BACA JUGA:KESEHATAN MENTAL BANGSA
Inggris dengan Chevening.
Uni Eropa dengan Erasmus.
Jepang dengan Monbukagakusho.
Semua memakai pola yang sama: beri beasiswa → bangun jejaring → lahirkan alumni sukses → citra negara meningkat → kerja sama ekonomi dan politik mengalir.
Saya sendiri—lulusan pesantren Pabelan, Magelang—tak pernah membayangkan bisa kuliah S2 dan S3 di Australian National University lewat beasiswa pemerintah Australia.
Begitu besar dampaknya, bukan hanya untuk saya, tetapi juga untuk hubungan Indonesia–Australia.
BACA JUGA:Sembilan Alasan Nusron Wahid Layak dan Berpeluang Terpilih Ketum PBNU
BACA JUGA:Saatnya yang Muda Kembali Memimpin PBNU
Beberapa waktu lalu, ketika menghadiri Gala Dinner alumni Australia Awards, saya mendengar angka yang mengejutkan: 24.000 mahasiswa Indonesia berkuliah di Australia.
“Berapa yang beasiswa?” saya bertanya. “Sedikit sekali,” jawab staf Kedutaan Australia.
“Tidak sampai 100.” Artinya jelas: Beasiswa hanya “pemantik reputasi”. Yang lain ikut,
karena kualitas. Dan total alumni Indonesia yang pernah kuliah di Australia?
200.000 lebih. Dari menteri sampai pebisnis, dari akademisi sampai artis—semua menjadi jejaring diplomasi yang tak ternilai.
Mengapa Indonesia Harus Berani Memberi Beasiswa?
Ada setidaknya tiga alasan strategis yang membuat Indonesia perlu beralih dari penerima beasiswa menjadi pemberi beasiswa.