“Jika Indonesia menolak mengubah kebijakan tarifnya, hubungan dengan AS bisa memburuk. Namun, jika tunduk, maka kerja sama jangka panjang dengan China dalam pembangunan infrastruktur dan teknologi berisiko terganggu,” ujar Freesca.
Dilema ini tentunya menuntut kecakapan diplomasi ekonomi Indonesia agar tetap dapat menjaga keseimbangan relasi dengan dua kekuatan besar dunia tersebut.
Di sisi lain, kenaikan harga produk impor AS sebagai imbas dari tarif balasan Indonesia juga membuka peluang munculnya gerakan cinta produk lokal.
BACA JUGA:4,4 Juta Kendaraan Lewati Tol Tangerang-Merak, Cikopo–Palimanan dan Jombang–Mojokerto
Konsumen domestik kemungkinan akan lebih memilih produk dalam negeri, beras lokal ketimbang gandum impor, atau tekstil lokal ketimbang produk luar.
Fenomena ini bisa menjadi momentum kebangkitan industri dalam negeri, asalkan didukung oleh kebijakan afirmatif seperti subsidi bahan baku, peningkatan kualitas produk, dan kemudahan.