Belajar Kerukunan Agama di Indonesia

Rabu 07-01-2026,07:00 WIB
Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

Dalam praktik sehari-hari, moderasi beragama tampak dalam berbagai bentuk kehidupan sosial.

Gotong royong lintas agama masih menjadi kebiasaan di banyak daerah, baik dalam urusan sosial, kemanusiaan, maupun pembangunan fasilitas umum.

Dialog antariman dilakukan secara berkelanjutan untuk membangun saling pengertian dan mencegah prasangka.

Perayaan hari besar keagamaan pun kerap dihadiri oleh warga lintas iman sebagai wujud solidaritas sosial, bukan sekadar toleransi pasif.

BACA JUGA:Mendorong Area Studies di Indonesia: Jalan Menjadi Bangsa Besar

BACA JUGA:Transportasi Hijau Bukan Sekadar Opsi, Melainkan Keharusan

Bagi Ararat, pengalaman hidup di Indonesia menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan hanya konsep normatif atau kebijakan negara, melainkan praktik kultural yang hidup dalam keseharian masyarakat.

Inilah pelajaran penting yang dapat ditawarkan Indonesia kepada dunia, bahwa agama, jika dikelola secara bijak dan inklusif, justru dapat menjadi fondasi kuat bagi kehidupan bersama yang damai dan berkeadaban.

Gereja Kampung Sawah

Dalam studinya, Ararat kemudian membandingkan kehidupan minoritas Kristen yang hidup di tengah mayoritas Muslim di dua konteks sosial yang sangat berbeda, Indonesia dan Suriah.

Di Indonesia, ia memilih Kampung Sawah di Bekasi sebagai lokasi penelitian; sementara di Suriah, ia mengambil wilayah timur laut Aleppo sebagai pembanding.

Dua ruang sosial ini, meski sama-sama pernah mempraktikkan kehidupan majemuk, menunjukkan arah sejarah yang kontras.

BACA JUGA:Sinergi Baru Akademisi Indonesia dan Turki

BACA JUGA:Kunjungan Delegasi Indonesia ke Hayrat Foundation Istanbul: Menguatkan Islam Wasathiyah dan Kolaborasi Global

Kampung Sawah menjadi contoh konkret kerukunan beragama di Indonesia.

Di kawasan ini, gereja Kristen, gereja Katolik, dan masjid berdiri berdampingan tanpa sekat sosial yang mencolok.

Kategori :