Prestasi Kampus, Harapan Bangsa

Jumat 21-11-2025,07:00 WIB
Oleh: Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., P

Riset sebagai DNA Peradaban Baru

QS Ranking tidak sekadar menilai popularitas kampus. Ia mengukur hal-hal yang jauh lebih fundamental: reputasi akademik, kualitas riset, sitasi, publikasi internasional, sampai kolaborasi global.

BACA JUGA:Sembilan Alasan Nusron Wahid Layak dan Berpeluang Terpilih Ketum PBNU

BACA JUGA:Saatnya yang Muda Kembali Memimpin PBNU

Dengan menembus peringkat 801–850 se-Asia, UIN Jakarta menunjukkan peningkatan signifikan dalam: produktivitas riset dosen, jumlah publikasi bereputasi, kemitraan internasional, dan relevansi penelitian terhadap isu global.

Hal ini penting karena daya saing bangsa dimulai dari daya saing ilmu.

Thomas Friedman dalam The World is Flat (2005) menyebut bahwa negara modern tidak lagi bersaing lewat kekuatan militer atau sumber daya alam, melainkan lewat tata kelola pengetahuan (knowledge governance).

Dengan riset sebagai DNA baru, UIN Jakarta bergerak menuju ekosistem itu.

Di sinilah kebanggaan itu tumbuh: PTKIN menunjukkan bahwa ilmu agama tidak menghalangi modernitas—justru memperhalus dan memperkukuh fondasinya.

Revolusi SDM: Dari Kampus ke Generasi Emas 2045

Dalam 20 tahun ke depan, Indonesia akan memasuki bonus demografi terbesar dalam sejarahnya.

BACA JUGA:Dua Figur Besar Layak Menjadi Rais Aam PBNU Periode Mendatang.

BACA JUGA:Merebut Panggung Internasional: UIII, Intelektual Muslim Indonesia dan Masa Depan Pendidikan Islam

Kita akan memiliki lebih dari 70% penduduk usia produktif.

Namun bonus itu bisa menjadi berkah atau bencana, tergantung pada kualitas SDM-nya. World Bank (2025) memperingatkan: “Negara dengan kualitas pendidikan rendah akan mengalami middle-income trap paling tajam dalam periode 2040-an.”

Karena itu, prestasi UIN Jakarta di pemeringkatan dunia memiliki implikasi strategis: meneguhkan kepercayaan diri Indonesia bahwa SDM unggul bisa lahir dari lembaga keagamaan; membangun standar baru bahwa kualitas global bukan monopoli kampus umum; mendobrak stigma bahwa PTKIN tidak kompetitif dalam riset dan inovasi; dan menjadi model pendidikan integral yang menggabungkan ilmu, iman, dan akhlak—formula yang justru dibutuhkan dunia pasca-krisis moral global.

Kategori :