Kolegium MK

Kolegium MK

--

"Saya tidak mempersoalkan menteri kesehatan. Yang saya lawan UU-nya," kata profesor ini.

Saya menemuinya Minggu pagi kemarin. Usai berolah raga. Prof Dr dr Johansyah Marzoeki, adalah ahli bedah plastik tertua di Indonesia: 86 tahun.

Anda sudah tahu: Prof Johansyah memenangkan gugatan di Mahkamah Konstitusi. Bulan lalu. Akibatnya, konsil kedokteran dan kolegium bentukan Menkes Budi Gunadi Sadikin harus dibubarkan. Harus dibentuk konsil dan kelegium independen –kembali seperti sebelum-sebelumnya.

"Anda ahli bedah plastik pertama di Indonesia?"

"Saya yang kedua. Angkatan kedua itu tiga orang," katanya. "Ahli bedah plastik pertama kita adalah Prof Munajad Wiryaatmaja dari UI," tambahnya.

Meski sudah 86 tahun, Prof Johansyah masih sesekali ke Johan Clinic. Masih punya meja di situ. "Kalau tidak ada masalah dengan mata ini, saya masih bisa melakukan operasi plastik," katanya. "Sekarang yang tiap hari berpraktik di sini anak saya," katanya.

Ia punya tiga anak: perempuan semua. Yang satu dokter ahli mata, satunya psikolog, dan yang terakhir ahli bedah plastik.

"Berarti yang menangani mata Prof ini anak sendiri?"

"Bukan. Di kalangan dokter berlaku prinsip biar pun anaknya sendiri dokter tidak akan menangani sakitnya orang tua. Biar objektif," katanya.

Prof Johansyah masih sangat sehat. Jalannya masih tegap. Rambutnya yang ikal dibiarkan agak panjang. Bicaranya masih tegas dan runtut. Tangannya tidak terlihat sedikit pun tremor.

Prof Johansyah juga masih mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Di S-2, S-3, dan di program subspesialis. Ia mengajar mata kuliah filsafat ilmu dan budaya ilmiah.

Sejak dulu saya mengenal Prof Johan lebih sebagai ilmuwan. Sebagai free thinker. Bukan hanya sebagai dokter.

Ia punya prinsip lurus: ilmu kedokteran itu masuk ke ilmu pasti. Bukan ilmu sosial. Artinya: dokter hanya boleh ikut kaidah ilmiah. Berarti dokter harus rasional dan objektif. Dokter harus memegang kebenaran. Kebenaran itu harus berdasar bukti. Untuk itu dokter harus independen.

Prinsip itulah yang mendorong Prof Johansyah menggugat isi UU Kesehatan yang disahkan dalam satu rombongan di Omnibus Law. Di situ disebut konsil dan kolegium dibentuk oleh pemerintah. Tidak lagi independen.

Pror Johan pun geregetan. Lalu cari info: apakah sudah ada yang mempersoalkan UU itu. Nihil. Ia tanya ke IDI (Ikatan Dokter Indonesia): apakah tidak ambil langkah hukum. Nihil.

Gara-gara tidak ada yang peduli itu ia maju sendirian ke MK. Sejak dua tahun lalu. Kalau toh ada yang ia ajak berunding mereka adalah para guru besar yang seide dengannya: Prof Minardi Rasmin, Prof Lukman, Prof Riyanto Setyobudi, Prof Priyo, Dr Joko Widiyanto, Dr Mahesa.

Merekalah yang membantu Johansyah menemukan seorang pengacara prodeo: Moh. Joni SH MH. Prof Johansyah pribadi yang membayar biaya operasionalnya.

Anaknya sempat heran kenapa sang ayah begitu gigih berjuang sampai ke MK. Sampai harus menanggung semua pengeluaran operasional. "Kalau perlu saya jual mobil," jawab sang ayah. "Ini bukan perjuangan untuk saya pribadi. Ini untuk ilmu kedokteran," katanya.

Maka Johan mondar-mandir Surabaya-Jakarta. Ia hadir hampir di setiap persidangan. Selama dua tahun berproses itu ia hanya sekali tidak hadir: saat matanya berdarah. Ia menjalani operasi mata. Kini mata kanannya sudah mulai pulih. Hanya saja yang kiri lebih sulit disembuhkan.

Dengan kemenangannya di MK status kolegium dan konsil harus kembali independen. Tidak lagi seperti sekarang: dibentuk oleh menteri kesehatan.

Memang hanya dua hal itu yang ia gugat ke MK: independensi kolegium dan pengawasan terhadap etika yang hanya bisa dilakukan oleh organisasi profesi dokter.

Dua-duanya dikabulkan.

Ternyata IDI belakangan juga mengajukan gugatan ke MK. Sebagian juga dikabulkan: soal wadah tunggal dokter. MK tidak menyebut itu harus IDI tapi semua dokter harus berada di satu ''rumah besar''. Hanya saja semua sudah tahu: rumah besar itu hanya IDI.

Di sidang terakhir itulah diketahui bahwa hakim MK ternyata menangani sembilan gugatan serupa sekaligus. Yang tujuh ditolak. Hanya terhadap gugatan IDI dan Johansyah yang pertimbangan hukumnya dibacakan.

"Apa akibat nyata dari putusan MK itu? Bagaimana dengan pendidikan spesialis yang berbasis rumah sakit?"

"Tidak bisa lagi," ujar Johansyah. "Harus sepenuhnya kembali ke universitas," katanya.

Menkes memang ngotot pendidikan dokter spesialis bisa lewat rumah sakit. Agar jumlah dokter spesialis bertambah lebih cepat. Dengan demikian tidak perlu bayar uang kuliah. Tidak perlu berhenti bekerja. Bahkan bisa dapat bayaran selama ''kuliah'' di rumah sakit.

Putusan itu baru terlaksana enam bulan terakhir. Pun baru dua rumah sakit yang sudah ditunjuk sebagai tempat pendidikan dokter spesialis. Kini sudah harus dibatalkan. Atau menkes berkelit mencari jalan lain.

Kualitas dokter –utamanya lewat sistem pendidikan kedokteran– menjadi tanggung jawab kolegium. Termasuk dalam menjaga kompetensi dokter. Kolegiumlah pengampunya. "Dekan FK itu bukan pengampu. Dekan hanya koordinator pelaksana pendidikan dokter," kata Prof Johansyah.

"Bagaimana dengan izin praktik para dokter?"

"Tetap dari pemerintah. Tapi setelah mendapatkan sertifikat kompetensi dari kolegium," katanya.

Tahun 1971, ketika Anda belum lahir, Prof Johansyah sudah ahli bedah umum. Lalu ia pengin bisa ke luar negeri. Ia cari beasiswa. Dapat. Untuk spesialis syaraf. Ganti Johansyah yang tidak mau.

"Bedah plastik mau?"

"Pikir-pikir dulu," katanya.

Saat itu bedah plastik masih belum populer. Setelah tahu masa depan bedah plastik,Johansyah mau. Pergilah ia ke Groningen, Belanda. Bersama dr Bisono dan dr Sidiq --keduanya dari Universitas Indonesia. Tahun 1977 ia pulang dengan predikat ahli bedah plastik kedua di Indonesia.

Sebagai dosen filsafat, Prof Johansyah melihat filosofi di balik bedah plastik. "Ahli bedah plastik itu psikiater dengan pisau berdarah," katanya.

Betapa besar jasa ahli bedah plastik dalam memperbaiki jiwa manusia. Misalkan anak Anda lahir dalam keadaan bibir sumbing. Kejiwaan anak hancur. Pun orang tua. Sekeluarga.

Dengan pisaunya ahli bedah plastik memperbaiki kejiwaan seluruh keluarga sumbing itu menjadi jiwa yang bahagia.

Pun bagi yang berhidung pesek: bisa melakukan bedah plastik estetika. Bisa mancung. Bahkan, kini, sampai rahang pun dilancipkan untuk mengejar cantik.

Lebih dari itu: laki-laki yang berjiwa perempuan bisa pilih mau jadi yang mana. Bisa dibuatkan vagina di lokasi burungnya. Sebagian Anda tentu masih ingat: Dorce Gamalama. Almarhumah. Prof Johansyah yang melakukannya.

Filosofi lainnya: hanya dokter ahli bedah plastik yang bisa membuat orang bahagia. "Tujuan hidup kan untuk bahagia. Ahli bedah plastik yang bisa membantu mencapai tujuan itu".

"Sudah berapa banyak melakukan operasi bibir sumbing?

"Banyak sekali. Ribuan".

"Dua ribu?"

"Lebih".

"Lima ribu?"

"Mungkin masih lebih".

"Masih tetap free thinker?"

"Jangan bicara itu lagi. Jangan bicara agama. Bicara kedokteran saja", katanya.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 23 Februari 2026: Impor BBM

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BBM DARI AMERIKA, AKAL SEHAT DARI MANA? Kita ini seperti pelanggan setia yang ganti warung, tapi tetap beli barang yang sama. Dulu Singapura, sekarang Amerika. Yang berubah alamatnya, bukan kebiasaannya. Impor tetap impor. Tangki tetap haus. Soal mutu, tentu menggoda. AKI 87 setara RON 92. Mesin mungkin lebih bahagia. Dompet belum tentu. Ongkos kirim dari seberang samudra itu bukan promo ongkir. Yang menarik justru bukan minyaknya. Tapi mekanismenya. Tender harus terbuka. Persaingan harus adil. Lalu muncul pertanyaan sederhana: kalau sudah “disepakati”, tender itu lomba atau formalitas? Gudang BBM kita juga seperti tokoh sinetron. Selalu muncul di setiap episode. Pemiliknya bisa berubah. Perannya tetap penting. Negara besar, tapi masih bergantung pada satu perut penyimpanan. Perjanjian dagang memang perlu. Ekonomi butuh napas panjang. Tapi kedaulatan jangan ikut diangkut dalam kontainer. Kalau akhirnya kita tetap impor, setidaknya impor dengan akal sehat. Jangan sampai yang paling mahal justru bukan BBM-nya. Tapi logikanya.

rid kc

Dokumen perjanjian itu sudah viral di platform media sosial pasca ditanda tangani. Wajar saja jika ada penafsiran sesuai pemahaman dari dokumen tersebut seperti yang dilakukan oleh Peof. Dr. AS Hikam dan yang dari Utrecht itu. Penjelasan pemerintah di atas saling bertentangan. Coba baca poin 5 komitmen Indonesia terhadap AS yaitu Indonesia akan menghapus hambatan non tarif seperti TKDN, sertifikasi halal, perizinan import dan pengakuan standar AS. Poin 5 ini bertentangan dengan poin 14,15 dan 17 dimana Indonesia tetap memberlakukan sertifikasi halal produk dari AS, Indonesia tetap menerapkan TKDN, Indonesia tetap memberikan pajak prosuk daei AS. Ini yang benar yang mana. Dalam dokumen jelas berbunyi sesuai poin 5 dan tidak ada penjelasan terkait poin 14, 15 dan 17. Begitu juga terkait pajak google dan lain sebagainya belum dijawab oleh pemerintah karena dalam perjanjian jelas berbunyi tidak akan dikenakan pajak.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BENARKAH KITA MEMANG SUDAH MERDEKA SECARA POLITIK, TAPI SECARA EKONOMI BELUM MERDEKA? Pertanyaan itu terasa pahit. Tapi wajar. Dulu kita dijajah kekuasaan. Sekarang kira lebih sering dipengaruhi kepentingan. Penjajahan hanya berubah benruk Dan ganti sisi "Belanda" nya. (Baca: penjakahnya). Mekanismenya masih mirip, tapi lebih halus. Tidak ada meriam. Yang ada perjanjian, utang, pasar, dan standar. Kedaulatan hari ini bukan hanya soal bendera. Tapi juga soal keputusan ekonomi. Siapa menentukan harga energi. Siapa menguasai teknologi. Siapa memegang data. Di situlah ukuran kemandirian diuji. Kita tidak sedang dijajah. Tapi juga belum sepenuhnya bebas dari ketergantungan. Banyak negara mengalami hal yang sama. Globalisasi membuat semua saling terkait dan terikat. Masalahnya bukan hubungan. Masalahnya adalah "posisi" dalam hubungan. Kalau hanya berpindah pengaruh, berarti kita belum naik kelas. Merdeka sejati itu punya pilihan. Bisa kerja sama tanpa kehilangan arah. Bisa menolak tanpa takut runtuh. Jadi jawabannya sederhana. Kita sudah merdeka secara politik. Tapi perjuangan merdeka secara ekonomi masih berjalan. Dan perjuangan itu tidak melawan Barat. Tapi melawan rasa nyaman untuk bergantung.

Denny Herbert

Selain import BBM kita dikagetkan juga dengan berita rencana import pickup dari India, 105.000 unit oleh agrinas untuk koperasi merah putih. Dua berita ini berbicara dengan bahasa yang sama: impor BBM dan impor kendaraan. Satu tentang energi, satu tentang industri. Keduanya tentang ketergantungan. Kebijakan impor memang bisa menjadi solusi cepat, tetapi jika terus menjadi pilihan utama, ia perlahan membentuk mentalitas bangsa: lebih memilih membeli daripada membangun, lebih nyaman bergantung daripada mandiri. Secara spiritual, ketergantungan yang terus dipelihara akan melemahkan daya juang, daya cipta, dan daya tahan bangsa. Kita kehilangan proses—dan tanpa proses, tidak ada kedewasaan. Bangsa yang besar bukan yang paling banyak mengimpor, tetapi yang paling berani berproses: membangun energi sendiri, mengembangkan industri sendiri, menumbuhkan inovasi sendiri. Renungannya sederhana: jika kebijakan hanya mengejar kecepatan, kita kehilangan keberlanjutan. Jika kebijakan hanya mengejar solusi instan, kita kehilangan masa depan. Karena kemandirian bukan lahir dari transaksi, tetapi dari keberanian berproses dan bertumbuh.

Murid SD Internasional

*Baca-baca FAQ Perjanjian Dagang Resiprokal Indonesia-AS. *Baca dengan teliti dan saksama. Jawaban untuk pertanyaan nomor 13 sangat TIDAK menjawab substansi. Kalau saya ada di tim Kemenko Perekonomian, saya akan usulkan draft jawaban lugas, tajam, to the point, seperti ini: 1. Jangan khawatir. Pemerintah RI mewajibkan seluruh transfer data lintas batas, untuk tunduk pada Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi, sehingga perusahaan asing tetap terikat pada standar hukum Indonesia. 2. Jangan cemas. Data yang dikirimkan pemerintah RI ke luar negeri, akan melalui seluruh tahap dan mekanisme enkripsi end-to-end menggunakan teknologi Transport Layer Security 1.3 + Quantum-Resistant Cryptography + Hybrid Encription AES-256 yang dikuatkan dengan algoritma asimetris RSA-4096 + Elliptic Curve Cryptography, dengan akses terbatas berbasis izin, sehingga tidak bisa diakses sembarangan oleh pihak ketiga. Bahkan kalau ada yang mencoba meretas, pemerintah RI sudah siapkan 8 tim cyber-security kelas dunia yang masing-masing tim terdiri dari 13 hacker top Nasional. So, masih mau cemas? Don't be ;) 3. Jangan gusar. Pemerintah RI melalui tim rahasia di Kemkominfo akan melakukan audit + sertifikasi + monitoring + investigasi masif pasca pertukaran data antar negara. Begitu kami mengendus ada pelanggaran, izin operasi perusahaan asing tersebut akan kami cabut. 4. Jangan was-was. Pemerintah RI sudah menanda-tangani High-Level>Juve Zhang

Tanki Riza Chalid di Banten gede sekali....saya ber nostalgia zaman dulu ke kantor pemilik Tanki sendirian.... diskusi dengan Project Manager nya orang eropa lupa negara nya...diskusi teknik ...Tanki itu aslinya milik perusahaan Jerman dan saya jumpa PM nya di Jakarta sewaktu akan bangun ngobrol santai.... belakangan Jerman mundur dari Bisnis ini dan tahu tahu sudah milik RC...... Singapura akan kerjasama dengan Amerika dalam Tender alias Kong kali kong ....harga diatur tinggi karena jarak Amerika Indonesia itu jauh BBM akan naik....mirip Gas Rusia dan Gas Amerika bagi rakyat Jerman....Gas Amerika 3 kali lipat dari harga gas Rusia..... Tiongkok juga gak mau beli minyak Amerika mahal dan dolar.... Indonesia terpaksa beli walaupun mahal di ongkos kirim.... namanya sudah teken kontrak ya mahal pun dibeli.... akibatnya Harga BBM naik....

Jokosp Sp

Setelah sahur ada WA masuk dari Mbak Si Sipit orang keuangan. Saya nanya balik: Sepagi ini sudah bangun, sudah baca Disway?. Kalau saya kan sahur, kalau kamu ngapaian sepagi ini bangun?. "Saya harus pagi bangun, mau ke Bandung pagi-pagi ada seminar". "Ini aku kasih tahu jangan terbuai dengan yang katanya keberhasilan bea eksport 0%, toh kita harus terima minyak dari Amerika. Juga jagung dan kedelai, yang dari Brasil dan Canada harusnya lebih murah. Ini bukannya akan lebih menggerus keuangan yang sudah boncos dari tingginya hutang dan melemahnya penerimaan pajak ke negara?". "Lihat pelemahan rupiah yang sudah mendekati Rp 17.000,-. Ini bisa ke Rp 20.000,-. Ingat krisis moneter lalu dari angka itu. Jangan dipakai apa kata menkeu: agar ekonomi bisa bergerak kita harus hutang". Ini ada resiko capital flight akibat bunga dolar tinggi, pengelolaan ekonomi yang kurang serius, serta kebijakan bakar uang. Dan bayar hutang". Pointnya: *)Bunga dolar tinggi memicu aliran modal keluar dan melemahkan rupiah. *)Pelemahan rupiah nyata jika tidak ada perbaikan fundamental ekonomi nasional. *)Terdapat kebijakan bakar uang oleh kementerian keuangan yang berpotensi membebani perekonomian dan memperlemah rupiah. *)Program MBG yang menguras keuangan dengan kebutuhan yang seharusnya cukup untuk 7 juta pelajar miskin, namun kenyataannya sampai 83 juta pelajar termasuk yang kaya dan di kota. Bagi pasar modal ini sudah tidak sehat dari rasio utang yang seakan rendah padahal beresiko sangat tinggi."

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

BAGAIMANA NGATUR TENDERNYA? A: Nanti impor dari AS itu kan harus tender? B: Betul. A: Bagaimana mengaturnya supaya yang menang adalah perusahaan AS. Supaya tidak melanggar perjanjian? B: Mereka udah tau cara ngaturnya.. A: Kan peserta tender ada yang ada dari Singapore, Inggris. Dll.. B: Mereka udah tau cara ngaturnya.. A: Mereka itu siapa? B: Mereka itu "jamak". Bukan tunggal. Anda juga udah tau.. A: Saya belum tau pak.. B: Nanti akan tau.. ### ((( Ini bukan soal teknis. Ini soal rasa. Rasa yakin tanpa bukti. Rasa paham sebelum tahu. Prosedur jadi puisi. Kepastian jadi teka-teki. A belum tahu. B bilang nanti juga tahu. Seperti janji hujan di musim kemarau. Kalau tender itu lomba, mestinya yang cepat, murah tapi berkualitas yang menang. Tapi di sini yang tahu jalan pintas yang tenang. Pembaca CHDI cuma bisa senyum miring. Negeri ini memang kreatif. Bahkan misteri pun punya SOP. Ternyata. Atau mungkin.. )))

Johannes Kitono

Naskah Utrecht.( NU ) Naskah yang ditulis oleh Idja Latuconsina ini di wa kan oleh teman jendral bintang dua. Naskah legal opini ini kritis membahas ART yang sudah dittd kedua pemerintah. Dengan tarif 19 % untuk Indonesia yang semula 32 %. Seolah sukses sudah dapat discount. CHD juga muat penjelasan jubir Menko Ekonomi. Untuk imbangi N U yang sangat kritis dan anggap ART itu tidak Resiprokal. Masalah kedaulatan dan pasal yang memuat penumpang gelap. Misalnya,kalau Indonesia melakukan kesepakatan dagang dengan negara lain. Yang dianggap secara esensi akan merugikan AS. Maka ART yang sudah di ttd bisa dibatalkan dan kembali semula, 32 %. Pasal 5.3 itu jelas membuat NKRI harus aliansi dengan AS. Jelas,tidak boleh sepakat dengan China. Team nego Menko Ekonomi seolah telah kecolongan di pasal ini. Dengan adanya Keputusan MA-AS yang membatalkan Tariff Trump yang dianggap menyalahi UU-AS. Apakah ART yang sudah di ttd oleh para pihak masih berlaku atau harus direvisi ? Kita tunggu beritanya dari CHD. Thx untuk NU yang secara kritis memikirkan kedaulatan NKRI. Dan itu adalah harga mati. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia

Liam Then

@Bang Agus. Perjanjian dagangnya Malaysia sama Amerika lebih parah lagi sebenarnya. Itu habis juga PM-nya kena kritik di ono. Tenang saja , Amerika tak akan "neken" RI kebangetan, karena posisi geostrategis Indonesia yang sangat seksi .

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

KEDAULATAN EKONOMI: TERANCAM ATAU DITANTANG? Perjanjian dagang dengan Amerika Serikat belum tentu menggerus kedaulatan ekonomi Indonesia. Tapi titik rawannya nyata. Membuka pasar luas artinya ruang kebijakan makin sempit. Secara hukum tetap berdaulat. Secara pilihan, lebih terbatas. Janji dagang itu seperti cicilan. Begitu teken, fleksibilitas ikut dibayar. Ada pula soal ketergantungan. Energi dan bahan baku dari satu sumber membuat posisi tawar menurun saat cuaca politik berubah. Ketergantungan bukan penjajahan. Tapi juga bukan posisi nyaman. Di sisi lain, ada peluang. Tarif ekspor turun. Investasi teknologi masuk. Jika transfer teknologi benar terjadi, kapasitas dalam negeri naik. Itu justru memperkuat kedaulatan. Masalahnya klasik. Bukan teks perjanjiannya. Tapi implementasinya. Dimensi geopolitik juga ikut duduk di meja. Kerja sama ekonomi bisa memengaruhi ruang gerak diplomasi. Sementara urusan data dan standar tetap aman selama hukum domestik benar-benar ditegakkan. Di situ ujian sesungguhnya. Jadi ancaman? Belum tentu. Tantangan? Jelas. Kedaulatan modern bukan bebas dari pengaruh. Tapi mampu memilih tanpa panik. Negara kuat bukan yang menutup pintu. Tapi yang tahu kapan membuka, kapan menawar, dan kapan berkata cukup. Perjanjian itu kertas. Daya tawar itu otot. Jangan sampai ototnya diet.

Lagarenze 1301

Santai Sejenak. Presiden Trump mengunjungi sekolah. Ia bertanya kepada para siswa, siapa di antara mereka yang merupakan penggemar Trump. Para siswa tidak begitu mengerti apa itu penggemar Trump. Tetapi karena mereka mendapat kode dari para guru, semua mengangkat tangan. Ops, kecuali siswa bernama Albert. Trump bertanya kepada Albert kecil, mengapa berbeda dengan semua temannya. “Karena saya bukan penggemar Trump," kata Albert. “Mengapa kamu bukan penggemar Trump?” “Karena saya seorang Demokrat.” Trump bertanya mengapa ia seorang Demokrat. Albert menjawab, “Ibu saya seorang Demokrat dan ayah saya seorang Demokrat, jadi saya seorang Demokrat.” Trump kesal, dan seperti biasa, langsung meledak, "Jika ibumu idiot dan ayahmu brengsek, kamu akan jadi apa?” ​​Albert dengan tenang menjawab, “Jadi penggemar Trump.”

Liam Then

Takut amat dengan Amerika. Saya kira-kira jika 10jt orang Indonesia ditanya apakah mau kerja ke Amerika, berapa kira-kira yang bakal jawab Ya?

Johannes Kitono

Anti Dumping. Bisnis dengan AS tidak gampang walakin dollarnya memang menggiurkan.Misalnya, ekspor Udang ke AS beberapa kali dapat masalah seperti TED. Cara penangkapan udang tanpa TED di Papua yang diekspor ke AS. Dianggap membahayakan Penyu,binatang yang dilindungi di AS. TED ( Turtle Exclusive Device ) adalah alat yang dipasang di pukat Harimau. Dimana hanya udang dan ikan yang bisa masuk jaring tanpa penyu yang terhalang TED. Indonesia lolos dari setelah DKP dan Gappindo dan Asosiasi terkait melobby ke AS. Team AS yang audit ke lokasi penangkapan udang. Ternyata menyalahi aturan baku tentang sampling. Sample kapal udang yang ditinjau tidak mewakili populasi. Padahal teori Statistik itu ada kuliahnya di semester I FE- UI, kata Tanto, Dirjendaglu. Sesudah lolos TED ada lagi Petisi Anti Dumping dari nelayan AS. Mereka anggap harga udang Indonesia yang diekspor ke AS terlalu murah. Akibat subsidi BBM pemerintah. Udang diekspor dengan harga yang lebih murah dari pasar domestik. Jelas merugikan nelayan AS. Jadi semua udang yang masuk ke AS akan dikenakan tarif tinggi. Aturannya, hasil tariff itu jadi milik Asosiasi Penangkap Udang yang ajukan Petisi. Untuk remedy kerugian mereka.Dan yang lagi trend udang terkontaminasi radio aktip. Bisa jadi pernah dimakan Donald Trump. Tidak heran Presiden AS tidak aktip sekali membuat ulah menggoncang bisnis di dunia. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Ibnu Shonnan

Ada dua kata yang menarik di penjelasan staf ekonomi itu : memberi akses. Meskipun hanya dua kata, tapi memuat seribu makna..

Liáng - βιολί ζήτα

Denis Healey’s First Law of Holes. Surat kabar harian The Guardian, edisi kemarin, sepertinya menyindir Presiden Donald Trump..... dengan mengutip "Denis Healey’s First Law of Holes" : "If you are in a hole, stop digging". Hukum Lubang Pertama Denis Healey, menyatakan : "Jika Anda berada di dalam lubang, berhentilah menggali". Denis Healey adalah Menteri Keuangan Inggris (Chancellor of the Exchequer), tahun 1974 - 1979. If you are in a hole, stop digging (Jika Anda berada di dalam lubang, berhentilah menggali) dimaksudkan sebagai metafora untuk menangani krisis, menyarankan bahwa ketika berada dalam situasi sulit atau tidak dapat dipertahankan, seseorang harus berhenti melakukan tindakan yang memperburuk situasi. Entahlah..... apakah Presiden Donald Trump masih bisa mengkalkulasi dengan baik plus-minus-nya bagi Amerika sendiri, atas segala kebijakan yang sedang dijalankannya sekarang ini ?? Ataukah, mungkin..... "kalkulator DT yang sudah error" ??

Juve Zhang

Tim dagang India batal ke Washington setelah ada keputusan Pengadilan batal semua Tariff Trumpet.....inilah negara Amerikana sudah gak jelas aturan tarif...sudah maksa beli jagung bakar tempe goreng tahu bacem....sudah miskin masih bergaya orang kaya....sudah defisit 850 milyar USD setahun masih bergaya seperti Kaya....kasihan otak kalau sudah UPNORMAL....wkwk

Murid SD Internasional

Tulisan saya di bawah dimaknai keliru oleh Pak Guru @Fuad Nurhadi, sehingga Pak Guru @Liam Then misuh-misuh ke saya. Padahal mana pernah saya sarkas ke perusuh-perusuh senior. Saya kan orangnya to the point. Kalau kritik, pasti kritik lugas orangnya langsung, tidak perlu pakai acara sindir menyindir. Jadi yang benar adalah, saya menyetujui dengan penuh semangat, gagasan untuk memberangkatkan para perusuh pelesiran keliling negara-negara di dunia, dengan Pak Dahlan Iskan sebagai sponsornya. Bayangkan nanti kolom komen CHD selama satu minggu berisi 1.000+ komen dari para perusuh yang saling bikin novel mendadak di kolom komen, menceritakan semua yang dilihat selama keliling dunia. Jadi tolong, tulisan saya jangan dipelintir. Kalau saya pejabat negara, boleh lah ucapan saya dipelintir, tapi kan saya bukan pejabat. Hehe.

Er Gham 2

Radar yang digunakan Iran mungkin (mungkin lho) bisa dibuat tidak berfungsi. Dan Trump bisa leluasa mondar mandir. Cukup 6 jam sana.

yea aina

Keberanian itu hanya dimiliki segelintir orang saja. Di sini yang berani mempersoalkan hal terkait kepentingan bisnis triliunan, hampir dipastikan akan terjegal. Buntu. Seperti pertanyaan itu: mengapa kita yang masih mengimpor BBM, tapi tidak berani mengembangkan mobil tanpa bbm. Kan kalau bisa mandiri transportasi tanpa BBM, selain hemat devisa juga mempercepat kemajuan bersama. Tapi kepentingan bisnis sekelompok orang yang mapan, jika merasa terancam, selalu punya cara bertahan. Status quo. Rasanya banyak bertanya dan mempersoalkan potensi pemborosan uang negara: sia-sia belaka. Pasal 1: penguasa selalu benar, jika melakukan kekeliruan, kembali ke pasal ini.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Komentar: 125

  • Gregorius Indiarto
    Gregorius Indiarto
  • Lukman Nugroho
    Lukman Nugroho
  • Lukman Nugroho
    Lukman Nugroho
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Gregorius Indiarto
      Gregorius Indiarto
  • yea aina
    yea aina
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Johan
    Johan
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
    • Udin Salemo
      Udin Salemo
  • Runner
    Runner
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • Liam Then
      Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Liam Then
    Liam Then
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Liáng - βιολί ζήτα
    Liáng - βιολί ζήτα
  • Denny Herbert
    Denny Herbert
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Lagarenze 1301
    Lagarenze 1301
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • nico gunawan huang
    nico gunawan huang
    • bocah ilank
      bocah ilank
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
  • Er Gham 2
    Er Gham 2
    • nico gunawan huang
      nico gunawan huang
  • Johannes Kitono
    Johannes Kitono
    • nico gunawan huang
      nico gunawan huang
    • Liam Then
      Liam Then
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • heru pujihastono
    heru pujihastono
  • Hendro Purba
    Hendro Purba
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
  • Bruce Wijaya
    Bruce Wijaya
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • D' Swan
    D' Swan
  • Kang Sabarikhlas
    Kang Sabarikhlas
    • Liam Then
      Liam Then
    • MULIYANTO KRISTA
      MULIYANTO KRISTA
  • Liam Then
    Liam Then
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • nico gunawan huang
      nico gunawan huang
  • Echa Yeni
    Echa Yeni
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
  • Tiga Pelita Berlian
    Tiga Pelita Berlian
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
    • Echa Yeni
      Echa Yeni
    • nico gunawan huang
      nico gunawan huang
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
    • Juve Zhang
      Juve Zhang
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Juve Zhang
    Juve Zhang
  • Liam Then
    Liam Then
  • Taufik Hidayat
    Taufik Hidayat
    • Runner
      Runner
  • Liam Then
    Liam Then
    • nico gunawan huang
      nico gunawan huang
    • Liam Then
      Liam Then
  • Em Ha
    Em Ha
    • Liam Then
      Liam Then
  • djokoLodang
    djokoLodang
    • Liam Then
      Liam Then
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Liam Then
    Liam Then
  • Liam Then
    Liam Then
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Thamrin Dahlan YPTD
    Thamrin Dahlan YPTD
  • Narti Ayuk
    Narti Ayuk
    • Liam Then
      Liam Then
    • Jokosp Sp
      Jokosp Sp
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Liam Then
      Liam Then
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Sugi
    Sugi
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • doni wj
      doni wj
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • djokoLodang
    djokoLodang
  • Liam Then
    Liam Then
    • Liam Then
      Liam Then
  • DeniK
    DeniK
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • Edi Sampana
    Edi Sampana
  • Lègég Sunda
    Lègég Sunda
  • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
    • Lègég Sunda
      Lègég Sunda
    • Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
      Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
  • alasroban
    alasroban
  • Murid SD Internasional
    Murid SD Internasional
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • Jokosp Sp
    Jokosp Sp
  • bitrik sulaiman
    bitrik sulaiman
  • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • MZ ARIFIN UMAR ZAIN
      MZ ARIFIN UMAR ZAIN
    • Lègég Sunda
      Lègég Sunda