Transportasi Hijau Bukan Sekadar Opsi, Melainkan Keharusan
Transportasi Hijau menjadi keharusan diterapkan di Indonesia mengingat tingkat emisi karbon yang sudah sangat mengkhawatirkan-istockphoto-
Dr. Ir. Novita Sari, ST, M.Eng, Dosen Politeknik Transportasi Darat Indonesia - STTD
JAKARTA, DISWAY.ID - Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir telah membawa perubahan besar dalam pola mobilitas masyarakat.
Layanan transportasi berbasis permintaan (on-demand transport services) seperti ride-hailing, car-sharing, dan shuttle berbasis aplikasi menawarkan solusi mobilitas yang fleksibel, cepat, dan efisien. Namun, meskipun memberikan kenyamanan, sebagian besar armada layanan ini masih didominasi kendaraan berbahan bakar fosil yang berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon dan polusi udara.
BACA JUGA:Hyundai Tertarik dengan Inovasi Bobibos, Riset Lokal untuk Energi Ramah Lingkungan
Di Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Pengendalian Pencemaran Udara (dalam Nurhayati, 2021) mencatat bahwa kendaraan menyumbang 70–80 persen emisi di kawasan perkotaan.
Sebuah mobil yang mengonsumsi 7,8 liter bahan bakar per 100 km dan menempuh 16 ribu km per tahun diperkirakan menghasilkan sekitar 3 ton karbon dioksida (Parinduri et al., 2018). Dengan proyeksi pertumbuhan emisi sektor transportasi mencapai 53 persen pada 2030, transformasi menuju sistem transportasi rendah emisi menjadi semakin mendesak.
Karena itu, penerapan teknologi ramah lingkungan dalam layanan transportasi berbasis permintaan bukan hanya relevan, tetapi juga strategis untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Transportasi Digital: Peluang Menekan Emisi
Digitalisasi menjadi fondasi penting dalam pengembangan layanan transportasi modern. Teknologi digital memungkinkan integrasi antara aplikasi pemesanan, navigasi, data lalu lintas, hingga manajemen armada secara real time. Menurut Noussan & Tagliapietra (2020), digitalisasi dapat mengurangi konsumsi energi dan emisi CO₂ melalui optimalisasi rute perjalanan dan peningkatan efisiensi armada.
Penerapan Intelligent Transport System (ITS) sebagaimana dilakukan di Kota Bandung menunjukkan potensi teknologi cerdas dalam mengurangi kemacetan serta meningkatkan kualitas layanan transportasi publik. Integrasi ITS dengan layanan transportasi berbasis permintaan akan mendorong efisiensi perjalanan sekaligus menurunkan emisi dari kendaraan yang terlalu lama berada di jalan.
Kendaraan Listrik dan Dampaknya terhadap Layanan Transportasi Berbasis Permintaan
Elektrifikasi kendaraan merupakan solusi paling konkret untuk menekan emisi sektor transportasi. Di Indonesia, perkembangan kendaraan listrik menunjukkan tren positif: populasinya meningkat sekitar 136 persen dari 2023 ke 2024.
Operator transportasi online turut mengambil langkah strategis. Grab, misalnya, telah mengoperasikan lebih dari 11.000 kendaraan listrik sejak 2019. Langkah ini tidak hanya meningkatkan efisiensi armada, tetapi juga berhasil menekan lebih dari 30.000 ton emisi karbon dan menghemat sekitar 11 juta liter bahan bakar. Selain motor listrik, Grab telah mulai mengoperasikan mobil listrik sebagai armada taksi online, menegaskan komitmen perusahaan terhadap mobilitas rendah emisi.
Gojek juga menunjukkan ambisi serupa dengan menargetkan net-zero emission pada 2030. Sejak 2019, perusahaan ini telah melakukan uji coba kendaraan listrik dan mengembangkan motor listrik untuk para mitra pengemudi. Pada 2025–2030, Gojek berencana bertransisi menuju armada listrik penuh, antara lain melalui skema kepemilikan kendaraan listrik yang lebih mudah dan terjangkau.
Upaya elektrifikasi ini berpotensi besar menurunkan emisi, terutama jika diiringi penguatan infrastruktur pengisian daya.
Kendaraan Listrik dan Otonom: Inovasi Mobilitas Masa Depan
Kendaraan listrik dan otonom menawarkan peluang besar untuk mewujudkan mobilitas berkelanjutan. Studi di Singapura menunjukkan bahwa Autonomous Mobility on Demand (AMoD) dapat meningkatkan aksesibilitas mobilitas bagi masyarakat berpendapatan rendah sekaligus meningkatkan efisiensi jaringan transportasi.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: