Gibran, He Is Still the Man

Gibran, He Is Still the Man

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si, Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-

Hari ini ia Wakil Presiden. Besok sejarah akan menilai apa yang ia kerjakan. Bukan berdasarkan meme. Bukan berdasarkan komentar netizen. Bukan berdasarkan label “planga-plongo”. Bukan pula berdasarkan jumlah orang yang membencinya.

Tetapi berdasarkan kinerja, integritas, keberanian mengambil keputusan, kemampuan berkomunikasi, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Politik Jangan Kehilangan Akal Sehat

Kita boleh tidak suka kepada Gibran. Itu hak politik. Kita boleh mengkritiknya. Itu bagian dari demokrasi. Tetapi jangan sampai ketidaksukaan membuat kita kehilangan akal sehat.

Begitu pula sebaliknya, jangan karena kita menyukai Gibran, lalu semua tindakannya kita anggap benar. Jangan membela secara membabi buta, tetapi jangan pula menuduh secara membabi buta.

BACA JUGA:Bohemian Rhapsody: Seni Menjadi Manusia

Inilah kedewasaan demokrasi. Gibran harus diberi kesempatan untuk membuktikan dirinya. Kalau ia gagal, kritiklah. Kalau ia berhasil, akuilah.

Jangan karena kita tidak suka kepada seseorang, lalu keberhasilannya dianggap kebetulan dan kesalahannya dianggap bukti ketidakmampuan.

Itu bukan kritik. Itu namanya sudah punya kesimpulan sebelum membaca bukunya. Dan kalau politik sudah seperti itu, kita bukan lagi sedang mencari kebenaran. Kita hanya sedang mencari pembenaran.

He Is Still the Man

Mungkin judul lama itu sekarang perlu sedikit diperpanjang: Gibran, He Is Still the Man. Bukan karena ia sudah menjadi pemimpin sempurna. Bukan karena ia bebas dari kekurangan.

BACA JUGA:Penundaisme Maximus

Tetapi karena ia telah menunjukkan satu hal yang penting dalam politik: ia tetap berdiri ketika banyak orang berharap ia jatuh. Ia tidak perlu membalas semua suara. Ia tidak perlu menjawab semua ejekan. Ia tidak perlu setiap hari membuktikan bahwa dirinya hebat. Waktu akan mengujinya.

Sejarah akan mencatatnya. Dan rakyat akan memberikan penilaiannya. Barangkali itulah ujian terberat seorang pemimpin muda. Bukan menghadapi lawan yang terang-terangan menyerang.

Tetapi menghadapi dunia yang terus-menerus ingin melihatnya kehilangan kesabaran. Kalau ia mampu tetap tenang, tetap santun, tetap bekerja, dan belajar dari kritik, maka semua kegaduhan hari ini bisa menjadi sekolah politik yang sangat berharga baginya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait