Mendorong Area Studies di Indonesia: Jalan Menjadi Bangsa Besar

Rabu 10-12-2025,07:04 WIB
Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

Masyarakat Muslim sebenarnya memiliki modal besar untuk saling mengenal karena dihubungkan oleh ikatan agama yang kuat.

Solidaritas keagamaan terlihat dari kedekatan emosional yang cepat terjalin ketika Muslim bertemu di manapun. Apalagi ritual-ritual Islam—salat, puasa, haji, dan zakat—melahirkan ruang perjumpaan yang luas.

Masjid mempersatukan umat setiap hari dalam salat berjamaah.

Haji mempertemukan jutaan Muslim dari seluruh penjuru dunia setiap tahun. Ali Syariati menyebut ibadah haji sebagai “Muktamar Islami.” Zakat mendorong kepedulian dan altruisme antar sesama.

Tetapi mengapa kedekatan itu kadang terasa jauh? Salah satu jawabannya mungkin karena umat Islam sering membesarkan perbedaan dalam hal pemahaman agama.

BACA JUGA:Terungkap, Alasan Dosen UII Ahmad Rafie Ubah Rute ke AS

Perbedaan penafsiran atau teknis pelaksanaan ritual bisa membuat umat saling menjauh.

Masjid berbeda dibangun karena perbedaan praktik ibadah, hingga perkumpulan orang pintar dibentuk karena beda pandangan.

Hal serupa tampaknya juga menghalangi kerja sama perguruan tinggi Islam di dunia Muslim.

Untuk bidang ilmu agama, kerja sama hampir tidak terdengar—jika tidak ingin menyebut sama sekali.

Dalam sebuah diskusi dengan beberapa intelektual di Teheran beberapa waktu lalu, kami menyampaikan gagasan agar platform kerja sama akademik dunia Muslim digeser dari dominasi kolaborasi kajian keagamaan ke kerja sama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

BACA JUGA:Irjen Krishna Murti Bongkar Bukti Dosen UII Tak Hilang di Norwegia, Keberadaan Terakhirnya Terkuak

Kolaborasi berbasis ilmu agama sering tidak bertahan lama karena diskusi kerap mengarah pada perbedaan, dan pada akhirnya ketegangan.

Sebaliknya, kerja sama akademik dalam bidang teknologi, industri, dan sains lebih potensial membuahkan kekuatan bersama.

Iran maju dalam teknologi tinggi dan kedokteran, Pakistan berkembang hingga mampu membuat senjata nuklir, dan negara-negara Teluk unggul dalam teknologi perminyakan.

Kerja sama di wilayah ini hampir tidak akan menimbulkan ketegangan, berbeda dengan kerja sama keagamaan yang berpotensi memunculkan perbedaan.

Kategori :