Diplomasi Presiden Prabowo

Senin 20-10-2025,08:00 WIB
Oleh: Ace Hasan Syadzily

BACA JUGA:Instruktur Berkualitas, Peserta Didik Naik Kelas

BACA JUGA:Kunci Penyelamatan Program MBG

Lebih dari itu, Presiden Prabowo telah berusaha untuk kembali memperkuat diplomasi multilalteral di tengah kecenderungan hubungan internasional yang realis.

Sebuah kecenderungan tata hubungan internasional yang multipolar dan persaingan antar negara, terutama negara-negara besar dunia, seperti Amerika Serikat, Rusia dan Tiongkok.  

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo kerap menyampaikan teori Thucydides, seorang ahli strategi Yunani, yang menyatakan  "the strong do what they can and the weak suffer what they must" (yang kuat akan melakukan apa saja yang diinginkan, dan yang lemah akan menderita dengan kelemahannya).

Kecenderungan dalam hubungan internasional saat ini mengarah pada realitas doktrin itu. 

Namun, Presiden Prabowo dalam pidatonya di Sidang Umum PBB yang lalu menegaskan “we must reject this doktrine. The UN exists to reject this doctrine”. 

BACA JUGA:Menagih Janji Program Teknokrasi 'Bappenas NU' Model Erick Thohir di Lakpesdam

BACA JUGA:Kesehatan Gigi Masyarakat Indonesia: Antara Kebutuhan dan Ketersediaan Dokter Gigi

PBB harus menolak doktrin Thucydides ini. 

Dengan kata lain, dunia harus mendorong kerjasama multilateralisme yang mendorong perdamaian, saling menghargai dan menghormati, di atas prinsip-prinsip kemanusiaan.

Dengan demikian, situasi geopolitik akan mendorong terwujudnya kesejahteraan.

*Ace Hasan Syadzily (Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional/Lemhannas RI)*

Kategori :