Kajian ini menjadi tonggak awal BRIN dalam memperkuat fondasi data ilmiah nasional terkait produk tembakau alternatif dan teknologi nikotin di Indonesia. Melalui riset ini, BRIN berupaya memastikan agar kebijakan publik di bidang pengendalian tembakau dapat disusun secara proporsional dan berbasis bukti ilmiah (evidence-based policy making).
BACA JUGA:Sadis! Kesal Tak Diberi Uang Rokok, Anak Pengidap Gangguan Jiwa Habisi Ayah Kandung di Mauk
"Temuan ini menjadi langkah awal dalam membangun fondasi ilmiah kebijakan tembakau di Indonesia. Dengan memahami profil toksikan berbagai produk nikotin secara akurat, pemerintah dan masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan berbasis bukti," imbuhnya.
Lebih dari sekadar publikasi riset, kegiatan diseminasi ini menjadi sarana BRIN untuk menjembatani sains dengan kebijakan publik.
Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari akademisi, peneliti, kementerian dan lembaga pemerintah, hingga pelaku industri-untuk bersama-sama menafsirkan hasil riset secara objektif dan membangun pemahaman yang lebih komprehensif terhadap isu rokok elektronik.
BACA JUGA:Simak Isi Permendikbud RI No 64 Tahun 2015, Larangan Merokok di Kawasan Sekolah
Melalui pendekatan ini, BRIN berkomitmen untuk mendorong kolaborasi riset lintas sektor, memperkuat kapasitas pengujian nasional, serta meningkatkan literasi sains dan komunikasi risiko di masyarakat.
Dengan demikian, hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat menjadi rujukan kredibel bagi perumusan kebijakan yang melindungi kesehatan masyarakat sekaligus mengakomodasi dinamika inovasi industri di Indonesia.
"BRIN mendorong agar riset semacam ini tidak berhenti di laboratorium, tetapi diintegrasikan ke dalam proses penyusunan regulasi dan kebijakan publik. Dengan kolaborasi lintas sektor, kita bisa memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya melindungi kesehatan masyarakat, tetapi juga mendorong inovasi yang bertanggung jawab di industri dalam negeri," tegasnya.