SIDOARJO, DISWAY.ID - Operasi pencarian dan penanganan darurat pasca-ambruknya musala ponpes Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus dikebut oleh tim gabungan yang terdiri dari BNPB, Basarnas, BPBD, TNI, Polri, Dinas Kesehatan, PMI, Dinas Sosial, Pemadam Kebakaran, Dinas PU-SDA, dan para relawan.
Sejauh ini upaya difokuskan pada pencarian korban, identifikasi jenazah, serta pendampingan bagi keluarga yang terdampak.
Hingg kini tercatat 167 orang menjadi korban dalam insiden tragis tersebut.
Dari jumlah itu, 118 orang berhasil ditemukan, terdiri dari 104 orang selamat dan 14 meninggal dunia.
Sementara itu, 49 orang masih dalam proses pencarian.
BACA JUGA:Korban Tewas Ponpes Ambruk di Sidoarjo Bertambah Jadi 37 Orang, 26 Santri Dilaporkan Hilang
Evakuasi Dikebut 24 Jam
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan penanganan darurat tetap dipusatkan pada operasi pencarian dan evakuasi jenazah.
Tim gabungan bekerja tanpa henti selama 24 jam dengan sistem tiga shift.
"Kita tidak pernah kekurangan personel. Kita datangkan ratusan personel dengan tiga pembagian waktu pekerjaan. Mereka terus bekerja secara profesional," katanya kepada awak media.
Tim lapangan menghadapi tantangan berat berupa tumpukan beton tebal yang menghambat akses ke titik diduga terdapat korban.
Oleh karena itu, alat berat terus dioperasikan dengan pengawasan ketat agar proses evakuasi tetap aman bagi petugas di lapangan.
Setiap jenazah yang ditemukan langsung dibawa ke Posko DVI (Disaster Victim Identification) untuk proses identifikasi.
Tim DVI gabungan Polri dan tenaga medis bekerja ekstra hati-hati, sebab sebagian besar korban ditemukan dalam kondisi sulit dikenali.
Proses DVI dilakukan melalui pencocokan data antemortem (data korban sebelum meninggal, seperti catatan medis, sidik jari, atau DNA keluarga) dan data postmortem (data dari jenazah).