Di Indonesia, jejak Armenia terlihat jelas di Surabaya melalui pendirian Hotel Oranye kini dikenal sebagai Hotel Majapahit yang dibangun oleh keluarga Sarkies asal Armenia.
Keluarga ini juga mendirikan Hotel Raffles di Singapura. Pada 10 November 1945, pemuda Surabaya mengambil alih Hotel Oranye dan mengganti bendera Belanda dengan Merah Putih.
Hotel Majapahit kini menjadi saksi keberadaan diaspora Armenia sekaligus simbol keberanian arek-arek Surabaya melawan penjajahan.
BACA JUGA:Menimbang Gagasan Kiai Imam Jazuli tentang Islah Konstitusional NU
BACA JUGA:Nilai TKA Rendah: Saatnya Pembenahan Sistemik Pendidikan, Bukan Menyalahkan Guru
Jejak Armenia juga terlihat di Jakarta, di mana bangunan gereja peninggalan komunitas Armenia kini digunakan sebagai kantor Bank Indonesia.
Kebun Binatang Ragunan pun dirancang oleh Benjamin Galstun, arsitek berdarah Armenia sekaligus direktur pertamanya.
Keragaman Indonesia dan Suriah
Selama tinggal di Indonesia, Ararat mulai menyadari keunikan keberagaman dan religiositas masyarakat Indonesia.
Negara yang majemuk secara etnis dan agama ini mampu menjaga kehidupan berdampingan secara relatif harmonis.
Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat mempraktikkan beragam tradisi, bahasa daerah, dan ritual keagamaan, namun tetap menjunjung persatuan.
Ararat terkesan dengan budaya gotong royong serta perayaan hari besar keagamaan yang sering diwarnai kebersamaan lintas iman.
BACA JUGA:Ijtihad KH Imam Jazuli untuk NU dan PKB
BACA JUGA:Kampus Hijau Dimulai dari Budaya Hidup
Pengalaman ini mengingatkannya pada masa kecilnya di Aleppo, Suriah.
Sebelum perang, Aleppo dikenal sebagai kota majemuk dan beradab, tempat berbagai komunitas Arab, Kurdi, Armenia, Turki, Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan secara damai.