/Clark Kent mendarat di tengah Kansas saat masih bayi. Dia bisa ditampung dan dibesarkan oleh orang tua angkat Kansas yang baik hati. Menjadikannya sosok berkekuatan super tapi memiliki hati yang sangat baik. Dan tidak berkata kotor!
Saya juga satu-satunya siswa muslim di sekolah. Semua di sekolah tahu betul itu. Mulai dari guru, siswa, sampai seluruh staf. Mereka sangat memperhatikan berbagai kebutuhan saya yang berbeda. Misalnya saat makan siang di kafetaria sekolah. Para koki selalu menyiapkan makanan khusus untuk saya yang tidak mengandung pork.
Menu makan siang di sekolah memang sangat komplet. Setiap anak mendapatkan porsi yang sama. Ada susu segar, buah, karbohidrat, protein, dan sedikit snack atau dessert. Semua dimasak dan disajikan secara fresh di sekolah. Tidak gratis. Tapi sangat murah. Waktu itu hanya USD 2 per orang. Sangat-sangat murah untuk ukuran Amerika.
Saat bulan puasa, satu sekolah tahu saya tidak makan di siang hari. Selama sebulan, mereka menjaga untuk tidak makan di depan saya. Saat jam makan siang, saya menyibukkan diri di kamar gelap, mencuci cetak film dan foto untuk koran sekolah atau Yearbook.
Keluarga John sendiri tidak makan pork selama setahun. Selama saya di sana. Bukan hanya saat bulan puasa.
Benar-benar toleransi 100 persen. Toleransi sepenuh hati.
Sampai hari ini saya masih takjub pada hal tersebut.
Sebagai siswa pertukaran, saya juga diminta untuk berbicara ke organisasi-organisasi masyarakat. Termasuk ke gereja-gereja. Untuk mengenalkan Indonesia, untuk mengenalkan dunia yang berbeda bagi masyarakat di Ellinwood dan sekitarnya.
Ingat, ini zaman belum ada internet. Belum ada handphone.
Zaman di saat menelepon ke Indonesia ongkosnya USD 2 per menit!
John mengajari saya dasar-dasar public speaking. Bagaimana mendapatkan perhatian orang di awal penampilan. Senjata pertama adalah cara berdandan. Kebetulan saya membawa baju ala Cak Suroboyo/Jawa Timuran. Lengkap dengan beskap dan udeng. Itu yang saya pakai setiap kali diundang jadi pembicara.
Alat penarik perhatian lain: John membantu saya menyiapkan print peta Amerika dan Indonesia dalam skala yang sama. Untuk membantu memberi gambaran, bahwa ukuran dua negara hampir sama. Bedanya, yang satu daratan semua, yang satu banyak lautannya.
Kemudian muncul alat penarik perhatian utama: Kalimat-kalimat pembuka. John mengajarkan saya untuk selalu menyampaikan pembuka seperti ini:
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: