Diplomasi Tangan di Atas: Menguatkan Peran Global Indonesia

Rabu 26-11-2025,08:11 WIB
Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

Mahasiswa asing datang bukan hanya untuk belajar materi, tetapi juga untuk merasakan atmosfer akademik yang progresif dan inklusif.

Ketiga, Indonesia membutuhkan lingkungan hidup yang ramah internasional: asuransi kesehatan yang bisa diakses orang asing, tempat tinggal yang aman, serta sekolah internasional bagi mahasiswa yang membawa keluarga.

Mahasiswa asing tidak hanya menempuh studi; mereka menjalani hidup.

Keempat, promosi pendidikan harus sistematis.

Australia, Jepang, Inggris, dan Uni Eropa memiliki lembaga khusus yang bertugas mengiklankan pendidikan mereka ke seluruh dunia.

BACA JUGA:Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia

BACA JUGA:Memperkuat Ketahanan Komunitas

Indonesia belum memiliki mesin promosi sebesar itu. Padahal modal sosial kita luar biasa: masyarakat yang hangat, biaya hidup murah, kuliner yang membuat orang betah, pariwisata kelas dunia, dan reputasi sebagai negara Muslim paling damai.

Indonesia selama ini disebut sebagai living laboratory—agama, budaya, demokrasi, hingga ekonomi kreatif.

Pertanyaannya tinggal satu: kapan kita berani memosisikan diri sebagai living laboratory of Islamic studies bagi dunia?

Diplomasi Tangan di Atas

Di sinilah UIII mengambil peran. Kampus Islam internasional berbasis Indonesia—berlokasi di Depok, dengan arsitektur postmodern di lahan 142 hektare, dikelilingi dua danau alami—dididirikan melalui Perpres 2016.

Misi utamanya tiga: memperkenalkan ilmuwan Indonesia ke dunia; menjadi rumah Islam wasatiyah Indonesia; dan meningkatkan posisi global Indonesia melalui pendidikan.

UIII sudah bergerak ke arah itu.

BACA JUGA:Wakil Kepala Daerah Sebaiknya Dihapus, Boros dan Tak Efisien

BACA JUGA:Momentum Sumpah Pemuda: Generasi Muda Anti Narkoba

Kategori :