Mendorong Area Studies di Indonesia: Jalan Menjadi Bangsa Besar

Rabu 10-12-2025,07:04 WIB
Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

Tetapi secara akademik, kita berjauhan.

Ketika ada konflik di Iran dan Israel, atau Pakistan dan India, atau Afghanistan, tidak banyak ilmuwan Indonesia yang dapat menjelaskan secara mendalam. 

Jika ada talkshow atau laporan berita tentang negara-negara tersebut, narasumber yang hadir biasanya adalah orang yang pernah tinggal di sana, bukan yang mempelajari negara itu secara sistematis.

Kondisi yang sama juga terjadi sebaliknya: tidak banyak ilmuwan Timur Tengah yang memahami politik, ekonomi, atau masyarakat Indonesia.

Area Studies diperlukan untuk membangun pengetahuan komprehensif antarnegara Muslim. Pepatah “tak kenal maka tak sayang” menegaskan pentingnya saling mempelajari.

BACA JUGA:Krishna Murti : Dosen UII Pesan Tiket Pesawat ke Boston Saat Masih di Jakarta

Dengan saling memahami, kerja sama akan terbuka.

Penelitian Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIII menunjukkan hubungan dagang antarnegara Muslim sangat kecil. Upaya memaksimalkan solidaritas negara Muslim baru bertumpu pada agama, yang kadang terkendala oleh perbedaan mazhab.

Kerja sama pendidikan melalui pembukaan Area Studies dapat menjadi fondasi penguatan kolaborasi antarnegara Muslim. Di Indonesia, Area Studies wilayah Muslim masih sangat terbatas.

Hingga kini baru tiga universitas—Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga—yang membuka kajian Timur Tengah. Itu pun mayoritas terfokus pada kajian bahasa dan budaya, hanya sedikit yang mendalami aspek lebih luas dan strategis.

Negara perlu memberikan dukungan kepada kampus untuk membuka Area Studies, terutama wilayah strategis yang berhubungan dengan Indonesia agar peran global Indonesia lebih besar.

Di Amerika dan Eropa, perusahaan besar yang beroperasi lintas negara menjadi penyokong kuat Area Studies.

Indonesia juga tidak kekurangan industri besar bercorak global—mereka seharusnya dapat mendukung berkembangnya Area Studies.

Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)

Kategori :