Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia

Rabu 26-11-2025,08:11 WIB
Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

JAKARTA, DISWAY.ID -- Perjalanan itu terjadi beberapa tahun lalu.

Kami datang ke Mesir untuk menjalin kerja sama dengan Universitas Al-Azhar—nama yang begitu besar, begitu berpengaruh, dan begitu sering disebut dalam buku pelajaran agama anak-anak Indonesia.

Di sela kunjungan itulah, Dubes Indonesia untuk Mesir saat itu, A.M. Fachir, menyampaikan sebuah kegelisahan yang tak pernah hilang dari pikirannya.

“Setiap ke Al-Azhar, tamu kita selalu minta satu hal,” katanya.

BACA JUGA:NU, Organisasi dan Arogansi

BACA JUGA:Yang Ilahi dan Yang Insani di Jalan Kramat

“Tambah beasiswa.”

Masalahnya, Al-Azhar bukan kampus sembarangan.

Ia hidup dari wakaf produktif sejak zaman Fatimiyah—tanah luas, sebagian besar di pusat Kota Kairo, disewakan untuk bisnis, dan hasilnya kembali ke pendidikan.

Dari sumber itulah beasiswa mengalir ke seluruh dunia Islam. Dan Indonesia? Penerima beasiswa terbanyak.

Bahkan Syekh Al-Azhar Ahmad Thayeb menyebut langsung: sekitar 13.000 mahasiswa Indonesia belajar dengan beasiswa Al-Azhar.

“Ini seperti mengemis dengan batok emas,” keluh Dubes Fachir waktu itu.

Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, meminta bantuan dari negara yang ekonominya sering justru membutuhkan pertolongan.

BACA JUGA:Enam Alasan Kuat Gus Zulfa Layak Mengemban Amanah (Pjs) Ketua Umum PBNU

BACA JUGA:Prestasi Kampus, Harapan Bangsa

Kategori :