Begitu mereka kembali ke negaranya—sebagai profesor, diplomat, ekonom, atau pejabat—Indonesia tetap menempel di kepala mereka.
BACA JUGA:Kepahlawanan
BACA JUGA:Pahlawan Baru di Zaman Ilmu
Contoh paling gampang? Barack Obama.
Cukup menyebut “bakso” dan “nasi goreng”, seluruh dunia bertanya: apa istimewanya Indonesia?
Begitulah kekuatan pendidikan: ia menciptakan jejaring emosional yang tak bisa dibeli oleh iklan atau diplomasi formal.
Ekosistem Pendidikan Internasional: PR Besar
Menjadi negara pemberi beasiswa tidak cukup dengan niat baik.
Indonesia harus membangun sebuah ekosistem yang membuat mahasiswa asing merasa bahwa belajar di sini adalah pengalaman yang aman, mudah, dan berkualitas.
Pertama, visa pelajar harus sederhana dan cepat.
Banyak negara kehilangan calon mahasiswa asing karena proses visa yang berbelit dan tidak transparan.
Jika Australia bisa memproses student visa dalam hitungan hari, Indonesia jangan membuat orang menunggu berminggu-minggu hanya untuk sebuah stempel.
Birokrasi kita harus bergerak dengan logika persaingan global, bukan logika kantor kelurahan.
BACA JUGA:Gelombang Suksesi: Mencari Talenta yang Tepat untuk Mencapai Keberlanjutan
BACA JUGA:Tiga Kelebihan Bauran BBM dengan Etanol
Kedua, kelas internasional harus memadai. Kurikulum harus kompatibel dengan standar global, dosen harus punya pengalaman internasional, dan bahasa pengantar harus fluida.