Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia

Rabu 26-11-2025,08:11 WIB
Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

BACA JUGA:Dua Figur Besar Layak Menjadi Rais Aam PBNU Periode Mendatang.

BACA JUGA:Merebut Panggung Internasional: UIII, Intelektual Muslim Indonesia dan Masa Depan Pendidikan Islam

Pertama, reputasi pendidikan.

Dua lembaga pemeringkat terbesar—QS World University Rankings dan Times Higher Education (THE)—menegaskan bahwa proporsi mahasiswa internasional adalah indikator utama mutu universitas.

QS memberi bobot 5–10% khusus untuk international student ratio, sementara THE memasukkannya dalam indikator international outlook bersama kolaborasi riset lintas negara. 

Artinya: begitu kampus memiliki mahasiswa asing lebih banyak, reputasinya naik, daya tariknya meningkat, dan akhirnya Indonesia ikut terangkat di peta akademik global.

Inilah yang dilakukan Singapura dan Malaysia selama dua dekade terakhir hingga kampus-kampus mereka melesat ke papan atas Asia.

Kedua, ketahanan ekonomi pendidikan.

BACA JUGA:Mencari Kandidat Ketua Umum PBNU Selanjutnya

BACA JUGA:MQK Nasional Fiqih Siyasah dan Upaya PKB Mewujudkan Generasi Santri yang Nasionalis

Riset OECD 2022 tentang Education at a Glance menyebutkan bahwa mahasiswa internasional secara global membayar 2–4 kali lipat dibanding mahasiswa domestik.

Tidak heran banyak universitas kelas dunia—dari Australia hingga Kanada—menganggap mahasiswa asing sebagai pilar penting kesehatan finansial institusi.

Jika satu universitas di Indonesia mencapai komposisi 30–50% mahasiswa internasional, stabilitas keuangan kampus itu akan naik drastis.

Banyak negara menaikkan kualitas pendidikan justru dari surplus ini.

Ketiga, membangun jejaring sahabat Indonesia. Dunia mengenal Indonesia lewat karya para Indonesianist: Clifford Geertz (The Religion of Java), Ben Anderson (Imagined Communities), James Fox, hingga Anthony Reid.

Mereka jatuh hati karena tinggal lama, meneliti, makan, dan hidup di tengah masyarakat kita.

Kategori :