WNI WNI
Dwi Sasetyaningtyas.--LinkedIn Dwi Sasetyaningtyas
Saya yakin Dwi Sasetyaningtyas tetap cinta Indonesia –setidaknya dalam hati kecilnyi. Bahkan sikapnyi yang seperti merendahkan Indonesia itu bisa jadi justru saking cintanyi pada tanah kelahirannyi.
Saya setuju dengan Anda: Dwi hanya kenes. Ingin top. Juga hanya karena ingin membanggakan anaknyi: diterima jadi warga negara maju, Inggris. Dia terlalu bangga kepada anak. Mayoritas kita begitu. Ngaku saja.
Saya sendiri mengakui itu. Termasuk bangga kepada menantu yang pilih naik sepeda 1.500 km demi sayang suami. Juga kepada cucu. Pun yang masih SMP. Apalagi ketika dia menjadi juara debat internasional di Amerika.
Bahkan ada orang tua yang sampai mengorbitkan anaknya jadi wapres.
Sikap saya soal Mbak Dwi seperti itu. Kebanggaan yang berlebih-lebih. Ingin pamer seperti yang dilakukan istri pejabat yang pamer tas Hermes mereka.
Mungkin Mbak Dwi tidak punya Hermes. Atau belum pernah naik sepeda 1.500 km. Tapi setiap orang wajib punya kebanggaan. Mungkin sudah begitu lama perjuangan ingin menjadi warga Inggris itu. Maka begitu umur si anak 18 tahun ia boleh memilih: mau jadi WNI atau WNI –yang belakang singkatan Warga Negara Inggris.
Berarti si anak lahir di Inggris. Mungkin anak itu lahir waktu Aryo Iwantoro, suami Dwi, kuliah di sana. Yakni setelah alumnus ITB itu meraih gelar doktor di Utrecht, Belanda. Sebagai bayi yang lahir di Inggris anak itu beruntung: punya hak jadi warga negara Inggris atau warga negara orang tuanya.
Sebagai orang pintar tentu mereka sudah berpikir panjang: mana yang lebih menjamin masa depan. Itu adalah hak semua orang: menentukan masa depan masing-masing.
Masalahnya dua orang itu, Aryo dan Dwi, adalah penerima beasiswa dari negara Indonesia. LPDP. Mereka terikat aturan: setelah lulus harus bagaimana.
Istri saya dulu juga penerima ikatan dinas: waktu sekolah di SPG –sekolah pendidikan guru–setingkat SMA di Samarinda. Begitu lulus dia wajib menjadi guru SD Inpres. Setidaknya selama dua tahun.
Dia dapat penempatan di SD Inpres di pedalaman Kaltim. Di desa yang semua penduduknya suku Dayak Benuaq dan Tunjung. Sebagai pacar, saya pernah menengok ke sana. Naik perahu klotok: dua hari satu malam. Menyusuri sungai Mahakam ke arah hulu.
Setelah dua tahun dia bebas: kami kawin. Dia berhenti –pindah mengajar suami.
Kita semua tidak tahu apakah Aryo dan Dwi masih terikat ikatan dinas seperti itu. Kalau sudah tidak, apakah mereka masih punya ''utang'' pengabdian.
Kalau mereka masih terikat ikatan dinas, Menkeu Purbaya benar dalam kemarahannya: mereka harus mengembalikan uang beasiswa itu. Soal pakai bunga atau tidak tergantung bunyi kontrak sebelum berangkat.
Tentu mereka sudah punya tabungan. Sudah begitu lama bergaji poundsterling. Pasti bisa mengembalikannya. Kalau pun tabungannya kurang bisa pinjam ke bank. Mudah sekali.
Saya punya teman di Singapura. Salah satu anak perempuannya punya problem yang sama. Dia dapat beasiswa dari negara. Setelah lulus dia dapat tawaran kerja di perusahaan besar. Dengan gaji besar. Dia lantas merengek ke orang tua: pinjam uang untuk mengembalikan seluruh beasiswa yang diterima.
Tidak ada heboh-heboh: itu karena si anak tidak mengunggah video yang merendahkan negaranyi. Yang heboh justru orang tuanyi. Anak itu tidak pernah pulang. Kerjanyi pindah-pindah dari Amerika ke Eropa. Sesekali tugas ke Asia tapi ke Shanghai atau Jakarta. Yang merasa kehilangan bukan negara tapi sang orang tua.
Indonesia juga tidak harus merasa kehilangan anak itu. Kita masih punya ratusan juta anak sepertinya. Kita tidak boleh membencinya. Kelak anak itu justru kita perlukan: jadi salah satu titik network Indonesia di Inggris.
Kita tidak hanya perlu satu titik. Kita perlu ribuan, jutaaan, titik network di negara maju. Itu aset bangsa juga. Hanya letak aset itu di luar negeri.
Mungkin Mbak Dwi hanya perlu minta maaf. Akui saja sikap itu justru demi cintanyi pada tanah tumpah darah. Dalam hati kecilnyi Mbak Dwi pasti ingin Indonesia maju seperti Inggris. Hanya saja kok nggak maju-maju. Lalu jengkel.
Kejengkelan itu sampai tersimpan di bawah sadarnyi. Maka ketika di satu pihak ingin menunjukkan kebanggaan, di lain pihak bawah sadarnyi muncul: kejengkelan itu.
Mungkin mem-black list Aryo dan Dwi berlebihan. Kalau pun tidak di-black list umur mereka sudah tidak memenuhi syarat jadi pegawai negeri.
Apakah kelak, 20 tahun lagi, mereka menyesal –seperti diprediksi Menkeu Purbaya– Anda masih bisa saksikan kenyataannya kelak. Berarti si anak, saat itu nanti, berusia 38 tahun.
Apakah benar Indonesia sudah begitu majunya 20 tahun lagi sehingga anak itu akan menyesal, juga bisa kita alami bersama. Itu berarti tahun 2046 –ketika Pak Purbaya masih berusia 81 tahun dan Pak Prabowo berusia 95 tahun.
Tidak sedikit saya bertemu orang Indonesia di luar negeri –di negara yang lebih maju. Sebagian sudah menjadi warga negara setempat. Sebagian lagi sebagai residen permanen. Umumnya mereka masih sangat Indonesia –tetapi kalau ditanya apakah mau kembali menjadi WNI jawab mereka tegas: tidak.
Tapi kalau ada pilihan lain mereka senang luar biasa: boleh punya dua kewarganegaraan. Salah satunya pasti Indonesia. Setidaknya mereka berharap bisa memegang visa Indonesia seumur hidup –golden visa.
Kalau begitu mengapa soal ini heboh luar biasa?
Heboh itu kadang ada baiknya: bisa menutupi heboh yang lainnya.(Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 24 Februari 2026: Kolegium MK
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
GUGATAN SEORANG DOSEN FILSAFAT.. Saya suka bagian ini: dokter yang mengajar filsafat ilmu. Lalu menggugat undang-undang. Rasionalitas tidak berhenti di ruang kuliah. Ia turun ke ruang sidang. Prof Johansyah seperti menguji satu dalil sederhana. Kalau ilmu harus objektif, maka lembaganya juga harus bebas. Kalau tidak, kebenaran bisa ikut dinas luar. Menarik pula soal pendidikan spesialis. Cepat itu menggoda. Gratis lebih menggoda lagi. Tapi kualitas jarang lahir dari jalan pintas. Bahkan kopi instan pun tetap butuh air panas. Ada keteguhan yang terasa klasik. Tidak menunggu ramai. Tidak menunggu organisasi. Bergerak sendiri. Membayar sendiri. Idealnya mahal. Tapi yang mahal justru ketika idealisme hilang. Di usia 86 tahun, beliau masih mengajar. Dan, tampaknya, masih memberi kuliah pada kita semua: bahwa profesi tanpa prinsip hanya seragam kerja. Saya membayangkan mahasiswa kedokteran mencatat satu kalimat penting. Ilmu bukan sekadar kompetensi. Ia juga keberanian. Tanpa itu, dokter bisa terampil. Tapi ilmu "bisa sakit".
Liam Then
Profesor Johan menang di MK. Dia pahlawan? Mungkin bagi sejawatnya. Tapi bagi sistem? Dia itu rem darurat yang macet. Dia bela University-based. Gayanya heroik. Jual mobil. Mata berdarah. Tapi intinya satu: gatekeeping. Dia ingin kunci pintu spesialis tetap di tangan dosen. Bukan menteri. Alasannya: kualitas. Takut standar turun jika pemerintah pegang. Ini logika "Slippery Slope". Tak ada data. Hanya ketakutan. Di Inggris dan Jerman, rumah sakit cetak dokter hebat. Berhasil. Kenapa di sini tidak boleh coba? Model Amerika yang dipuja Johan itu mahal. Eksklusif. Hasilnya? Dokter langka. Rakyat antre lama. Biaya asuransi selangit. Itu bukan solusi buat Indonesia. Itu cuma cara menjaga gengsi elit. Menkes mau Hospital-based. Agar dokter banyak. Agar residen digaji. Belum terbukti salah, sudah dijegal. Ini bukan soal ilmu. Ini soal kuasa. Johan jaga "kesucian" menara gading. Menkes kejar angka. Rakyat? Tetap saja susah cari dokter.
Thamrin Dahlan YPTD
Opersi Bibir Sumbing dilakukan Dokter Spesialis Plastik sudah ada sejak dahulu kala. Dokter Bedah pun Dokter Umum bisa melakukan ketika ada Bhakti Sosial Kesehatan pada moment Ulang Tahun Negara atau Ultah Polri. 1 Juli Dengan adanya Spesialis Plastik hasil operasi Bibir Sumbing menjadi semakin halus dalam artian hasil operasi tersebut tidak berbekas kasar. Trima kasih ucapan dari Orang Tua Kandung anaknya yang mendapat kepercayaan diri sempurna setelah di operasi. Operasi plastik jaman now lebih kepada mempercantik diri terutama bagi kaum hawa. membuat Hidung lebih mancung, Bibir bisa di Operasi plastik termasuk Pinggul dan lain sebagainya memenjadi sangat laris . Oprerasi bibir sumbing seharusnya gratis bagi rakyat tidak mampu. Termasuk operasi lain seperti talapak kaki terbalik dan kelainan pada anatomi tubuh yang tidak wajar. Salam hoirmat untuk Prof Dr Johansya Marjuki dan sejawat lainnya. Anda berhak mendapat bintang.bersebab merubah nasib rakyat setelah membantu ribuan operasi bibir sumbing rakyat. Lnjutkan. Salamsalaman
Liam Then
Jika Indonesia ikut gaya Amerika (Prof. Johan): Kita mungkin punya dokter yang "sangat elit" dan antrean yang terlihat lebih pendek bagi orang kaya di Jakarta, tapi rakyat di daerah tetap tidak akan pernah melihat dokter spesialis seumur hidup mereka karena suplainya dicekik. Jika Indonesia ikut gaya Inggris (Menkes): Kita akan punya ribuan dokter spesialis baru dengan cepat (karena hospital-based), tapi kita harus siap dengan manajemen antrean yang panjang karena semua orang sekarang bisa berobat gratis (BPJS). Kenyataan objektif : Amerika membuktikan bahwa menyerahkan kendali pada Kolegium hanya menciptakan dokter-dokter elit yang harganya mahal dan sulit diakses. Inggris membuktikan bahwa Negara bisa memproduksi dokter dalam jumlah cukup, tapi seringkali gagal mengelola operasional hariannya secara efisien. Nah, pilih mana? Bukankah sederhana? Atau pilih yang hybrid? Tapi apakah ada?
djokoLodang
-o-- Selingan -- Intermeso Ketua badan amal di sebuah kota kecil menelepon pengacara paling sukses dan terkemuka di kota itu. “Pak,” ia memulai dengan sopan, “Catatan kami menunjukkan bahwa dengan pendapatan lebih dari 5 miliar, Anda belum menyumbangkan satu rupiah pun untuk badan amal di kota kita ini. Bisakah Anda berbaik hati memberikan sesuatu untuk membantu keluarga yang kesulitan di komunitas Anda?” Pengacara itu terhenyak sejenak, lalu berbicara dengan tenang. “Apakah penelitian Anda juga menunjukkan bahwa ibu saya sedang menderita karena penyakit yang sudah lama dideritanya… dan tagihan medisnya lebih banyak daripada penghasilan rata-rata warga kota kita dalam setahun?” Penelepon itu tergagap. “Eh… tidak, Pak.” Pengacara itu melanjutkan. “Dan apakah catatan itu menunjukkan bahwa saudara laki-laki saya adalah veteran perang pembela negara yang cacat — dan terkurung di kursi roda?” Penelepon itu, yang kini merasa malu, mulai meminta maaf. “Dan apakah juga tercatat,” pengacara itu mendesak, “.. bahwa suami saudara perempuan saya tewas dalam kecelakaan mobil… meninggalkannya tanpa uang sepeser pun dengan tiga anak yang harus dibesarkan sendirian?” Ketua badan amal itu benar-benar terkejut. “Saya… saya tidak tahu, Pak,” katanya pelan. Pengacara itu meneruskan, “Kalau begitu… jika saya tidak memberi uang kepada mereka… mengapa saya harus memberi uang kepada Anda?” --0-
Tiga Pelita Berlian
Ada media online yg menulis "Indonesia Sukses mengimpor Pickup dari India' Mengimpor mobil kok disebut "sukses' .. Opo tumon? Seklangkong
Liam Then
Model pendidikan spesialis "Hospital Based" Menkes seperti ini 1.Calon dokter spesialis mendaftar ke Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan (Ditjen Nakes) Kemenkes. Sistem uji saring : 1. Uji Kompetensi Dasar: Tes medis standar nasional untuk memastikan Anda bukan dokter "kaleng-kaleng". 2.Psychometric Test: Karena Anda akan digaji dan bekerja di RS negara, kesehatan mental dan ketahanan stres menjadi syarat mutlak. Menkes tidak mau menggaji residen yang baru sebulan kerja sudah depresi karena beban RS. 3.Portofolio Pengabdian: Nilai plus diberikan kepada dokter yang sudah pernah mengabdi di daerah terpencil (DTPK). Ini adalah cara Menkes menyaring mereka yang punya jiwa "pelayan publik," bukan sekadar pencari gelar. Trus ada uji : Wawancara dirancang melibatkan panel multidisiplin, termasuk perwakilan dari Kemenkes dan pengelola RS. Tujuannya agar penilaiannya lebih objektif: "Apakah orang ini bisa bekerja di RS kami?" bukan "Apakah orang ini sopan pada saya?" Kalau lulus uji saring. Langsung ke RS Vertikal milik pemerintah yang sudah ditunjuk jadi penyelenggara. Waktu selama belajar : DIGAJI oleh negara. TIDAK BAYAR SPP atau UKT. Tidak bayar uang pangkal. Yang ditakutkan mungkin waktu uji masuk/saringnya, takutnya ada yang maen suap atau minta sogok. Tapi manfaatnya sudah jelas, calon dokter spesialis tidak perlu bayar uang pangkal, uang spp , malah di gaji oleh negara. Kebetulan, di Indonesia kita sini unik, calon dokter spesialis selama belajar nol gaji.
Bruce Wijaya
cita2 punya banyak dokter spesialis di indonesia akhirnya pupus dan kembali lagi ke badan superbodi IDI ....kembali lagi ke jaman batu , dimana berobat akan susah karena jumlah dokter spesialis terbatas sehingga harga mahal sesuai hukum suply demand (suply dokter spesialis sedikit tentu harganya mahal ) ....indo ga akan bisa seperti china yang mudah melakukan pengobatan dan harga terjangkau
Johannes Kitono
Menang tapi Setback. Kemenangan Prof Johansyah Marzoeki di MK. Tentu menggembirakan pada kolega dokter di IDI. Kembali berkuasa mutlak dan semakin otoriter. Disatu sisi cita cita Menkes memperbanyak Dr Spesialis sepertinya gagal dan harus mulai seperti dulu. Itu set back namanya. Prof Johansyah cs bangga bisa mengembalikan marwah IDI. Tapi akibatnya semakin banyak pasien yang berobat ke LN. Dan jumlah devisa tersebut Rp.170 T / tahun akan semakin bertambah. Dan kasihan dokter muda harus antri ambil prodi spesialisasi di Universitas.Selama jadi Residen tidak boleh praktek dan harus bayar uang kuliah. Belum lagi banyak dibully oleh dr senior. Sampai ada dr wanita yang terpaksa jadi supir Grab. Bukti empiris didunia bahwa sistem Hospital Base itu lebih baik dari Universitas Base. Hanya hospital tempat Residen kuliah paling tahu dan berhak memberikan sertifikat kompetensi. Konsil dan Kolegium bentukan Menkes seharusnya tidak perlu di bubarkan. Prof Johansyah adalah seorang Free Thinker. Seyogyanya beliau up date informasi apa yang terbaik buat para dokter dan kesehatan pasien di NKRI. Kalau sukses operasi sumbing bisa membuat pasien percaya diri dan bahagia. Prof Johansyah pasti juga bisa membahagiakan para dokter dan rakyat NKRI. Khususnya dibidang Kesehatan. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.
nico gunawan huang
kalau memang untuk kemajuan kedokteran alangkah baiknya membantu menkes merumuskan pendidikan dokter yang bebas dari KKN untuk mempercepat meningkatkan jumlah dokter berkualitas. Jangan menutup mata atas praktek KKN dan dinasti dokter dari sistem lama melalui IDI ,banyak keluhan (misalnya dr tirta) buatlah transparan dan akuntabel . mari membangun untuk kemajuan bangsa bukan cuma ego sekelompok. Apa gunanya kalau independent kalau tidak bermanfaat. Kuliah dokter mahal dan lama,Izin dokter kena KKN, biaya kesehatan selangit kualitas dokter kurang ,rakyat (termasuk saya) yg nanti jadi korban. Ada politikus bilang demi rakyat tujuannya demi kaya,Jangan pula dokter ikut jadi politikus lain ucapan demi independent lain tujuan demi keuntungan materi dan gengsi.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
DILEMA JAS PUTIH: HOSPITAL VS UNIVERSITY BASED.. Putusan MK memang bikin dahi berkerut. Seolah-olah "Hospital Based" (HB) itu barang haram yang harus diusir jauh-jauh. Padahal, urusan mencetak spesialis itu bukan soal gengsi kampus, tapi soal nyawa di pelosok. Kita ini kurang dokter spesialis, tapi regulasinya masih hobi main "tarik tambang" birokrasi. Belajarlah dari Inggris atau Jerman. Di sana, universitas dan rumah sakit itu bukan musuh bebuyutan, tapi pasangan tango. University Based (UB) menjaga standar akademis, sementara HB memastikan dokter tidak "mabuk teori" karena langsung berkeringat di bangsal. Kuncinya bukan siapa yang paling berkuasa, melainkan akreditasi independen yang galak. Pasca-putusan MK, solusinya bukan balik ke zaman batu. Kita bisa pakai sistem kerjasama Rumah Sakit dengan Universitas. Yang sebenarnya saat ini udah jalan. Hanya perlu pengaturan khusus: 1). Universitas tetap pegang ijazah dan standar kurikulum, 2). Tapi operasionalnya "full" di rumah sakit. Jadi, statusnya tetap "akademik". Tapi napasnya "praktis". Mahasiswa tidak bangkrut bayar UKT. Rumah sakit dapat tenaga ahli. Universitas tetap punya taring. Jangan sampai hanya karena urusan stempel, rakyat di daerah harus nunggu spesialis sampai tahun depan. Masa mau sehat saja prosedurnya ribet banget.. ### Kata kunci: Kerjasama. Koordinasi.
Lagarenze 1301
Santai Sejenak. Ahli bedah plastik yang baru pindah ke kota langsung menjadi favorit kaum wanita. Papan pengumuman di depan tempat praktiknya yang jadi penyebab. “Jika hidup memberi Anda lemon, saya dapat mengubahnya menjadi melon."
Liáng - βιολί ζήτα
iseng-iseng saja "paling banyak, paling ketat, paling taat" Menurut data World Justice Project (2023) : • Indonesia, salah satu negara hukum di dunia dengan jumlah aturan "paling banyak" mencakup banyak aspek kehidupan masyarakat, dari Pemerintahan Pusat hingga Daerah. Oleh karena itu, tidak mengherankan seringkali terjadi tumpang tindih di antara banyak aturan tersebut. Juga, sepertinya ada cukup banyak aturan yang memungkinkan multi-tafsir, bahkan saling bertolak-belakang. • Singapura, salah satu negara hukum di dunia dengan peraturannya yang "paling ketat" sehingga kedisiplinan masyarakatnya terbentuk dengan sendirinya. • Negara-negara Nordik, masyarakatnya terkenal "paling taat" hukum, dan sistem hukumnya sangat teratur dan transparan.
Liáng - βιολί ζήτα
bedah plastik Anda mungkin belum tahu..... ilmu bedah plastik itu "cucu-buyut-nya" ilmu dari : Sushruta dan Gaspare Tagliacozzi..... Kemudian, di-modern-kan (di-ilmiah-kan) oleh Sir Harold Gillies (Cambridge University). Sepertinya, tujuan awal Sir Harold Gillies dengan bedah plastiknya untuk menangani korban Perang Dunia I yang mengalami cacat terutama di bagian wajah..... sudah bergeser sangat jauh di zaman sekarang ini..... Dan..... zaman sekarang ini, bedah plastik sangat populer di Korea Selatan, bukan hanya untuk orang-orang yang memang membutuhkan bedah plastik, seperti bibir sumbing misalnya, tetapi sudah menjadi "kebutuhan untuk yang lainnya".....
Liam Then
Orang dengan "free thinker" harusnya tidak alergi dengan upaya perubahan, memvonis salah sebelum hasil dari upaya perubahan itu ada hasilnya. Baru kali ini saya ketemu orang dibilang free thinker tapi kolot anti perubahan. Vonis upaya perubahan dengan argumen kualitas mutu. Bukan dengan ukuran komparatif, atau data fisik empiris. Tapi dengan vonis langsung dan upaya penjegalan hukum , tanpa melihat hasilnya terlebih dahulu. Padahal di luar negeri, banyak negara yang pakai sistem Hospital Base relatif berjalan mulus dan berhasil.
Murid SD Internasional
WAKTU ANDA BELUM LAHIR Agaknya cocok pula itu kalimat dijadikan trademark di semua acara tongkrongan. Liam Then: "Boy, kutengok kau ini hobi kali makan makanan manis. Kurangi lah. Ntar kenak diabetes". Boy: "Tahun 1937, ((((ketika kau belum lahir)))), Theodosius Dobzhansky menulis buku penting berjudul Genetics and The Origin of Species, di sana disebutkan, bahwa potensi kau kenak diabetes, berbanding lurus dengan genetik leluhurmu. Kalau leluhurmu ada yang punya riwayat diabetes, 97.9% kau bisa kenak. Aku? Aku sudah lacak seluruh leluhurku sampai era Ramses II Raja Mesir abad 574 sebelum Masehi, tak ada leluhurku yang kenak diabetes". Liam Then: "........."
yea aina
Prof Johansyah menggugat isi UU Kesehatan yang disahkan dalam satu rombongan di omnibus law. UU cilaka. Dulu sepuluh tahun berkuasa, banyak UU dan aturan dirubah, sesuai mau "pemesannya". Lalu sekarang terbukti, hanya mewariskan berbagai permasalahan ruwet. Mulai dari ikn mangkrak, cicilan whoos bengkak dan yang paling menyalak: besaran cicilan dan bunga utang pemerintah. Terbaru, ia mengelak tidak membubuhkan tanda tangan UU "pelemahan" KPK. Sambil pura-pura pikun, siapa penandatangan surpres kepada dewan. Mungkin sedikit alasan, cukup jadi pembenaran apapun keputusannya, ketika berkuasa. Tapi ketika lengser, pun seribu alasan tidak akan menghapus rekam jejak: telah merugikan orang banyak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:

Komentar: 114
Silahkan login untuk berkomentar