ISRAEL, DISWAY.ID - Israel mengumumkan bahwa mereka berhasil menewaskan kepala staf de facto Hizbullah dalam sebuah serangan udara di wilayah pinggiran Beirut, Lebanon.
Aksi tersebut memicu ketegangan baru, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan Israel siap melakukan serangan lanjutan jika dianggap perlu.
Serangan yang terjadi di selatan Beirut itu merupakan yang pertama dalam beberapa bulan terakhir.
Targetnya adalah Haytham Ali Tabatabi, tokoh senior Hizbullah yang oleh Israel disebut sebagai arsitek penguatan militer kelompok tersebut, sebuah tindakan yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata tahun lalu.
“IDF baru saja menyerang pemimpin staf Hizbullah di jantung Beirut, yang bertanggung jawab atas peningkatan kemampuan militer organisasi tersebut,” demikian pernyataan kantor Netanyahu.
Pejabat Israel menambahkan bahwa negara tersebut akan terus bertindak “di mana pun dan kapan pun” demi memenuhi tujuan militernya.
Korban dan Reaksi Internasional
Sumber medis melaporkan kepada Reuters bahwa serangan udara Israel menewaskan sedikitnya dua orang dan menyebabkan puluhan lainnya terluka.
Tabatabi sebelumnya telah masuk daftar sanksi Amerika Serikat sejak 2016, bahkan pemerintah AS sempat menawarkan hadiah hingga 5 juta dolar bagi informasi keberadaannya.
Ia dikenal sebagai orang nomor dua dalam struktur komando Hizbullah, berada tepat di bawah Sekretaris Jenderal Naim Qassem.
Namun, menurut berbagai laporan, Amerika Serikat, yang sebelumnya berperan dalam memediasi gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah pada November tahun lalu—tidak diberi informasi terlebih dahulu mengenai serangan ini.
BACA JUGA:Ramai Narasi Gus Yahya Ditekan Mundur dari Ketum PBNU, Isu Pusaran Tambang dan Israel Jadi Pemicu
Israel Tegaskan Sikap Tegas terhadap Hizbullah
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz yang memberikan izin resmi untuk operasi tersebut, menyatakan bahwa Israel tidak akan membiarkan Hizbullah kembali membangun ancamannya setelah perang 2024.
“Kami akan terus bertindak tegas demi melindungi penduduk utara dan keamanan Negara Israel,” ujar Katz.
Netanyahu sebelumnya sudah memberi sinyal keras beberapa jam sebelum serangan dilakukan, menegaskan bahwa Israel akan melakukan “apa pun yang diperlukan” untuk mencegah Hizbullah memulihkan kekuatan militernya.