Saham SEMA dan Proyek Data Center CGK5-CGK7, Laba 2027 Diproyeksi Rp200 Miliar
Saham SEMA Bidik Penjualan Rp2 Triliun, Laba 2027 Diproyeksi Rp200 Miliar---Dok. Istimewa
“Dengan mempertimbangkan data pembanding industri data center serta ruang lingkup pekerjaan SEMA, potensi penjualan yang dapat diperoleh perseroan dari proyek tersebut dapat mencapai sekitar Rp2 triliun,” katanya.
SEMA sendiri menyertakan sejumlah data industri sebagai gambaran mengenai skala fasilitas data center.
Dalam lampiran keterbukaan informasi, perseroan mencantumkan kapasitas daya TI beberapa fasilitas, yakni DCI E2 Surabaya sebesar 9 MW, STT Jakarta 1 sebesar 18 MW, DCI JK6 Cibitung sebesar 36 MW, dan NTT Jakarta 3 sebesar 45,6 MW.
Perseroan juga menggunakan biaya konstruksi sekitar US$6,6 juta hingga US$11,2 juta per MW sebagai benchmark berdasarkan kategori low, mid, dan high.
Berdasarkan perhitungan tersebut, SEMA memberikan ilustrasi untuk fasilitas hipotetis berkapasitas 50 MW. Estimasi biaya konstruksinya berada pada kisaran Rp5,90 triliun hingga Rp10,01 triliun, dengan nilai tengah sekitar Rp7,42 triliun.
Perhitungan tersebut menggunakan kurs JISDOR Rp17.877 per dolar AS pada 30 September 2026.
Namun, angka tersebut hanya merupakan ilustrasi berdasarkan benchmark industri. SEMA menegaskan perhitungan fasilitas hipotetis 50 MW tersebut bukan nilai investasi proyek CGK5 atau CGK7 dan bukan pula nilai kontrak SEMA.
Laba Bersih SEMA 2027 Diproyeksi Rp200 Miliar
Potensi pertumbuhan pendapatan tersebut kemudian menjadi perhatian dalam melihat prospek laba bersih SEMA pada 2027.
Christian memperkirakan laba bersih SEMA dapat mencapai sekitar Rp200 miliar apabila pelaksanaan kontrak berjalan sesuai ekspektasi dan perusahaan mampu menjaga margin pekerjaan.
“Jika realisasi kontrak berjalan sesuai ekspektasi dan perseroan mampu mempertahankan tingkat margin yang memadai, laba bersih SEMA berpotensi meningkat signifikan dan mencapai sekitar Rp200 miliar pada 2027,” katanya.
Menurut Christian, besarnya nilai penjualan bukan satu-satunya faktor yang akan menentukan pertumbuhan laba.
Margin yang diperoleh dari kontrak serta kemampuan perusahaan mengendalikan biaya juga akan menjadi faktor penting. Selain itu, waktu pengakuan pendapatan dan kebutuhan modal kerja dapat memengaruhi besarnya kontribusi proyek terhadap laba bersih SEMA.
“Yang menjadi kunci bukan hanya besarnya penjualan, tetapi juga margin kontrak dan pengendalian biaya. Selain itu, timing pengakuan pendapatan dan kebutuhan modal kerja akan menentukan seberapa besar dampaknya terhadap laba bersih,” ujar Christian.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: