Kemenperin juga melihat kehadiran pabrik baterai di dalam negeri sebagai langkah strategis mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ke angka 100 persen.
Pembina Industri Ahli Muda Tim Kerja Kendaraan Listrik Berbasis Baterai (KLBB) Kemenperin, Patia Junjungan Maningdo, menyatakan penggunaan baterai dalam negeri akan menjadi faktor terbesar untuk mencapai target TKDN 100 persen.
"Untuk mencapai TKDN 100 persen (sektor kendaraan listrik), paling besar itu persentase-nya ya dengan penggunaan baterai dalam negeri," kata Patia.
Roadmap pemerintah menargetkan peningkatan TKDN dari 40 persen menjadi 60 persen pada tahun 2027. Nah, keberadaan pabrik baterai ini akan sangat membantu pencapaian target tersebut.
Bahan Baku untuk Pabrik Mobil EV Tersedia
Tambang nikel di Halmahera Timur PT SDA, anak usaha milik ANTAM dan CBL, patut diperhitungkan. Kapasitasnya, hingga 13,8 juta wet metrc ton (wmt) per tahun.
“Posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia menjadi nilai tambah yang signifikan, karena memberikan kepastian pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan daya saing baterai dari sisi harga dan keberlanjutan rantai pasok,” ujar Corporate Secretary Division Head PT ANTAM, Syarif Faisal Alkadrie.
Disebutkannya, sejumlah perusahaan otomotif global telah menyatakan minat menjadi offtaker baterai EV dari pabrik baterai di Karawang. Terutama, yang memiliki kemitraan strategis dengan CATL dan mitra ekosistemnya.
Menurutnya, ketertarikan ini sejalan dengan tren peningkatan kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik di kawasan Asia-Pasifik dan global.
Syarif mengatakan selain untuk kebutuhan kendaraan listrik, baterai yang diproduksi dari pabrik di Karawang juga ditujukan untuk melayani permintaan dari sektor battery energy storage system (BESS), yang juga menunjukkan pertumbuhan pesat.
“Dengan demikian, hasil produksi dari proyek ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan baik pasar domestik maupun ekspor, sekaligus memperkuat peran Indonesia sebagai pusat pasokan baterai di tingkat regional dan global,” tuturnya.
Peran Insentif dan Kebijakan yang Konsisten
Pegiat otomotif nasional Fitra Eri Purwotomo, menekankan eksistensi EV ke depan sangat bergantung pada regulasi pemerintah yang konsisten.
Insentif pajak, terutama untuk mobil listrik yang dirakit di dalam negeri dengan TKDN tertentu, akan membuat harga lebih bersaing.
"Karena baterai itu bobotnya besar. Volumenya juga besar di mobil. Sehingga akan menyumbang persentase Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang signifikan bagi sebuah mobil," jelas Fitra Eri.
Menurutnya, keberadaan pabrik baterai di Indonesia menjadi semakin strategis untuk mendapatkan insentif pajak yang lebih besar.
Diketahui, pabrik yang tengah dibangun di Karawang, memproduksi sel baterai, juga akan terintegrasi dengan 6 sub-proyek lain mulai dari tambang nikel laterit, fasilitas peleburan RKEF, pabrik hidrometalurgi (HPAL), pabrik bahan katoda, hingga fasilitas daur ulang baterai. Seluruh rantai pasok ini dirancang untuk memperkuat hilirisasi industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor.