IHSG Jatuh ke Level 5.000an, Ini Sentimen yang Membayangi Pasar Saham
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terdampak pasar modal tanah air yang tertekan pada awal pekan ini-disway.id/Bianca Khairunnisa-
JAKARTA, DISWAY.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk pada penutupan perdagangan Senin, 12 Oktober 2026.
Setelah merosot pada pertengahan sesi, IHSG mengakhiri perdagangan di zona merah dengan penurunan tajam hingga jatuh ke bawah level 6.000.
IHSG ditutup melemah 157,61 poin atau 2,59 persen ke level 5.936,15.
Pelemahan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang turun 10,76 poin atau 1,79 persen ke level 590,90.
Penurunan tersebut terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap reformasi pasar modal Indonesia dan evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).
BACA JUGA:IHSG Memerah di Awal Pekan, Tertekan Reformasi Pasar Modal
Upaya Tata Kelola Jadi Pertimbangan Investor
Sebelumnya, PT Mirae Asset Sekuritas menilai sentimen pasar saham saat ini masih dipengaruhi oleh dampak reformasi pasar modal dan evaluasi MSCI.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan implementasi penyesuaian serta upaya peningkatan kualitas tata kelola akan memengaruhi persepsi investor terhadap tingkat investabilitas pasar saham Indonesia.
"Para pelaku pasar berpotensi tetap selektif dan mengurangi eksposur pada saham yang dinilai memiliki risiko likuiditas atau transparansi lebih tinggi," tutur Nafan kepada media secara daring, Senin, 12 Oktober 2026.
BACA JUGA:IHSG Naik 0,24% ke 6.108,10 di Pembukaan Senin
Meski demikian, Nafan menambahkan sejumlah faktor eksternal maupun domestik masih berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar modal Indonesia.
Salah satunya adalah rencana Danantara untuk memanfaatkan peluang investasi ketika pasar mengalami tekanan. Langkah tersebut dinilai berpotensi memberikan sentimen psikologis positif bagi investor.
"Danantara menyatakan terbuka untuk masuk ke pasar saham apabila valuasi dinilai menarik, dengan rencana tambahan investasi sekitar USD 1 miliar hingga akhir 2026, bergantung pada kondisi market," ujar Nafan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: