Gibran, He Is Still the Man

Gibran, He Is Still the Man

Prof Dr Ahmad Sihabudin M.Si, Guru Besar Komunikasi Lintas Budaya FISIP Untirta-dok. Disway-

Ini penting.

Saya tidak mengatakan bahwa Gibran harus kebal kritik. Sama sekali tidak.

BACA JUGA:Nyanyian Debu di Bawah Langit Az-Zariyat

Pejabat publik bukan manusia yang hidup di ruang kedap suara. Ia harus siap diperiksa, dikritik, bahkan diperdebatkan.

Tetapi ada satu hal yang juga perlu kita ingat: menuduh tidak sama dengan membuktikan.

Dalam hukum, yang menentukan bukan siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang mampu menghadirkan bukti.

Menariknya lagi, polemik ijazah ini telah menghasilkan berbagai babak. Bahkan pada Maret 2026, ahli digital forensic, menyatakan setelah melakukan pengujian bahwa ijazah Gibran asli.

Tetapi rupanya dalam politik, satu jawaban kadang tidak otomatis mengakhiri pertanyaan. Mungkin karena sebagian orang memang tidak sedang mencari jawaban. Mereka sedang mencari kesalahan.

Ini yang perlu kita renungkan. Apakah kita sedang mencari kebenaran, atau sedang mencari kemenangan?

BACA JUGA:At-Takatsur di Negeri Pamer

Sebab kalau tujuan kita benar-benar mencari kebenaran, kita seharusnya siap menerima hasil apa pun yang lahir dari proses pembuktian.

Kalau hasilnya tidak sesuai dengan prasangka kita, ya kita harus berani berkata: “Baiklah, saya keliru.” Kalimat sederhana ini tampaknya semakin mahal dalam politik.

Gibran dan Seni Tidak Terprovokasi

Menariknya dari Gibran justru bukan hanya apa yang dikatakannya, tetapi bagaimana ia menghadapi serangan.

Ia relatif tenang. Tidak semua serangan dijawab. Tidak semua sindiran dibalas. Tidak semua tuduhan harus dibawa ke media sosial.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait