Ekonomi 'Mandi Keringat' Jelang Lebaran, Rakyat Butuh Guyuran Kas Negara
Ilustrasi aktivitas pedagang komoditi kebutuhan pokok menunggu pembeli di pasar tradional-Bianca-
Tertegun sejenak melihat angka-angka itu. Angka yang tidak bisa berbohong. Di satu sisi, ada optimisme pemerintah tentang belasan juta lapangan kerja. Di sisi lain, ada emak-emak di Bekasi yang mengeluh pesanan nastarnya merosot. Ada pedagang di Palmerah yang menatap nanar lorong pasar yang kian lengang.
INILAH potret ekonomi kita menjelang Idulfitri 2026. Sebuah anomali. Di tengah bayang-bayang mesiu yang memanas di Timur Tengah, masyarakat kita sedang bersiap untuk ritual kolosal yakni Mudik.
Sebuah ritual yang menurut pengamat ekonomi UI, Gede Sandra, bukan sekadar pulang kampung, tapi sebuah mesin distribusi kekayaan pasif sebesar Rp50 triliun.
Tapi, apakah mesin itu bisa menyala jika bensinnya alias daya beli masyarakat yang sedang sekarat?
Biasanya, menjelang Lebaran, para pakar keuangan akan tampil di televisi. Isinya seragam: tips mengelola THR, cara berhemat, hingga daftar belanjaan yang harus dipangkas.
Gede Sandra justru memutar balik logika itu. Dengan tegas, ia menyebut masyarakat menengah ke bawah sama sekali tidak butuh "kuliah umum" soal cara berhemat. Kenapa? Karena mereka sudah menjadi profesor di bidangnya sendiri akibat keadaan.
"Saran saya, masyarakat ini tidak perlu diajari untuk tidak membeli apa-apa atau berhemat. Karena yang namanya pendapatan mereka, apalagi di waktu Lebaran, memang habisnya cuma untuk itu saja," tegas Gede saat berbincang dengan Disway, Minggu, 15 Maret 2026.
Uang yang ada di kantong buruh, sopir, hingga pegawai rendahan sudah punya "majikan" masing-masing. Ada yang sudah lari ke loket tiket kereta, ada yang sudah dipesan oleh pemilik rental mobil, dan yang paling sakral: sudah dialokasikan untuk amplop sangu sanak saudara di desa.
Bagi Gede, menyuruh mereka berhemat di saat Lebaran adalah sebuah kesia-siaan sosiologis. Justru, momen inilah saatnya uang mengalir dari kota ke desa. Inilah momen "pemerataan" yang tidak bisa dilakukan oleh kebijakan birokrasi manapun. Namun, masalahnya sekarang, dompet mereka sudah kempis bahkan sebelum kaki menginjak terminal.
Jeritan dari Lorong Pasar Palmerah
Mari kita geser kamera ke Pasar Palmerah, Jakarta Selatan. Di sana ada Wardi. Ia bukan pengamat yang bicara angka di atas kertas, tapi praktisi yang merasakan langsung denyut nadi ekonomi dari balik meja dagangan sembakonya.
Bagi Wardi, kenaikan harga jelang Lebaran itu sudah seperti siklus alam. Pasti terjadi. Tapi tahun ini rasanya beda. "Adanya begini-begini aja. Yang ada tiap tahun makin lama makin sepi. Apa yang mau diharapin?" keluhnya pedas.
Data di lapangan memang bikin dahi berkerut. Harga telur sudah nangkring di angka Rp32.000 per kilogram. Beras pulen? Jangan tanya. Sudah menembus Rp20.000 per liter dari yang sebelumnya "hanya" Rp16.000.
Sutardi, pemilik toko beras di pasar yang sama, malah melempar prediksi yang bikin bulu kuduk berdiri. "Dari awal puasa ini mah naiknya. Tapi kita gak tahu apa nanti abis Lebaran bakal turun atau nggak," ucapnya. Biasanya, hukum ekonomi bilang setelah puncak permintaan (Lebaran) harga akan melandai. Tapi dengan konflik global yang tak menentu, hukum itu bisa saja layu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: