Di Depan PM Jepang, Trump Samakan Tragedi Pearl Harbor seperti Serangan AS ke Iran

Di Depan PM Jepang, Trump Samakan Tragedi Pearl Harbor seperti Serangan AS ke Iran

Saat menjamu perdana menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Oval Office pada hari Kamis, Donald Trump tidak bisa menahan diri untuk mengejek Jepang mengenai serangan tahun 1941 di Pearl Harbor selama Perang Dunia II --The Guardian

JAKARTA, DISWAY.ID - Presiden AS Donald Trump menyamakan serangan AS ke Iran seperti serangan kejutan Jepang ke Pearl Harbor tahun 1941 silam. 

Pernyataan itu diungkap Trump saat bertemu perdana menteri Jepang Sanae Takaichi.

Saat menjamu perdana menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Oval Office pada hari Kamis, Donald Trump tidak bisa menahan diri untuk mengejek Jepang mengenai serangan tahun 1941 di Pearl Harbor selama Perang Dunia II dilansir dari The Guardian.

Setelah serangkaian pertanyaan tentang konflik yang sedang berlangsung di Iran, presiden AS ditanya oleh seorang reporter Jepang:

BACA JUGA:Pesawat Tempur F-35A Andalan Amerika Kandas oleh Rudal Iran, Teknologi Stealth Dipertanyakan

 “Mengapa Anda tidak memberi tahu sekutu AS di Eropa dan Asia serta Jepang sebelum menyerang Iran?”

Trump menjawab:

 “Satu hal yang tidak ingin Anda lakukan adalah memberi terlalu banyak sinyal. Saat kami masuk, kami masuk dengan sangat keras dan kami tidak memberi tahu siapa pun karena kami menginginkan kejutan. Siapa yang lebih tahu tentang kejutan selain Jepang?”

Terdengar tawa di ruangan, tetapi presiden belum selesai. Ia bertanya dengan nada bercanda:

 “Mengapa Anda tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor?”

BACA JUGA:Iran Lebaran

Tiba-tiba tawa pun mereda. Mata Takaichi membesar dan ia menggeser posisinya di kursi saat Trump menyinggung momen yang membawa AS masuk ke Perang Dunia II.

Serangan Jepang terhadap pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbor, Hawaii, terjadi pada 7 Desember 1941, hampir lima tahun sebelum Trump lahir.

Serangan itu menewaskan 2.390 warga Amerika dan AS menyatakan perang terhadap Jepang keesokan harinya. Presiden saat itu, Franklin Delano Roosevelt, menyebutnya sebagai “tanggal yang akan selalu dikenang dengan kehinaan”.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: