Gubuk Dea

Gubuk Dea

--

"Lai! Lai! Lai!," teriak Warijan di dekat pintu bus. Peserta pun bergegas masuk bus. Mereka adalah pengusaha yang ikut tur bisnis Disway di seputar Mojokerto (Disway Explore Business with Dahlan Iskan, East Java Series–Mojokerto).

Rupanya Warijan, panitianya, sedang mempraktikkan apa yang ia alami selama ikut tur bisnis Disway di Tiongkok bulan lalu (Disway Business Adventures to Tiongkok with Dahlan Iskan & Novi Basuki).

"Ayo! Ayo! Ayo!" begitulah kira-kira artinya. Atau "silakan! Silakan! Silakan!". Itulah kebiasaan di Tiongkok untuk minta siapa saja bergegas: apakah di bus atau pun di depan ruang makan. Memang ada kata yang lebih terasa menghormati: "qing...". Tapi kata itu tergolong "kromo inggil" yang hanya dipakai untuk orang yang lebih senior.

Kata "lai !", karena diucapkan tiga kali mengandung makna "agar bergegas". Untuk keinginan bergegas sebenarnya bisa ditambah kata "kuai yi dian!". Rupanya Warijan sulit menirukan kata tambahan itu. Ayolah, cepatlah dikit.

Kami memang perlu cepat-cepat berangkat. Hari itu saya menambahkan dua acara di luar jadwal. Dua-duanya non-bisnis: ke museum wayang lalu ke museum masa kecil Bung Karno. Itu gara-gara promosi yang dilakukan wali kota Mojokerto, Ning Ita (Ika Puspitasari) di acara makan siang di kantor wali kota Mojokerto.


--

Kota Mojokerto itu kecil sekali: hanya 20 km2. Ia nomor tiga terkecil di Indonesia setelah Sibolga (10 km2) dan Magelang (18 km2).

Di zaman Belanda Mojokerto menjadi kota penting. Ada tujuh sungai di sekitarnya. Sungai adalah infrastruktur logistik dan irigasi penting di masa lalu. Yang dimaksud "sekitarnya" adalah Kabupaten Mojokerto. Banyak sekali pabrik gula di Mojokerto –komoditi andalan untuk memperkaya Belanda selain pala dari Maluku.

Museum wayang ini ternyata milik perorangan: pengusaha Tionghoa yang lebih pintar berbahasa Jawa daripada bahasa Mandarin. Marganya Njoo. Nama lengkapnya Sendjojo Njoto. Panggilannya Yensen. Usahanya bijih plastik hasil dari daur ulang.


--

Koleksi museum ini cukup lengkap. Wayang apa saja ada. Termasuk wayang krucil, wayang golek, wayang potehi, sampai wayang Yesus. Yang belum ada adalah wayang yang hanya pernah saya tonton dua kali di masa kecil saya: wayang gedhok –wayangnya pipih terbuat dari kayu. Atau jangan-jangan ada, hanya saya tidak melihatnya.

"Tidakkah Anda keberatan uang suami banyak dipakai beli wayang kuno?" tanya saya kepada istri Njoo. Dia dan putrinyilah yang menyambut rombongan kami.

"Bagaimana lagi. Ini hobi berat suami saya," katanyi.

Saya perkirakan Njoo habis uang banyak –termasuk untuk membeli rumah kuno tiga lantai itu. Masih pula harus membeli rumah di seberangnya: untuk museum toko kelontong zaman dulu. Berbagai model toko kelontong masa lalu ditampilkan. Saya keliling toko-toko itu sambil tersenyum-senyum –ingat ada barang apa saja yang dipajang di zaman itu.

Museum toko kelontong ini kian terasa unik setelah generasi baru hanya tahu Indomaret dan Alfamart. Lebih unik lagi kalau generasi yang akan datang, di tahun 2050 kelak, tahunya hanya kios Koperasi Desa Merah Putih.

Saya pernah punya teman yang uangnya juga habis untuk urus kegiatan sosial: sepak bola. Ia keturunan Arab. Tinggalnya di kampung Arab di Ampel Surabaya. Uang dan waktunya habis untuk sepak bola. Usahanya pun tidak terlalu diurus. Suatu saat saya bertanya kepadanya: apakah istrinya tidak marah?

"Ya marah-marah awalnya," jawabnya.

"Lalu bagaimana jawaban Anda kepada istri?"

"Saya jawab: hobi saya kan cuma ini. Saya kan tidak hobi perempuan," katanya.

Jawaban itu jadi kunci selamanya. Istrinya tidak pernah komplain lagi.

Di museum wayang ini saya otomatis membandingkannya dengan rumah-rumah bersejarah di Banda. Di sana ada ibu tua yang duduk apatis di pojokan. Di museum wayang ini ada Dea. Putri Njoo. Muda. Cantik. Modern. Antusias.


--

Awalnya saya ragu kalau gadis ini putri pemiliknya. Wajahnyi sangat Tionghoa. Matanyi sangat cendekia. Tapi ngomong tentang wayang begitu tahunya. "Saya mencoba mendalaminya," ujar Dea 

"Anda alumnus mana?"

"Universitas Ciputra. Jurusan bisnis internasional," jawab Dea.

Dea bercerita papanya suka sekali nonton wayang. Sejak kecil ibunya selalu bercerita tentang wayang. Njoo juga suka ludruk dan ketoprak. "Tiap malam papa nyetel ludruk Kartolo sebagai pengantar tidur," ujar Dea.

Papa Dea juga penggemar Si Unyil. Utamanya Pak Raden. Papa Dea sering kirim surat ke Pak Raden. Sampai akhirnya bisa bertemu Pak Raden.

Itulah sebabnya di museum yang diberi nama Gubuk Wayang ini penuh dengan boneka Si Unyil. Lengkap sekali. Sampai dapat belasan rekor MURI yang dipajang di salah satu lemari kaca di sana.


--

Pemilik Gubuk Wayang ini pandai membuat daya tarik. Ibarat wartawan ia pandai membuat "lead" --alinea pembuka sebuah tulisan. Di bagian paling depan museum dipajang etalase yang diselimuti kain hitam. Misterius.

"Benda apa yang diselimuti ini" tanya saya.

"Setan," jawab Dea.

"Kenapa diselimuti?"

"Agar anak-anak tidak takut," jawabnyi.

"Di rombongan kami tidak ada anak-anak".

"Baik," jawab Dea sambil membuka kain hitam itu.

Benar. Isinya wayang setan. Satu pasang. Setan laki-laki dan setan perempuan. Setan laki-lakinya seperti postur Jawa. Pakaian hitam. Setan perempuannya berpostur wanita Tionghoa. Berpakaian merah.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 26 Mei 2026: Wani Tenan

Wilwa

Sistem Perbankan setiap negara berbeda. Tergantung “ideologi” masing-masing. USA misalnya yang cenderung “pure capitalism” melarang government ikut campur dalam transaksi perbankan. Tak aneh bila bank swasta macam JP Morgan, Bank of America, Citigroup menguasai perbankan USA. Ini sejalan dengan “privacy” yang merupakan “value” yang sangat penting di USA dan “free market” walaupun kini “global” free market di bawah Trump dapat dikatakan tak berjalan akibat adanya “tariff” alias bea masuk yang dipungut US Gov’t. Sebaliknya Tiongkok menganut sistem perbankan warisan Soviet alias sistem sosialis (baca: komunis) yang mana peran government dalam mengendalikan “money circulation” tak boleh diusik oleh swasta. Kendali sepenuhnya di tangan pemerintah. Investor/swasta asing atau lokal harus buka rekening bank di bank pemerintah. Ada 5 bank pemerintah di Tiongkok. Anda tinggal pilih satu dari lima itu. Tak ada “privacy” dalam sistem perbankan Tiongkok. Pemerintah tahu isi “dompet” Anda. Dan di era digital payment, pemerintah tahu kemana saja atau untuk apa saja pengeluaran Anda. Juga tahu darimana saja penghasilan Anda. Sistem ini menyulitkan pelarian DHE (Devisa Hasil Ekspor) seperti yang sedang menjadi issue besar di sini. Semua foreign currencies hasil ekspor masuk ke Bank Pemerintah. Di USA, swasta mudah sekali melakukan “Capital Flight” ke luar negeri. Di Tiongkok, sulit. Karena government yang menyimak transaksi keuangan Anda. Bahkan hingga ke detail paling kecil. Duh text limit

Wilwa

Lanjut. Karena itu Tiongkok Gov’t relatif lebih mudah memberantas korupsi, cyber crime/scam, judol, hingga “money laundering” dari tindak pidana perdagangan orang atau narkoba. Di USA jauh lebih sulit bagi pemerintahnya untuk memberantas cyber crime. Koordinasi US Gov’t dengan bank-bank swasta lebih kompleks dalam cyber crime dan Capital Flight. Bagaimana dengan sistem perbankan Indonesia? Secara ideologi, tak jelas. Karena sejak 1988, ketika Orde Baru mengizinkan adanya bank swasta maka mereka tumbuh seperti jamur di musim hujan. Dampaknya terasa hingga kini. Bank Swasta macam BCA tempat Wani bekerja misalnya, jauh lebih dipercaya ketimbang bank Himbara macam BRI atau Mandiri karena jauh lebih profesional dan lebih baik sistemnya. Karena Indonesia menerapkan sistem campuran yaitu setengah “kapitalis” / free market (baca: bank swasta) dan setengah “komunis” / proteksi (baca: bank pemerintah) maka koordinasi memerangi “cyber crime” sangat sangat sulit. CHDI mengungkapkan bahwa perlu koordinasi enam pihak! Hmmmm. Beda dengan Tiongkok. Koordinasi jauh lebih mudah karena kendali sepenuhnya di tangan pemerintah untuk memerangi cyber crime. Karena itu pelaku tindak kejahatan perbankan di Tiongkok memilih Kamboja atau Indonesia yang lemah kendalinya atas sistem perbankan. Scam/penipuan sampai judol marak di Indonesia. Apalagi Indonesia terkenal lambat birokrasinya. Kalah cepat dengan perkembangan teknologi terbaru. Lengkap sudah penderitaannya. Duh text limit lagi.

Leong Putu

MBG mas bahlil ganteng Buah apa yang paling manis Buahlil Tambah ganteng

Bahtiar HS

Selalu saja geli kalau ketemu kata "standardisasi". Lucu aja. Kata dasarnya di KBBI itu kan "Standar". Ketika diberi imbuhan -isasi, kok jadi standardisasi? D-nya datang darimana? Ya memang aturannya utk serapan kata bhs Inggris yg berakhiran -ization adalah menjadi -isasi, tp dengan menyerap kata dasarnya apa adanya aslinya. Yakni: Standard, pakai huruf terakhir D. Tp tetap lucu aja: apa kata dasar standardisasi? Standar. Jadi D-nya dari mana? Atau -disasi itu artinya atau maksudnya apa? :))

Sulaspin

Tugas negara: "ngayemi dan "ngayomi". Ngayemi : memberikan rasa aman, nyaman, tentram dan adhem ayem. Terbebas dari rasa ketakutan dan kekuatiran. Ngayomi : melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Memberikan perlindungan dari segala bentuk gangguan, ancaman dan kejahatan. Dari manapun sumbernya. Itulah hakekat tugas negara. Lembaga kepolisian, selaku APH memikul tanggung jawab untuk melukakan tugas itu. Warga negara juga punya tugas dan tanggung jawab moral untuk menjaga lingkungannya. Menumbuhkan rasa saling percaya. Saling berbagi dan memperkuat kepedulian. Esok hari, umat muslim sedunia akan melaksanakan Sholat Idhul Adha. Bagi umat islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, disunahkan untuk mengamalkan puasa arofah. Hari ini. tanggal 9 dzulhijjah. Lalu dilanjutkan penyembelihan hewan kurban. Berkurban bukan untuk mendapatkan daging sebanyak-,banyaknya. Namun lebih pada pengharapan akan rindho dan rahmat Alloh. Pahala Alloh. Tidak ada niat lain. Pada dimensi yang lain berkurban hendaknya bisa memicu dan menumbuhkan serta memupuk semangat : apa yang bisa kita berikan untuk negeri tercinta ini. Selamat Hari Raya Idhul Adha, bagi yang merayakannya.

Gregorius Indiarto

Di saat jeda untuk rapat tim penguji, si senior "kumbang liar" Itu mendekati junior, "yen Wani ora duwe roso wedi, yen wedi ojo nyeraki Wani" dan "sebagai "kumbang liar", ojo dumeh, ojo rumongso, dumeh ndue entop, rumongso isoh ngentop njor petita petiti" saran bijak senior ke para juniornya. Met pagi, salam sehat, damai dan bahagia.

Sadewa 19

Sejarah akan mencatat, disertasi WANI TENAN itu apakah bisa menang melawan budaya WANI PIRO ????

Achmad Faisol

"isasi" bukan imbuhan pak di bahasa indonesia... standar: sebuah kata... standardisasi: sebuah kata...

Achmad Faisol

Masing-masih juga punya ego sektor sendiri-sendiri. ###### ini masalah utama yang harus diselesaikan... masing² ingin menonjol dan diakui hebat: itu prestasi kami; itu buatan tim kami; kami yang menginisiasi; dll... contoh sederhana: mengapa ada e-ktp masih ada kartu SIM... sekarang bikin SIM digital... buat apa coba...? kan data cukup ditaruh di e-ktp atau IKD... selain ego sektoral ternyata kemampuan memang masih rendah... kalau data SIM masuk e-ktp berarti kepolisian bisa akses data dukcapil... bagaimana jika bocor...? polisi dianggap ga mampu menjaga keamanan data pribadi... di sini masalah kedua: kemampuan/kompetensi, seperti ditulis juga di artikel chd kali ini... masalahnya lagi, bukannya kemampuan ditingkatkan, eee malah ngurus MBG...

MULIYANTO KRISTA

Kenapa kalau berfoto selalu milih "jejer" yang 5i/7i ? Padahal pilihan berdampingan dengan yang sesama laki-laki ada lho ya. .. #aseli tanya gak ngece. ..

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KORBAN PENIPUAN PALING BERBAHAYA: YANG MERASA PINTAR... Saya mulai curiga, penipu digital sekarang lulusan psikologi. Mereka tahu manusia paling gampang ditipu saat merasa paling cerdas. Yang merasa ahli investasi, ditawari crypto. Yang merasa ganteng, dijebak love scam. Yang merasa religius, dikirimi link “sedekah subuh”. Lengkap. Tinggal tunggu penipu khusus penggemar drakor: transfer dulu baru oppa datang. Maka saya paham mengapa banyak korban tidak melapor. Malu. Masa sudah hafal pasword WiFi tetangga, tapi kalah sama video AI Armand Hartono palsu. Lucunya lagi, birokrasi kita sering kalah modern. Penipu kerjanya 24 jam. Sistem kita masih jam kantor. Penjahatnya pakai cloud computing. Yang mengejar masih minta fotokopi KTP tiga lembar dan materai Rp10 ribu. Karena itu saya suka istilah Cobra. Pendek. Galak. Cocok untuk Indonesia. Sebab kalau namanya terlalu panjang biasanya programnya cepat masuk museum. Tapi saya usul tambahan kecil. Selain Cobra Index, perlu juga “Indeks Kewarasan Nasional”. Isinya satu pertanyaan sederhana: “Kalau tiba-tiba ada orang asing mau kasih Rp20 juta, kenapa bukan mertuanya sendiri yang dikasih?”

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

YANG PALING TAKUT KE POLISI MALAH JADI DOKTOR POLISI.. Bagian paling menarik dari tulisan ini justru bukan AI. Bukan cybercrime. Bukan pula Cobra Index. Tapi satu kalimat sederhana: “Orang Tionghoa seperti saya umumnya takut ke polisi”. Kalimat itu jujur. Dan kejujuran sekarang lebih langka daripada OTP yang tidak bocor. Bu Wani masuk PTIK sebagai orang luar. Sendirian. Di tengah “kumbang liar”. Itu sudah seperti ikan koi masuk kolam buaya sambil membawa disertasi. Tapi justru di situ nilai lebihnya. Polisi belajar dari bankir. Bankir belajar dari polisi. Negara ini memang terlalu lama gemar belajar dari sesama kelompoknya sendiri. Akibatnya sering lucu. Orang transportasi bicara transportasi dengan orang transportasi. Orang hukum bicara hukum dengan orang hukum. Hasilnya: seminar tambah tebal. Kemacetan tetap abadi. Karena itu saya lebih tertarik pada keberanian menembus sekatnya. Ilmu sering lahir bukan dari ruang yang seragam. Tapi dari percampuran yang awalnya canggung. Kadang kemajuan memang dimulai dari satu orang yang nekat masuk ruangan yang selama ini membuatnya gemetar.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

PENIPU SEKARANG LEBIH PINTAR DARI MANTAN.. Dulu penipuan paling terkenal: “Mama minta pulsa”. Bahasa masih sederhana. Kadang typo. Kadang salah kirim ke orang yang mamanya sudah almarhum. Sekarang beda. Penipu sudah pakai AI. Bisa tampil seperti bos bank. Bisa bicara manis. Bisa membuat orang jatuh cinta. Dunia memang berubah. Yang palsu makin meyakinkan. Yang asli malah sering centang satunya dua minggu. Saya tertawa saat Bu Wani bilang AI luar negeri jauh lebih mirip aslinya. Waduh. Berarti sebentar lagi orang bisa ditipu mantannya sendiri. Padahal mantannya sudah menikah tiga tahun lalu. Di tengah kekacauan itu, muncul istilah Cobra Index. Namanya keren. Indonesia memang hebat soal nama. Kadang programnya belum jalan, logonya sudah seminar ke mana-mana. Tapi saya suka analogi Bu Wani: penjahat naik Ford, aparat naik angkot. Sangat Indonesia. Angkotnya mungkin masih ngetem dulu menunggu penumpang penuh. Sementara uang korban sudah pindah ke crypto, lalu hilang seperti janji “besok saya transfer”.

Sugi

Wah jika dibukukan pasti menarik untuk dibaca Bah. Kejahatan saja sudah kolaboratif elektronik, masak penanganannya tidak mau kolaboratif. Semoga misi Cobra Bu Wani bisa terwujud di dunia nyata. Sebab kebaikan yang tidak terorganisasi akan kalah dengan kejahatan yang terorganisasi. Salam Wani!

rid kc

Pak DI tolong tulis kesebelasan COMO 1907. Itu milik Djarum. Sekarang COMO sudah level Eropa sejak diakuisisi oleh pak Hartono. Djarum tidak hanya menorehkan ahli perbankan saja akan tetapi juga menorehkan tinta sejarah sepak bola level Eropa. Hanya perlu waktu 7 tahun, Djarum membawa COMO menjadi klub elite level Eropa dari klub gurem seri D Italia. Luar biasa Djarum.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

COBRA JANGAN MASUK KERANJANG ULAR.. Saya membayangkan rapat enam lembaga itu seperti orkes dangdut. Drumnya jalan sendiri. Keyboard merasa paling penting. Penyanyinya rebutan mikrofon. Penontonnya: korban penipuan. Tepuk tangan sambil menangis. Di situ menariknya disertasi Bu Wani. Ia tidak sibuk mencari kambing hitam. Ia malah menciptakan “dirijen”. Di Indonesia, mencari dirijen lebih sulit daripada mencari penyanyi yang tidak lipsync. Kalimat paling menampar justru ini: “kejahatan lari pakai Ford, penanganan naik angkot”. Pedih. Tapi akurat. Uang korban sudah muter 60 rekening. Aparat masih rapat menentukan siapa bikin notulen. Saya setuju perlunya UU Siber sebagai lex specialist. Sebab penjahat digital sekarang bukan lagi anak warnet. Mereka sudah pakai AI. Bahkan wajah bos bank pun bisa dipalsu. Tinggal tunggu muncul video “Dahlan Iskan bagi-bagi Avanza”. Masalahnya tinggal satu: jangan sampai Cobra Index bernasib seperti banyak hasil seminar. Hebat saat presentasi. Masuk map. Lalu tidur panjang di lemari birokrasi ber-AC.

Kalender Bagus

Teknologi jauh lebih maju daripada pengetahuan masyarakat umum tentangnya. Gap inilah yang dimanfaatkan penjahat siber. Bayangkan, ada tawaran VCS harga miring, tapi korbannya ga tau lawan mainnya adalah video putaran ulang bukan siaran langsung, dan parahnya dia juga ga tau kalau aktifitas ga senonohnya direkam pelaku. Kelak rekamannya dipakai untuk meras, atau dijual kembali.

Jo Neka

Foto pertama paling epik.Diapit dua cewek.Dan ah cukup saya saja yang berpikiran aneh.Tapi ya gt deh.Untuk laki berlaku ini.Usia boleh tua.Nackal masih tersisa..Bisa banyak bisa sedikit tergantung isi dompet

Liáng - βιολί ζήτα

Oom Wilwa dan Oom Juve Zhang, Singkat saja..... (waktunya sempit, hari ini padat jadwal mengajar.....) 1. Obligasi Pemerintah China. total outstanding (beredar) sekitar 126 triliun Yuan (+/- $17,5 triliun). 2. Utang Nasional. total utang publik atau nasional China sekitar $19,44 triliun. 3. Utang Luar Negeri. total utang luar negeri China sekitar $2,3 triliun. ** dugaan saya, masalahnya, Oom Wilwa dan Oom Juve Zhang itu tidak begitu fasih berbahasa Chinese, dan saya juga ragu apakah Anda berdua bisa membaca tulisan Hànzì pada portal-portal berita ataupun link-nya institusi-institusi Tiongkok yang terkait keuangan.....

Liáng - βιολί ζήτα

sedikit tertinggal..... 3 pendekar utang (terbesar) di dunia : 1. USA 2. China 3. Japan

Irary Sadar

Teknologi AI sekarang ini luarbiasa canggihnya. Video yang diceritakan Pak Dahlan diatas -pemaparan dari Ibu Wani- itu memang benar adanya. Jika orang biasa sulit untuk mendeteksi bahwa Anda sedang berhdapan dengan AI. Saya pernah menoton klip -yang lewat di beranda sosmed- bahwa untuk mendeteksi video AI yang sedang Anda hadapi, baik wawancara ataupin bincang-bincang biasa, adalah untuk meminta lawan bicara Anda menampilkan tiga jari tepat di depan wajahnya. Jika AI, dia akan menolak melakukan itu. Adakah yang sudah mempraktekkannya di depan lawan bicara Anda..?

Juve Zhang

Makanya empat bank besar Tiongkok asset nya paling gede sedunia karena Rakyat semua menyimpan di empat Bank besar ini dan masuk ke kolom Liability....kenapa deposito dan tabungan masuk Kutang alias Liability yah itu emang pembukuan Bank model nya begitu pun di Indonesia sama....karena di Indonesia rakyat bokek maka simpanan uang di bank kecil maka asset bank di Indonesia kecil gak masuk ranking dunia ...masih Moto 3 .GP .... diwakilia Vega....jadi empat bank besar Tiongkok mencerminkan Kekayaan Perusahaan dan Rakyat Tiongkok yang makmur Kaya Raya....makanya Asset nya juga bengkak Segede Gajah Hamil ....sekarang Amerika rakyat bokek banyak gak nabung di Bank makanya Bank Amerika relatif kalah asset nya karena deposito dan tabungan rakyat gak sebesar Rakyat Tiongkok.....sekian kuliah siang prof JZ semoga anda paham...

Rizal Falih

Pada saat saya mengurus IKD di kantor kelurahan, petugas kelurahan menegaskan, bahwa verikasi IKD hanya bisa dilakukan langsung dikantor kelurahan atau dukcapil setempat. Tidak pernah ada petugas yang melakukan verifikasi atau apa pun melalui telepon. Bahkan sekedar mengganti password login ke aplikasi IKD. Jika ada penelpon yang mengaku sebagai pegawai dukcapil yang akan melakukan verifikasi data IKD, bisa dipastikan itu adalah penipuan.

Rizal Falih

Sahabat saya pun menjadi korban penipuan online. Modusnya pelaku menghubungi korban melalui telepon. Mengaku pegawai dukcapil. Akan melakukan verifikasi KTP elektronik. Kebetulan sebelumnya korban memang mencari informasi terkait pembuatan KTP elektronik. Bertanya kepada pergawai kelurahan. Kepada korban si penipu meminta untuk melakukan instalasi aplikasi Identifikasi Kependudukan Digital (IKD), yang diunduh melalui play store. Korban pun mengikuti arahan penipu, termasuk ketika diminta bebrapa data. Pada saat aplikasi sedang proses verifikasi, tiba-tiba hp nya hang. Dilayar hanya muncul tampilan proses apikasi. Bebarapa menit kemudian, muncul notifikasi melalui emailnya dilaptop, yang kebetulan sedang dibuka. Ada transfer dana melalui rekekning bank nya. Nilainya ratusan juta. Uang pinjaman ke bank. Sedangkan dia tidak melakukan transaksi perbankan apa pun. Korban pun tersadar dan segera menelpon customer service bank tersebut, meminta memblokir nomor rekening penerima tranfer. Namun dijawab oleh cs tidak bisa, harus ada surat perintah dari APH. Hanya dalam hitungan detik, uang direkeningnya pun terkuras. Sementara hp masih dalam proses verifikasi data yang tidak kunjung selesai. Sahabat saya pun melapor ke kepolisian. Selesai laporan dibuat, dicek rekening penerima sudah kosong. Beberapa minggu Ia dibuat repot, bolak balik ke kantor polisi. Mengurus kasusnya. Karena tidak ada perkembangan, akhirnya laporanya pun dicabut.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 25

  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • Prieyanto
    Prieyanto
  • xiaomi fiveplus
    xiaomi fiveplus
  • Joko Wito
    Joko Wito
  • Sugi
    Sugi
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Nimas Mumtazah
    Nimas Mumtazah
  • MULIYANTO KRISTA
    MULIYANTO KRISTA
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Maman Lagi
    Maman Lagi
  • Jo Neka
    Jo Neka
  • alasroban
    alasroban
  • Kujang Amburadul
    Kujang Amburadul
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman