Kendati begitu, dirinya menambahkan, peringatan dari MSCI sebelumnya bukan tentang emosi, melainkan tentang kualitas pasar.
"Sering kali kita mengira pasar jatuh karena panik. Padahal yang terjadi sekarang lebih tepat disebut ragu. Investor global dan domestik tidak sedang histeris. Mereka sedang berhitung," jelas Achmad.
BACA JUGA:Ketua OJK dan 2 Petinggi Lainnya Mengundurkan Diri Usai IHSG Anjlok 2 Hari
"Ketika masalahnya struktural, maka respons psikologis tidak cukup. Pernyataan stabilitas bisa menenangkan satu dua jam, tetapi begitu bursa dibuka, keputusan kembali ke tangan investor. Dan mereka memilih menjual atau menunggu. Itulah sebabnya IHSG tetap tertekan sejak pembukaan hingga siang hari pada 2 Februari," tambahnya.
Sebelumnya, OJK dan Pemerintah sendiri turut menyatakan bahwa pihaknya sudah menyiapkan beberapa langkah, seperti perbaikan kualitas identitas dan saham yang dipertandingkan, peningkatan literasi dan juga perlindungan kepada investor, terutama investor-investor, serta peningkatan hukum yang tegas dan konsisten.
BACA JUGA:Dirut BEI Iman Rachman Mundur Dinilai Bentuk Tanggung Jawab Rapor Merah IHSG
Selain itu, nantinya OJK juga akan terus meningkatkan kualitas dan pendalaman pasar, melalui kebijakan peningkatan minimal favor 15 persen, optimalisasi pelanggan - pelanggan provider, serta peningkatan pelanggan-pelanggan investor institusional, khususnya asuransi dan pensiun yang dimiliki oleh pemerintah.
Tidak hanya itu, OJK juga akan turut melakukan peningkatan transparansi dengan pemegang saham melalui kewajiban transparansi hubungan, ultimate beneficial ownership, affiliated party disclosure, serta penguatan due diligence dan EYC oleh perusahaan.