Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4-Habis)

Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4-Habis)

Junior college memberi kesempatan untuk siapa saja meraih pendidikan lebih tinggi, mengejar kehidupan lebih baik.-dok disway-

Saya senang sekali setiap kali masuk ke gedung fakultas bisnis. Karena di dinding selalu terpampang nama-nama anak yang masuk "Dean's List" atau "Honor Roll". Nama "Azrul Ananda" selalu ada di situ.

Saya tidak pernah lapor orang tua nilai saya berapa. Orang tua, terus terang, juga tidak pernah tanya nilai saya berapa. Wkwkwk. Yang penting lulus.

Tempat wisuda juga sangat berarti buat saya. Yaitu di Arco Arena, gedung basket kandang tim NBA, Sacramento Kings. Gedung itu sudah diratakan dengan tanah pada 2016, digantikan dengan stadion baru yang lebih megah di pusat kota. Namun, pada 1999, itu merupakan salah satu arena NBA paling kondang.

Ketika datang untuk wisuda itu, Abah saya agak terkejut. Saya dapat wisuda barisan terdepan, dengan tali tambahan mengalungi leher dan toga saya. Dia tidak menyangka anaknya lulus Cum Laude. Saking bangganya, dia sempat menulis soal itu di koran yang waktu itu dia pimpin.

 Sementara ibu saya hanya ngomel melihat dandanan wisuda saya. Di balik toga, saya mengenakan jins bolong-bolong dan sepatu skate butut. Saya jelaskan ke ibu, kalau celana dan sepatu itu punya arti penting. Karena itulah celana dan sepatu yang selalu saya pakai waktu kerja di kafetaria.

Celana dan sepatu yang digunakan untuk mengelap meja, mencuci piring, bahkan pernah ikut lompat masuk kontainer pembuangan sampah untuk mengambil bak sampah yang terjatuh.

 Saya juga bilang ke ibu: Masih beruntung saya pakai baju. Itu di sana ada wisudawan yang telanjang di balik toganya!

 Dan yang membuat saya super bahagia, di hari wisuda itu orang tua saya datang lengkap. Selain Abah dan Ibu, ada pula John dan Chris Mohn. Abah saya sampai bercanda: "Saya ini bingung, bapak kamu yang asli itu yang mana..."

Malam itu, setelah acara makan malam, Abah saya menyampaikan ucapan terima kasih yang memorable banget. "Terima kasih kamu selama ini tidak pernah merepotkan Abah. Ada banyak teman Abah yang punya jabatan tinggi, termasuk menteri, yang harus repot ke Amerika karena anaknya bermasalah", tuturnya.

"Terima kasih karena kamu juga telah memenuhi tiga hal penting. Satu, lulus kuliah on time. Dua, tidak masuk penjara. Tiga, tidak menghamili anak orang", tambahnya.

Wkwkwkwk...

Sekarang, lewat tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih balasan. "Abah, terima kasih sudah bekerja keras untuk memastikan anak-anaknya punya masa depan. Terima kasih karena Abah juga tidak pernah rewel merepotkan anaknya selama kuliah. Ada banyak teman saya yang terlalu sering diteleponi orang tuanya, sampai membuat mereka merasa terganggu. Terima kasih karena hampir tidak pernah mengganggu saya, sehingga saya bisa menjadi saya seperti yang saya inginkan sendiri..."

***

Sedikit bocoran: Ikut wisuda belum berarti benar-benar lulus. Sejumlah mahasiswa yang ikut acara wisuda bersama saya sebenarnya masih punya "hutang" kredit yang harus dituntaskan. Baru ketika sisa kelas itu diselesaikan mereka bisa menerima ijazah/diploma resminya. Kampus punya kelonggaran kebijakan soal itu.

Tapi jangan khawatir. Ijazah saya sah. Ada tanda tangan gubernur California kala itu, Gray Davis.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: