Harga Daging Sapi Terus Naik Jelang Ramadan, Pasokan di Pasar Tradisional Kian Tipis

Rabu 04-02-2026,05:00 WIB
Reporter : Tim Redaksi Disway
Editor : Subroto Dwi Nugroho

BACA JUGA:PPN 12%, Antara Target Negara dan Ujian Keadilan Kehidupan Rakyat

BACA JUGA:PPN 12% Bukan Sekadar Angka: Rakyat Menjerit, Industri Tercekik

Pakar gizi Dicky Budiman menegaskan bahwa dampak paling berisiko terjadi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Penurunan konsumsi protein hewani dalam jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan otak, hingga produktivitas anak saat dewasa,” ujarnya.

Kekurangan protein hewani dapat menyebabkan stunting, gangguan kognitif akibat defisit zat besi, zinc, dan vitamin B12, serta menurunkan daya tahan tubuh anak.

Meski daging sapi penting, Dicky menyebut kebutuhan gizi masih bisa dipenuhi dengan kombinasi sumber protein lain yang lebih murah, seperti telur, ikan kembung, tongkol, lele, ayam, serta hati ayam atau sapi dalam porsi terbatas.

Protein nabati seperti tempe dan tahu tetap berperan sebagai pendukung, meski tidak sepenuhnya menggantikan protein hewani.

BACA JUGA:PPN 12% Bikin Susah! Boro-Boro Beli HP atau Mobil, Rp100 Ribu Sehari Gak Cukup

BACA JUGA:Pilihan Childfree Gen Z dan Upaya Pemerintah Menjawab Kecemasan Anak Muda

“Kuncinya kombinasi, bukan mengganti satu ke satu. Protein tidak harus mahal,” jelasnya.

Daging Beku Lebih Aman dari Olahan

Terkait pilihan konsumsi, Dicky menilai daging beku (frozen) masih aman dan bernilai gizi hampir setara dengan daging segar selama rantai dingin terjaga.

Sebaliknya, daging olahan seperti sosis dan nugget tidak direkomendasikan untuk konsumsi rutin anak karena tinggi garam, lemak, dan aditif.

Ia juga mengingatkan risiko mengonsumsi daging murah berkualitas rendah, yang dapat menyebabkan infeksi bakteri hingga keracunan pangan.

BACA JUGA:Tren Childfree Meningkat, Isyarat Awal Tantangan Ekonomi

BACA JUGA:Gen Z dan Pilihan Childfree: Antara Realitas Hidup dan Finansial

Kategori :