Ekonomi 'Mandi Keringat' Jelang Lebaran, Rakyat Butuh Guyuran Kas Negara
Ilustrasi aktivitas pedagang komoditi kebutuhan pokok menunggu pembeli di pasar tradional-Bianca-
Belum lagi urusan cabai. Cabai rawit merah sudah "pedas" duluan di harga Rp100.000 per kilogram. Naik hampir dua kali lipat dari harga normal. Kalau sambal saja sudah mahal, bagaimana Lebaran bisa terasa nikmat?
Nastar yang Kehilangan Peminat
Kondisi ini merembet ke sektor UMKM. Di Bekasi, ada Mae. Ia adalah potret pejuang ekonomi rumah tangga yang mengandalkan momentum Lebaran untuk menyambung napas lewat kue kering.
Dulu, bisnis yang berawal dari hobi tahun 2018 ini selalu manis. Nastar, akar kelapa, hingga kue bawang buatannya selalu ludes. Tapi tahun ini, Mae mengaku omzetnya rontok sekitar 20 persen.
"Tahun ini penjualan agak menurun. Kalau dilihat sekarang juga makin banyak yang jualan, persaingannya makin ketat," kata Mae. Namun, ada faktor yang lebih fundamental yaitu daya beli.
Mae melihat sebuah paradoks. Di atas kertas, upah minimum (UMK) Bekasi dan Jakarta naik. Tapi di pasar, harga baju Lebaran dan kebutuhan pokok naik lebih kencang. "Orang harus lebih pintar mengatur pengeluaran," tambahnya.
Jika harus memilih antara beli beras atau beli nastar Rp80 ribu per toples, kita semua tahu apa pilihan masyarakat.
Kembali ke Gede Sandra. Ia menuding bahwa saat ini bola panas ada di tangan pemerintah. Ancaman krisis akibat konflik Timur Tengah tidak bisa dijawab dengan imbauan normatif agar rakyat bersabar.
Gede mendesak pemerintah segera membuka brankas negara. "Pemerintah seharusnya menyiapkan bantalan dana yang lebih. Termasuk membantu perusahaan yang tidak mampu bayar THR," jelasnya.
Logikanya sederhana. Jika THR macet, konsumsi mandek. Jika konsumsi mandek, ekonomi nasional yang ditargetkan tumbuh tinggi itu hanya akan jadi dongeng sebelum tidur. Guyuran Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan paket sembako (beras-minyak) menurutnya adalah harga mati yang harus dieksekusi detik ini juga. Bukan besok, bukan nanti setelah Lebaran usai.
Di tengah kemelut daya beli ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data yang cukup melegakan namun sekaligus mencemaskan. Jumlah pengangguran per November 2025 turun menjadi 7,35 juta orang. Tapi, lihatlah siapa yang paling banyak menganggur: lulusan SMK (8,45%) dan Sarjana/S2/S3 (5,38%).
Ini adalah kelompok usia produktif yang seharusnya menjadi penggerak ekonomi. Jika mereka tidak memiliki daya beli karena belum bekerja, maka distribusi uang Rp50 triliun saat Lebaran tadi tidak akan maksimal.
Pemerintah melalui Menaker Yassierli memang optimis. Ada target 19 juta lapangan kerja dalam lima tahun. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga revitalisasi tambak diklaim akan menyerap jutaan tenaga kerja.

Para pedagang pakaian thrifting di Pasar Senen, Jakarta Pusat, sedang menjajakan barang dagangannya.-Candra/Disway.id-
Budiman Sudjatmiko dari BP Taskin bahkan sudah menghitung: Program MBG saja bisa membuka 1,5 juta lapangan kerja lewat dapur-dapur sehat di daerah. "Dari dua program saja (Koperasi dan MBG), sudah tercipta 3,5 juta lapangan kerja," kata Budiman.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: