Para pemimpin Israel telah berulang kali menyatakan niat mereka untuk menyerang Rafah, yang merupakan pusat utama bantuan kemanusiaan yang datang melalui perbatasan Mesir.
BACA JUGA:Polri Siapkan Zona Penyangga saat Arus Mudik, Urai Kemacetan di Jalan Tol
Pihak PBB juga telah memperingatkan akan terjadinya kelaparan di wilayah tersebut, di mana negara-negara Barat, termasuk sekutu Israel di Eropa, memberikan memperingatkan agar tidak menyerang Rafah.
Pada hari Senin lalu, Sullivan mengatakan bahwa warga Palestina di Rafah tidak punya tempat lain untuk pergi.
“Kota-kota besar lainnya di Gaza sebagian besar telah hancur, dan Israel belum memberikan kepada kita atau dunia rencana mengenai bagaimana atau ke mana mereka akan memindahkan warga sipil dengan aman,” jelasnya.
Sullivan juga menambahkan tentang penyediaan makanan serta menampung pengungsi serta menjamin akses terhadap hal-hal dasar seperti sanitasi.
BACA JUGA:Sebanyak 22 Pemain Timnas Indonesia Latihan Perdana, Termasuk Jay Idzes
BACA JUGA:Mangkir, Rian Mahendra Sempat Sesumbar Tak Sabar Dipanggil Penyidik Polda Metro: Pengin Banget!
Menurut Sullivan, Biden menegaskan kepada Netanyahu tentang komitmennya terhadap keamanan Israel meskipun mengkritik upaya perang Israel.
“Rencana militer tidak akan berhasil tanpa rencana kemanusiaan dan rencana politik yang terintegrasi,” kata Sullivan.
“Presiden kembali menyampaikan kepada perdana menteri hari ini bahwa kita mempunyai tujuan yang sama untuk mengalahkan Hamas, namun kami yakin kita memerlukan strategi yang berkelanjutan untuk mewujudkan hal tersebut,” tambahnya.
Netanyahu dan Biden secara teratur berbicara melalui telepon sejak 7 Oktober, namun kedua pemimpin tersebut dilaporkan memiliki hubungan yang buruk, meskipun presiden Amerika memberikan dukungan tanpa syarat kepada Israel.