Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia

Rabu 26-11-2025,08:11 WIB
Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

Separuh mahasiswanya berasal dari 55 negara. Ada program khusus untuk perempuan Afghanistan.

Ada mahasiswa Palestina.

Dan setiap tahun, alumni internasional pulang membawa pengalaman Islam Indonesia—Islam yang menghargai kemajemukan, anti-kekerasan, dan bersahabat dengan demokrasi.

Inilah bentuk paling nyata dari diplomasi tangan di atas: Indonesia memberi, bukan meminta.

Indonesia mengundang, bukan memohon. Indonesia menawarkan Islam yang ramah, bukan Islam yang menakutkan.

Indonesia sering disebut sebagai the world’s largest Muslim-majority democracy.

Namun potensi itu terlalu lama “sepi”, tidak tampil sebagai sumber inspirasi global.

Jika diplomasi pendidikan dijalankan serius—dengan UIII sebagai motor utamanya—Indonesia bisa berdiri tegak sebagai rujukan baru dunia Islam.

BACA JUGA:Menakar Ruang Fiskal Daerah di Tengah Penurunan Transfer dan Peningkatan Beban ASN

BACA JUGA:Koperasi Merah Putih: antara Mengejar Efisiensi Bersama dan Merawat Modal Sosial

Rujukan yang bersenyawa dengan budaya, merawat harmoni, dan tumbuh dalam demokrasi.

Pendidikan memperbanyak teman. Teman memperluas jaringan. Jaringan melahirkan peluang.

Dan peluang membawa kesejahteraan.

Itulah inti diplomasi tangan di atas.

Diplomasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga elegan. Indonesia sudah saatnya naik kelas di panggung dunia.

Dan pendidikan adalah tiket paling murah, paling kuat, dan paling bermartabat untuk menuju ke sana. 

Kategori :