Kualitas SDM Indonesia ditentukan oleh sejauh mana perguruan tinggi mampu mendidik manusia yang tangguh secara intelektual dan matang secara moral.
UIN Jakarta sedang menuju ke titik itu.
Filosof Martha Nussbaum dalam Not for Profit (2010) menegaskan bahwa universitas adalah ruang pembentukan kapasitas kritis dan kepekaan sosial, bukan hanya produsen gelar.
BACA JUGA:Mencari Kandidat Ketua Umum PBNU Selanjutnya
BACA JUGA:MQK Nasional Fiqih Siyasah dan Upaya PKB Mewujudkan Generasi Santri yang Nasionalis
Dan dari perspektif Islam, Al-Ghazali menyebut ilmu sebagai “cahaya yang membimbing pada kebijaksanaan”.
Maka ketika UIN Jakarta masuk peringkat terbaik Asia, maknanya bukan sekadar kompetisi ranking.
Maknanya adalah: keunggulan karakter, ketekunan riset, etika akademik, dan pembentukan insan beradab yang siap memikul tanggung jawab sejarah.
Pendidikan adalah investasi jangka panjang peradaban. Ranking adalah indikator, bukan tujuan akhir.
Tujuan akhir adalah manusia Indonesia yang merdeka pikirannya dan luhur akhlaknya.
Daya Saing Global dan Jejak PTKIN
Untuk pertama kalinya dalam sejarah QS Ranking, tiga PTKIN bertengger dalam pemeringkatan Asia: UIN Jakarta (801–850 Asia), UIN Malang (1.301–1.400 Asia), dan UIN Bandung (1.401–1.500 Asia).
BACA JUGA:Kepahlawanan
BACA JUGA:Pahlawan Baru di Zaman Ilmu
Ini menunjukkan dua hal: pertama, PTKIN telah memasuki orbit global dan kedua, model integrasi ilmu–agama Indonesia mulai diakui dunia.
Faktanya, UIN Jakarta kini satu kluster dengan perguruan tinggi kelas dunia seperti: Cornell University (AS), Johns Hopkins University (AS), Freiburg University (Jerman), University of Queensland (Australia), University of Warwick (Inggris), dan Tilburg University (Belanda).