Tren Childfree Meningkat, Isyarat Awal Tantangan Ekonomi
Dengan fenomena ini, kondisi seperti Jepang, Singapura dan negara-negara maju lainnya diprediksi akan turut dialami Indonesia yakni lebih banyak warga lanjut usia ketimbang anak-anak muda.-Ilustrasi-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Fenomena generasi Z dan milenial yang menunda memiliki anak atau memilih childfree terjadi di tengah tren penurunan angka kelahiran di Indonesia.
Kondisi ini dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap struktur ekonomi dan ketenagakerjaan nasional.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman, mengatakan penurunan angka kelahiran yang membawa total fertility rate (TFR) Indonesia mendekati level pengganti merupakan sinyal peringatan dini bagi agenda Indonesia Emas 2045.
"Penurunan angka kelahiran yang membawa TFR Indonesia mendekati level pengganti sebetulnya menjadi sinyal peringatan dini bagi agenda Indonesia Emas 2045. Tantangan utamanya bukan pada jumlah penduduk yang mengecil, melainkan risiko struktur penduduk menua sebelum fondasi produktivitas ekonomi benar-benar kuat. Selama ini, pertumbuhan banyak ditopang oleh bonus demografi dan ketersediaan tenaga kerja murah," jelasnya kepada Disway.id, Senin 5 Desember 2026.
Ia menjelaskan, melambatnya suplai tenaga kerja usia muda berpotensi meningkatkan tekanan upah dan ketidaksesuaian keterampilan.
"Artinya saat suplai tenaga kerja usia muda melambat, tekanan upah dan mismatch keterampilan akan meningkat, sementara produktivitas belum tentu naik secepat itu. Jika transformasi industri tidak segera bergeser dari padat karya berbiaya rendah menuju manufaktur bernilai tambah tinggi berbasis teknologi, skill, dan efisiensi logistik-energi, maka peluang terjebak dalam middle income trap justru makin besar bukan karena kurang penduduk, tetapi karena biaya naik lebih cepat daripada kemampuan menciptakan nilai tambah," paparnya.
Dalam jangka panjang, menurut Rizal, penurunan kelahiran juga akan memengaruhi daya beli masyarakat.
"Dalam jangka panjang, penurunan kelahiran akan mengubah wajah daya beli domestik. Konsumsi tidak serta-merta runtuh, tetapi pola dan sektor penggeraknya bergeser. Pertumbuhan rumah tangga muda melambat, sehingga sektor yang sangat bergantung pada kelahiran seperti ritel bayi, pendidikan dasar tertentu, dan properti keluarga besar, maka akan menghadapi tekanan struktural," terangnya.
Ia menambahkan, mesin pertumbuhan ekonomi perlu bergeser dari konsumsi rumah tangga. Konsekuensinya, mesin pertumbuhan ekonomi tidak bisa terus mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai satu-satunya jangkar.
"Melainkan harus semakin bertumpu pada investasi produktif, ekspor bernilai tambah, dan jasa modern," ucapnya.
Dari sisi fiskal, Rizal menilai penuaan penduduk akan meningkatkan tekanan belanja negara.
"Dari perspektif fiskal, tren penuaan penduduk berarti tekanan belanja negara akan meningkat untuk kesehatan dan pensiun, sementara pertumbuhan basis pembayar pajak berpotensi melambat," imbuhnya.
Ia juga menilai kebijakan insentif tunai untuk meningkatkan kelahiran tidak selalu efektif.
"Pengalaman banyak negara menunjukkan insentif tunai untuk menaikkan kelahiran hanya berdampak terbatas bila biaya struktural membesarkan anak seperti biaya perumahan, pendidikan, childcare, dan ketidakpastian kerja yang tetap tinggi," katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: