Kacamata Mata

Kacamata Mata

Ketua Umum PBNU Gus Kikin mencoba kacamata spesial Ye Su (Konjen Tiongkok untuk Jatim, Jateng, DIY, Maluku, dan Maluku Utara).--

Kami, satu meja, bergantian mencoba kacamata istimewa itu. Yang diminta mencoba pertama adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang baru: Gus Kikin (lihat foto). Lalu pengusaha besar pemilik grup Maspion, Alim Markus. Pindah ke Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak. Pindah lagi ke istri Wagub, artis yang 5i itu. Masih berpindah ke satu lagi: Indah Kurnia, anggota DPR dari PDI-Perjuangan dapil Surabaya. Terakhir saya.

Awalnya kami tidak tahu kalau kacamata yang dipakai Ye Su, konsul jenderal Tiongkok untuk Jatim, Jateng, DIY, Maluku, dan Maluku Utara itu, istimewa. Terlihat seperti kacamata biasa. Kami baru tahu setelah Ye Su turun dari podium –usai memberi sambutan ulang tahun ke-75 RRT.

Begitu duduk kembali di kursinya ia berkata: "Saya tadi pakai ini. Sedikit agak besar". Ye Su berkata begitu sambil melepas kacamata itu. Sambil menikmati hidangan hotel Vasa Surabaya saya memperhatikan penjelasan Ye Su tentang kacamata itu. Waktu berpidato ia memang tidak terlihat membaca teks. Ia memang terlihat tidak membawa teks.

Teks pidato yang dibaca Ye Su ternyata ada di kacanya kacamata itu. Ia bisa membaca teks pidato langsung di kacamata itu. Saya baru percaya setelah dapat giliran mencobanya.

Begitu saya mengenakannya langsung terlihat baris-baris kalimat pidatonya. Meski kaca di kacamata itu sangat dekat di mata ternyata teksnya terlihat seperti jauh di depan sana. Tidak ada bedanya dengan kita membaca teks film di layar lebar. Bahkan terlihat lebih jelas.


Indah Kurnia dan Arumi Bachsin (istri Wagub Jatim Emil Dardak) saat mencoba kacamata Konjen Tiongkok Ye Su. Saya pun ikut mencobanya.--

Saya jadi ingat mobil listrik BYD yang jenis sedan. Waktu kita mengemudikannya kita bisa melihat angka kecepatan kita jauh di depan sana. Bukan di speedometer yang di dashboard.

Angka kecepatan itu terlihat seperti sekitar 10 meter di depan mobil. Kita tidak perlu menunduk ke speedometer untuk mengecek kecepatan. Dengan tanpa perlu melihat dashboard wajah, mata kita, tetap bisa fokus ke jalan raya. Mungkin seperti itu juga kacamata istimewa Ye Su tadi.

Maka era teleprompter segera lewat. Seorang presiden, termasuk presiden direktur perusahaan, tidak perlu lagi membaca layar. Pun penyiar TV. Bahkan paparan materi rapat tidak perlu lagi ditayangkan di layar. Cukup masing-masing peserta rapat mengenakan kacamata jenis itu.

Tentu kacamata seperti itu bukan baru. Sudah banyak negara yang memproduksinya. Negara pertama adalah Amerika. Lalu Jepang. Tapi tidak segera memasyarakat: mahal. Kurang praktis. Itu tahun 2012–2013.

Anda pun sudah bisa menebak Tiongkoklah yang kemudian mengambil alih semuanya. Menyederhanakannya. Membuatnya lebih praktis. Dan yang utama: murah. Seperti yang saya coba itu adalah produk Tiongkok.

Saya tidak bertanya mereknya. Juga tidak sempat mengamati –karena harus bergantian mencoba. Hampir pasti kacamata itu disebut smart glasses teleprompter. Merek yang paling terkenal adalah Rokid, bikinan Hangzhou. Ada juga merek Even G2.

Tiongkok memang bukan yang pertama. Tapi yang bentuknya sangat mirip kacamata adalah buatan Tiongkok. Sampai saya pun tidak menduga kalau yang dipakai Konsul Ye Su adalah smart glasses teleprompter. Kita semua baru tahu setelah Ye Su memberi tahu kami dengan cara melepas kacamata diplomasinya --untuk kita coba bergantian.

Selamat tinggal teleprompter tradisional. Para penyiar TV pun bisa ganti ke smart glasses teleprompter. Bagi investor itu berarti penghematan investasi bikin stasiun televisi. Siapa tahu kelak Tiongkok juga memproduksi kacamata untuk melihat berapa isi dompet para perusuh Disway. Atau isi tas yang dibagi-bagi dalam sebuah Muktamar. Atau yang bisa memproduksi suara gemuruh tepuk tangan untuk menambah semangat yang sedang berpidato. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 10 Oktober 2026: Weda Bay

Momon Atun

Pernah ke weda saya, ternyata buat ke weda harus ke ternate dulu, bandaranya disana, lanjut mobil ke pelabuhan boat, lanjut boat ke pulau halmahera, dari situ lanjut mobil lagi sampai beberapa jam, sampai di daerah weda tercengang saya, dari daerah desa desa plosok dimana sapi dan kelapa masi berkeliaran masuk daerah industri macam cilegon, pabriknya besar sekali, axa pula pelabuhan yath seperti di film film, ada bangunan seperti hotel bintang 5nya. Hanya saja sudah beraura china drpda Indonesia.. Mau masuk saja susahnya bukan main.. Bingung mau sedih ap bahagia.. Entah berapa ratus triliun di tanam di sana.. Nikel sebesar batako saja beratnya bukan main, itu weda bisa hasilkan nikel sebesar gajah bengkak di kali 100.000 hitung sendiri beratnya anda lebih tahu apalagi harganya... Bisa lunas mungkin hutang negara kalau tradisi BUMN selalu rugi gk ada.. Haha

Turrachman Rachman

Siapa tahu diam-diam Presiden Jokowi ngebet ingin ke Weda Bay --melihat hasil perjuangannya melakukan hilirisasi di mana-mana. Hehe kalimat "nakal" yang sering dimunculkan Abah Di. Padahal orangnya santai tidak ngebet. Kan orang solo bukan orang timur yang makannya banyak.....

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KEMARIN, KAPOLRI JADI KHATIB SHOLAT JUMAT.. Kemarin, Jumat, 9 Oktober 2026, Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto menjadi khatib salat Jumat di Masjid Al-Ikhlas, Mabes Polri. Isi khotbahnya sederhana. 1) Tentang kerendahan hati. 2) Jangan sombong. 3) Jangan merasa lebih hebat daripada orang lain. 4) Jabatan, pangkat, dan kekuasaan, kata Suyudi, adalah amanah dari Sang Pencipta. 5) Harus disyukuri dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia juga mengingatkan, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tanggung jawabnya. Bukan hanya dalam pekerjaan. Tetapi juga dalam memperlakukan sesama, membantu yang membutuhkan, dan memberi teladan. Pesan itu tentu bukan hanya untuk anggota Polri. Siapa pun yang memegang jabatan perlu mengingatnya. Sebab, jabatan ada masanya. Pangkat bisa berakhir. Kekuasaan pun bisa berganti tangan. Yang mestinya tetap tinggal adalah cara seseorang memperlakukan sesamanya. Jabatan bisa membuat orang dihormati. Kekuasaan bisa membuat orang disegani. Tapi jangan sampai, ketika jabatan sudah tak ada dan kekuasaan sudah lepas, tak ada lagi orang yang mau menghormati kita. Di situlah kelihatan: selama ini kita dihormati karena jabatan, atau memang karena akhlak.

Wilwa

Wow bisa produksi battery LFP. Lithium Ferrophospate. Padahal tak ada tambang lithium. Hmmm. Yang saya harapkan adalah suatu saat diproduksi Natrium Ferrophosphate / NFPP. CATL sudah bisa memproduksinya. Dan itu berarti pabrik di Weda Bay bisa memproduksinya bekerjasama dengan CATL atau company Tiongkok lainnya. Dan suatu saat kita menguasai teknologinya. Memanfaatkan natrium / sodium dan besi yang berlimpah di manapun di muka bumi. NFPP adalah batere yang tak mudah terbakar yang jauh lebih tak mudah terbakar dibandingkan LFP. High Safety. Harganya pun pasti jauh lebih murah. Juga lebih panjang umur baterenya. Long Lifespan. Kelemahannya adalah natrium jauh lebih berat ketimbang lithium plus Lower Energy Density dibandingkan LFP sehingga NFPP hanya cocok untuk mobil listrik jarak pendek hingga menengah. Namun kelemahan ini bisa ditutupi bila charging station tersedia dan tersebar di banyak lokasi. NFPP juga sangat cocok untuk power bank / energy storage untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau Angin dan bisa menunjang PLTS untuk rumah dan bisnis karena berat batere atau besarnya batere bukan problem.

Momon Atun

@wilma penemu bisa siapa saja, tapi yg memenfaatkan (menjadikan duit penemuanya) tidak sembarang orang.. China sibuk bikin pabrik, amerika sibuk perang, sinzu berkata "perang atau ekonomi pilih salah satu, tidak bisa keduanya -sepertiny bgt bunyinya

Beny Arifin

Senja kala BUMN karya. Nasib berbanding terbalik dengan BUMN karya yang satu persatu masuk ke lubang kubur BEI. Sebut saja WIKA, WSKT, ADHI dan PTPP. Yang terakhir ini karena gagal bayar bunga obligasi yang konon hanya belasan milyar. Diatas kertas punya kas 1 T lebih tapi aktual gagal bayar utang.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BATERAI DARI HALMAHERA DAN PELAJARAN EKONOMI SIRKULAR.. Saya membaca data empat jenis produk yang diekspor dari Weda Bay, dan mata saya langsung tertuju pada baterai LFP. Ini anomali yang menarik secara ilmiah. Lithium ferro fosfat dibuat dari lithium, besi, dan fosfat. Tiga-tiganya tidak ada di Halmahera. Tapi baterainya tetap lahir di sana. Logikanya sederhana: yang menentukan lokasi industri bukan lagi semata kedekatan bahan baku, melainkan ketersediaan infrastruktur pengolahan dan energi. Dalam kajian rantai pasok global, fenomena ini disebut aglomerasi industri. Weda Bay telah menjadi magnet. Fasilitas pengolahan nikel yang lengkap menarik industri baterai LFP untuk ikut menetap, meski bahan mentahnya harus diimpor. Ini bukan kebetulan, melainkan buah dari hilirisasi yang konsisten. Saya mencatat, nilai tambah sebuah komoditas tidak lagi ditentukan oleh isi perut bumi semata, tetapi oleh kemampuan mengolah dan mengintegrasikan. Namun ada catatan yang perlu direnungkan. Ketergantungan pada impor bahan baku LFP menunjukkan rantai pasok kita belum sepenuhnya mandiri. Hilirisasi nikel sudah berhasil, tetapi hilirisasi lithium dan fosfat masih pekerjaan rumah. Saya kira riset material baterai nasional harus segera diarahkan ke sana. Jangan sampai kita hanya menjadi tempat perakitan, bukan pencipta teknologi. Weda Bay adalah laboratorium besar. Mari belajar dari sana, bukan sekadar merayakan ekspornya.

Jokosp Sp

Presiden boleh bangga, sebaliknya daerah tidak banyak ikut meikmati. Sebab formula Dana Bagi Hasil (DBH) nikel saat ini masih berbasis pada ekstraksi hulu (iuran tetap dan royalti dari bijih nikel yang ditambang), bukan dari nilai tambah hasil pengolahan di smelter. DBH sumber alam minerba dibagi dua jalur: Iuran tetap (land-Rent). Pemerintah pusat 20%, Pemerintah provinsi (wilayah < 4 mil garis pantai 30%, Kapupaten/kota (wilayah <4 mil garis pantai 50%), Jika wilayah 4-12 mil provinsi dapat 20%. Iuran Produksi (Royalti): Pemerintah Pusat 20%, Daerah (Prov dan Kab/Kota 80%) yang masih dibagi: Prov 16%, Kab/Kota 32%, Kab/Kota perbatasan 12%, Kab/Kota pengolah smelter 8%. Kritik dan kelemahan formula saat ini: Paradigma Mulut Tambang vs Mulut Smelter: Pendapatan DBH dihitung dari penjualan bijih mentah dan royalti ekstraksi. Sementara keuntungan terbesar justru dari smelter (hilirisasi). Porsi 8% untuk Kab/Kota untuk kawasan smelter belum mencerminkan dampak sosial dan lingkungan yang diakibatkannya. Jadi harusnya Pak Presiden Prabowo memperbaiki masalah ketimpangan pendapatan daerah dari proses hilirisasi itu. Juga khusus buat Mr.Bahlil yang ganteng : Agar daerah bisa punya dana lebih buat membangun daerah yang telah menghasilkan tambang (Nikel, Timah, Batu Bara, Emas dan dari hasil bumi lainnya), jangan cuma meninggalkan lubang-lubang besar yang sangat miris dan tidak bisa diolah lagi.

Irary Sadar

Coba hitung pidatonya. Berapakali dia menyebut kata 'Saya'..?

Lagarenze 1301

Saya nonton live acara di Weda Bay itu. Prabowo dalam pidatonya menyebut setidaknya empat katakter orang Indonesia Timur. Saya lihat hadirin berkali-kali tersenyum semringah. Di antara mereka ada pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, yang juga berkali-kali kena shoot sedang tersenyum, terutama ketika Prabowo menyebut karakter keempat. Apa saja empat karakter yang disebut Prabowo? Pertama, makannya banyak. "Rasanya kalau saya ke Indonesia Timur, saya tambah semangat. Mungkinkah karena saya juga darahnya setengah Indonesia Timur," ujar Prabowo. Ia minta direksi Indonesia Weda Bay Industrial Park atau IWIB dan perusahaan di kawasan itu memahami bahwa jatah makan karyawannya harus lebih banyak dari yang lain. "Karena orang Indonesia Timur makannya banyak. Betul? Betul?" kata Prabowo yang disambut teriakan meriah. Kedua, pekerja keras. "Tapi, orang Indonesia Timur kerjanya keras," ujar Presiden. Ketiga, cepat emosi. "Orang Indonesia Timur, harus hati-hati juga. Mereka ini, cepat naik. Tapi, cepat turun lagi," lanjut Prabowo. Keempat, setia. "Dan, orang Indonesia Timur, setia. Kalau hatinya sudah dipegang, dia akan setia sampai mati. Betul? Betul?" kata Presiden, lalu menunjuk dirinya sendiri, "Ini orang setengah Indonesia Timur soalnya yang bicara."

heru santoso

Kalau saya jadi Giran, saya buat program ambisius: mengirim sejuta anak Indonesia kuliah ke luar negeri sebelum 2029. Kan saya sudah berpengalaman dengan jalur pathway. Tinggal bikin yayasan superholding pendidikan, lalu mengundang para oligarki dan filantropis membuka dompet. Toh, investasi sumber daya manusia jauh lebih mulia daripada sekadar investasi tambang. Anak-anak Indonesia harus diberi akses ke kampus terbaik dunia. Setelah lulus, tidak perlu buru-buru pulang. Silakan berkarier di perusahaan multinasional, membangun kompetensi, memperluas jaringan internasional, dan belajar bagaimana negara maju dikelola. Jangan pula tergesa-gesa masuk politik. Biarkan mereka menjadi ilmuwan, profesional, pengusaha, dan pemimpin global. Lalu, pada 2039, ketika pengalaman dan jejaring mereka sudah matang, itulah saatnya pulang untuk membangun Indonesia. Dan tentu saja, membantu saya memenangkan periode ketiga. Ups! Bukankah konstitusi membatasi presiden maksimal dua periode? Ah, tenang saja. Paman akan bisa sekali lagi menembus batas konstitusi.

Irary Sadar

Yang di Weda Bay atau yang di Jakarta boleh berbahagia. Tapi Jangan lupakan Kami yang di Kalimantan. Juga yang di Sumatera. Atau Pulau yang dekat dengan Sumatera. Selama sebulan ini merasa seperti tinggal hidup di Cameron Highland atau berada di Genting Highland. Udara berkabut dengan sinar matahari yang menusuk lembut. Bedanya kalau disana kabutnya dingin dan segar sementara disini kabut ini bikin sesak nafas dan gerah. Bikin ISPA. Bagaimana mereka yang tinggal di Kalimantan? Entahlah... Sudah 3 bulan ini berlangsung. Saya jadi bertanya-tanya, seriuskah mereka ini memadamkan api karhula itu?

Johannes Kitono

Weda Jodoh. Presiden Duda ketemu Gubernur Janda cantik di Weba. Pasti undang banyak cerita. Presidennya banyak omon omon terkadang keseleo lidah. Matematika anak TK saja bisa salah. Sebaliknya Gubernur Janda cantik ini disegani staff dan rakyatnya. Pidatonya berkelas dan rajin kunjungi rakyatnya. Bisakah Wantimpres yang 26 anggota menjodohkan mereka. Kalaupun gagal Rocky Gerung pasti berkelit. Bahwa itu bukan Tupoksi mereka yang jadi juru bisik Presiden. " Ini Gubernur janda cantik dan pintar. Kalau bisa dapat pasti bisa menang di Pemilu 2029 ", bisikan Wantimpres yang bukan GR. Presiden Duda ketemu Gubernur Janda Cantik di Weba. Pasti ada episode lanjutannya. Seperti Kawin Politik dizaman beheula. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

yea aina

Memperjuangkan hilirisasi habis-habisan, tapi abai deindustrilisasi dini merebak seperti karhutla. Sia-sia belaka. Hilirisasi hanya akan menambah pundi-pundi cadangan devisa, tapi belum bisa langsung menambah pendapatan APBN. Ada harga mahal yang harus dibayar: pembebasan pph hingga 20 tahun, bagi investor smelter. Dampak deindustrilisasi dini, paling mengerikan bagi dompet korban PHK. Jangan heran kalau jumlah pengangguran dan pekerja informal makin membludak. Bukan karena dukungan pemerintah yang masif memberdayakan UMKM lho. Hilirisasi itu seperti jalan pintas menjadi OKB, tanpa peduli tetangga sekitar rumah alih profesi sekarang pada jualan anggur. Nganggur.

yea aina

Pidato yang dipendekkan dari biasanya, bisa menghindarkan bahaya. Paling tidak bahaya bercampurnya isi pidato dengan abuleke dan omon-omon. Menyimak pidato bisa sedikit "menghibur" audiens dengan mimpi indah, program hebat atau cita-cita setinggi langit. Tapi selesai mendengar pidato, jangan lupa sempatkan mengintip isi dompet Anda. Daripada pidato panjang kali lebar, lebih baik memperluas lapangan kerja bagi rakyat. Agar isi dompet mereka, cukup membiayai penghidupan diri dan keluarganya. Karena harga kebutuhan pokok sekarang berasa serba mahal, yang masih murah hanya harga diri para koruptor: wani piro?

Bahtiar HS

Pak Presiden Prabowo kan seneng omon-omon... Eh pidato. Sebenarnya itu bisa digunakan sbg media evaluasi terhadap pidato2 sebelumnya yg bernuansa kurang positif. Misalnya pernah pas di sebuah pidato, beliau bertanya pada massa yg hadir: "Saya bertanya kepada saudara-saudara, MBG bermanfaat atau tidak?" Harapannya kan tentu dijawab BERMANFAAT. Tp waktu itu, mungkin karena dibiarkan tanpa koordinasi, massa menjawab dg jujur: TIDAAAKK! Lha coba di kesempatan lain, pertanyaan yg sama diajukan ke massa yg hadir. Jawabannya msh TIDAK atau sdh BERMANFAAT. Atau bs dihitung jumlah atau persentasenya. Dg demikian, daei pidato ke pidato bs dilihat grafiknya naik atau turun. Daripada ngomong tak tentu arah, seperti: Orang Indonesia Timur makannya banyak. Benaaarrr? Terus dijawab sama massa: Benaarr!! Lha kayak gitu itu apa gunanya? Jangan sampai para pemimpin berpidato, tetapi isinya abuleke semua. Kalau tidak diperbaiki, dimulai dari Presiden, maka jangan salahkan jika nanti keluar perkataan arif bijaksana: semua akan omon-omon pada waktunya. Hehehe

Juve Zhang

Kalau hilirisasi Batubara jangan ini membunuh diri sendiri.... cadangan batubara Indonesia sedikit padahal itu andalan energi kedepannya....kalau hilirisasi nikel bagus dan itu cadangan nikel banyak tak masalah tapi Batubara keliru kalau di buat jadi minyak bumi sangat boros sangat mahal dan cadangan batubara hanya sedikit 31 milyar Ton saja.... Australia ada 150 milyar ton Tiongkok ada 167 milyar ton... Rusia 180 milyar ton Amerika 260 milyar Ton....Rusia paling kaya Gas no.1 dunia..... uranium no.1 dunia... Minyak Bumi no.5 dunia... Batubara no.2 dunia....jadi kedepannya presiden 2029 yg wajah baru La Sultan Petruk wa la raja Gareng seharusnya mulai kurangi ekspor batubara ke tahap lebih sedikit sampai akhirnya tak ekspor sama sekali mungkin tahun 2035 stop total ekspor batubara....kalau tidak di stop ekspor anak cucu belajar pake petromak lagi kembali ke masa kecil para lansia sekarang yg kenyang baca pake petromak...

Liam Then

Tulisan Pak DI hari ini bikin suasa kebathinan terasa nano-nano.Akibatnya, susah mau komentar terkait isi artikel. Mau bangga susah,senang sulit,kritik juga tak nyaman. Entah mengapa. Karena itu saya buka AI, copy seluruh tulisan Pak DI, kemudian tanya kenapa suasana kebathinan saya campur aduk setelah baca tulisan hari ini. Oh ternyata panjang sekali ulasan Mas Ai. Selain itu, disertakan pula peta Maluku Utara. Saya asli tak terima Halmahera disebut pulau terpencil. Pasalnya sejak kecil Halmahera sudah spesial posisinya di benak saya, itu karena bentuknya yang unik mirip huruf K. Sekarang "estewe" alias paruh baya, saya tetap suka Halmahera. Apalagi setelah melihat gugusan pulau-pulau yang tersebar disekitarnya. Ternate, Tidore. Juga terlihat Pulau Obi, tempat rusuhwati Ima Lawaru, mengajar anak-anak di sana. Tapi status "terpencil" dari Pak DI, juga memantik pertanyaan, alasan apa Pak DI sebut terpencil. Dan secara literal "terpencil" itu apa artinya? Apakah hanya sekedar "jauh"?

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

@pak Juve.. PELOPOR YANG DATANG SEBELUM SIAPA PUN.. Pak Juve benar. Hua You bukan sekadar taipan. Ia datang saat orang lain masih menghitung risiko. Hilirisasi nikel dulu dianggap judi. Tak ada yang berani membuka smelter pertama. Kontraktor asing menunggu. Jepang menunggu. Korea menunggu. Hua You melangkah..!! Ini pola lama yang berulang. Dulu PLTU. Tak ada kontraktor Tiongkok yang berani. Lalu satu melangkah, semua ikut. Jepang masuk. Korea masuk. Sekarang smelter nikel menjamur di mana-mana. Weda Bay, Morowali, Obi. Dan pelopornya tetap satu nama. Secara ilmiah, ini fenomena first-mover advantage. Pelopor menanggung biaya risiko terbesar. Ia membuka jalan, membuktikan kelayakan, lalu arus modal mengikuti. Dalam ekonomi pembangunan, peran ini jarang diakui. Tapi tanpa mereka, kurva belajar tak pernah terjadi. Pemerintah kini berencana menghentikan smelter baru. Alasannya kelebihan kapasitas. Ironis. Pelopor yang membuka pintu justru melihat pintu itu hendak ditutup. Tapi sejarah mencatat satu hal. Yang berani mulai selalu punya tempat sendiri. Hua You bukan pemburu untung. Ia pembuka jalan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 85

  • yea aina
    yea aina
  • Udin Salemo
    Udin Salemo
    • yea aina
      yea aina
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
    • yea aina
      yea aina
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • heru santoso
    heru santoso
    • Hasyim Muhammad Abdul Haq
      Hasyim Muhammad Abdul Haq
    • heru santoso
      heru santoso
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Sugi
    Sugi
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • heru santoso
      heru santoso
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Leong Putu
    Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
    • Leong Putu
      Leong Putu
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Turrachman Rachman
    Turrachman Rachman
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
  • Hasyim Muhammad Abdul Haq
    Hasyim Muhammad Abdul Haq
  • Beny Arifin
    Beny Arifin
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
    • Kujang Amburadul
      Kujang Amburadul
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • Mpok Dipa
    Mpok Dipa
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
  • alasroban
    alasroban
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • sigit Dwi
    sigit Dwi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • riansyah harun
    riansyah harun
  • Ahmed Nurjubaedi
    Ahmed Nurjubaedi
  • DeniK
    DeniK
    • Achmad Faisol
      Achmad Faisol
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Achmad Faisol
    Achmad Faisol
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Bahtiar HS
    Bahtiar HS
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
    • djokoLodang
      djokoLodang
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Bahtiar HS
      Bahtiar HS
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • ra tepak pol
    ra tepak pol
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN