Kehidupan keagamaan tidak berjalan dalam ruang terpisah, melainkan menyatu dengan budaya lokal Betawi.
Orang Kristen dan Katolik mengenakan sarung dan peci saat beribadah ke gereja, sebagaimana umat Islam ketika ke masjid.
Tradisi sosial seperti Ngariung, Sedekah Bumi, dan arisan keluarga besar menjadi ruang perjumpaan lintas iman yang alami, tanpa harus dibingkai sebagai agenda toleransi formal.
Kerukunan di Kampung Sawah tumbuh dari ikatan kekerabatan, budaya, dan keseharian yang saling bersinggungan.
BACA JUGA:Fondasi Baru Perdamaian Dunia
BACA JUGA:'Menghidupkan' Warisan Gus Dur, Bolehkah dengan Melupakan Jejaknya?
Sebaliknya, Aleppo menghadirkan kisah yang jauh lebih getir. Kota ini pernah dikenal sebagai simbol pluralisme, tempat Muslim, Kristen, Yahudi, dan berbagai kelompok etnis hidup berdampingan.
Seni, musik, puisi, dan praktik sufisme menjadi bahasa bersama yang menjembatani perbedaan iman.
Namun konflik etno-politik-sektarian telah meruntuhkan tatanan itu.
Aleppo tidak hanya kehilangan bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memori sosial tentang hidup bersama secara damai.
Melalui perbandingan ini, Ararat berharap disertasinya dapat menjadi jembatan intelektual antara Indonesia dan dunia Arab.
Pengalamannya hidup di Indonesia membuatnya merasakan Pancasila bukan sekadar teks normatif, melainkan praktik hidup yang dijalani sehari-hari.
BACA JUGA:Elegi Lumpur di Hulu Bencana
BACA JUGA:Polemik PBNU: Pelanggaran Berat, Bukan Perselisihan
Indonesia, dengan segala kekurangan dan tantangannya, dapat menjadi laboratorium penting bagi studi moderasi beragama dan peradaban damai.
Pertanyaannya, apakah kita sungguh menyadari betapa rapuhnya harmoni itu dan cukup bijak untuk menjaganya sebelum terlambat?