Nico Paz Bikin Malu MU, Setan Merah Malah Mengincarnya, Apa Kata Real Madrid?
Selebrasi gelandang Como, Nico Paz, usai mencetak gol pembuka dalam laga kontra Manchester United. Rabu, 21 Oktober 2026.-Marco Luzzani-Getty Images
Kemampuan bermain di belakang penyerang, mencari ruang di antara lini pertahanan lawan, serta menciptakan peluang membuat Paz menarik bagi klub yang membutuhkan kreativitas di sektor serang.
Bagi Manchester United, kehadiran pemain dengan karakter seperti Paz berpotensi menjadi bagian dari upaya memperkuat daya gedor. Meski begitu, ketertarikan terhadap seorang pemain belum tentu berujung pada kesepakatan transfer.
Upaya Manchester United mendatangkan Nico Paz diperkirakan tidak akan berjalan mudah. Pasalnya, Real Madrid disebut memiliki klausul pembelian kembali atau buy-back clause senilai 80 juta euro, yang dalam laporan tersebut diperkirakan setara dengan sekitar 67 juta poundsterling.
Klausul tersebut dapat memberi Real Madrid opsi untuk kembali merekrut Paz pada musim panas mendatang sesuai ketentuan yang berlaku. Situasi ini berpotensi memengaruhi rencana klub-klub lain yang ingin mendapatkan tanda tangan sang pemain.
Selain itu, Como dikabarkan ingin mempertahankan Paz untuk melanjutkan perkembangan tim. Sejak promosi ke Serie A pada musim 2023-2024, klub tersebut menunjukkan ambisi untuk bersaing di level yang lebih tinggi.
Paz menjadi salah satu pemain penting dalam perkembangan tersebut. Jika Como ingin mempertahankan fondasi skuadnya, melepas gelandang andalan itu tentu bukan keputusan sederhana.
Karena itu, Manchester United perlu mempertimbangkan berbagai faktor jika benar-benar ingin merekrutnya, mulai dari biaya transfer, persaingan dengan klub lain, hingga keinginan Como dan status klausul yang dimiliki Real Madrid.
Jika transfer Nico Paz menjadi bagian dari rencana jangka panjang, masa depan Michael Carrick justru menjadi persoalan yang lebih mendesak bagi Manchester United.
Kekalahan 1-4 dari Como disebut memperpanjang periode tanpa kemenangan Setan Merah menjadi tujuh pertandingan di semua kompetisi. Catatan tersebut dilaporkan sebagai periode terburuk klub sejak 2015.
Carrick bahkan menyebut hasil pertandingan itu sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima". Pernyataan tersebut menggambarkan kekecewaan terhadap penampilan tim yang gagal memberikan hasil sesuai harapan.
BACA JUGA:Aktor China Xu Kai Gelar Fan Meeting 13 November 2026 di Jakarta, Tiket Dijual Rp599 Ribu
Tekanan terhadap Carrick juga semakin menjadi perhatian setelah muncul laporan bahwa kapten Manchester United, Bruno Fernandes, mempertanyakan taktik yang digunakan dalam pertandingan tandang tersebut.
Meski demikian, kabar mengenai ketegangan di ruang ganti masih perlu dipahami sebagai laporan media, bukan bukti bahwa seluruh pemain kehilangan kepercayaan terhadap pelatih.
Dalam situasi seperti ini, manajemen Manchester United harus menilai lebih dari sekadar satu pertandingan. Konsistensi hasil, kualitas permainan, hubungan pelatih dengan pemain, serta kemampuan tim memenuhi target kompetisi dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah berikutnya.
Di tengah situasi tersebut, nama Antonio Conte kembali mencuat. Menurut laporan La Repubblica yang dikutip Football Italia, pembicaraan mengenai pelatih asal Italia itu berlanjut setelah Manchester United kalah dari Como.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: