Pabrik Baterai EV Dibangun, Siapa Diuntungkan?

Jumat 11-07-2025,07:14 WIB
Reporter : Tim Lipsus
Editor : Khomsurijal W

“Daur ulang menjadi solusi strategis untuk mengelola limbah baterai secara bertanggung jawab, sekaligus memungkinkan pemulihan logam-logam bernilai ekonomis,” jelas Syarif kepada Disway. 

“Untuk digunakan kembali dalam produksi baterai baru,” imbuhnya.

Keberadaan fasilitas ini vital untuk memastikan siklus hidup baterai tidak berhenti di produk akhir, melainkan terus berputar lewat pemulihan logam bernilai tinggi seperti nikel, kobalt, dan litium. 

Upaya ini mendukung visi besar pemerintah dalam menciptakan industri hijau yang mandiri dan efisien. 

Dengan menekan ketergantungan pada impor bahan baku dan mengurangi potensi limbah berbahaya, daur ulang menjadi solusi konkret yang menempatkan Indonesia di garis depan revolusi energi bersih, menjadikan negeri ini bukan hanya produsen, tetapi juga pelindung masa depan energi berkelanjutan.

“Dalam memastikan ketahanan pasokan bahan baku, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan industri baterai yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir,” paparnya.

 

Tantangan Adopsi Mobil Listrik

Harga Mahal: Masih menjadi penghalang utama bagi daya beli masyarakat di Indonesia.

Range Anxiety dan Ketersediaan Charging Station: Kekhawatiran konsumen tentang jarak tempuh dan sulitnya menemukan stasiun pengisian daya. Terutama di luar kota besar.

Infrastruktur After-Sales Service: Jangkauan layanan purnajual yang belum merata ke pelosok Indonesia menjadi kekhawatiran. Utamanya di kota-kota kecil.

Keseimbangan Pasar: Pasar BEV di Indonesia masih didominasi merek-merek tertentu (terutama China). Sehingga perlu upaya pemerintah untuk menyeimbangkan persaingan. Tujuannya semua merek bisa survive dan konsumen punya lebih banyak pilihan.

Konsistensi Regulasi: Industri baterai dan EV membutuhkan investasi sangat besar. Konsistensi regulasi pemerintah sangat penting agar pengusaha bisa merencanakan bisnis jangka panjang.

 

Optimisme Pemerintah & Strategi TKDN 100 Persen

Pemerintah Indonesia menunjukkan optimisme tinggi terhadap masa depan kendaraan listrik dan berupaya keras mencapai target TKDN 100 persen.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), secara penuh mendukung proyek ekosistem baterai EV ini. 

Kepala Biro Humas Kemendag, N. M. Kusuma Dewi, menyatakan Kemendag selalu mendukung industri berorientasi ekspor dan bernilai tambah. 

“Pemerintah optimis kehadiran pabrik baterai EV ini akan menyerap nilai tambah ekonomi hingga USD 48 miliar (setara Rp 481,55 triliun). Tentu ini menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” jelas Kusuma Dewi.

Kategori :