Ada juga daging sapi bersubsidi seharga Rp35 ribu per kilo, khusus buat sekitar satu juta warga penerima manfaat.
Tidak cuma itu, program Gerakan Pasar Murah digelar di berbagai tempat lewat BUMD, harga daging sapi di sana antara Rp109 ribu sampai Rp139 ribu per kilo.
BACA JUGA:Tabir Gelap Child Grooming, Antara Normalisasi dan Relasi Kuasa
BACA JUGA:KUHAP-KUHP Baru: Dekolonisasi, Seragam dan Adil?
“Kabar baiknya, pemerintah pusat sudah setuju menuruni harga sapi hidup jadi Rp55 ribu per kilo. Kami yakin harga daging di pasar bakal stabil lagi menjelang lebaran,” kata Hasudungan.
Ibu Rumah Tangga Pilih Kurangi Konsumsi Daging
Di tingkat rumah tangga, kenaikan harga daging sapi berdampak langsung pada pola konsumsi.
Wari (61), warga Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, mengaku memilih tidak membeli daging sapi sejak harga melonjak.
“Kalau lagi mahal begini, mending nggak beli dulu. Saya ganti ayam atau telur, harganya masih masuk akal,” ujarnya.
BACA JUGA:Dinamika Pasal-pasal KUHAP-KUHP Baru, Awas Jebakan Batman!
BACA JUGA:KUHP-KUHAP Baru, Wajah Baru Hukum Indonesia di Tepi Jurang
Sebagai ibu rumah tangga yang mengandalkan uang belanja harian dari suami, Wari mengaku terakhir membeli daging sapi pada pertengahan Januari.
Padahal sebelumnya, ia biasa membeli daging dalam porsi kecil untuk menu keluarga.
Menurutnya, kenaikan harga kali ini terasa lebih berat karena terjadi sejak periode Natal dan Tahun Baru, lalu berlanjut hingga menjelang Ramadan.
Ancaman Gizi Anak dan Target Stunting
Sementara itu Pakar kesehatan mengingatkan bahwa turunnya konsumsi protein hewani, khususnya daging sapi, berpotensi berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak dan pencapaian target nasional penurunan stunting.