Tren Childfree Meningkat, Isyarat Awal Tantangan Ekonomi

Tren Childfree Meningkat, Isyarat Awal Tantangan Ekonomi

Dengan fenomena ini, kondisi seperti Jepang, Singapura dan negara-negara maju lainnya diprediksi akan turut dialami Indonesia yakni lebih banyak warga lanjut usia ketimbang anak-anak muda.-Ilustrasi-

Sementara itu, pandangan berbeda disampaikan Haryadi Sukamdani dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). 

Ia menilai tren childfree belum berdampak besar terhadap dunia usaha.

"Itu gak begitu pengaruh ya, pengaruhnya gak begitu besar. Karena yang kita liat dari. Kan dilihatnya gak bisa dari kota besar ya kita harus liat secara keseluruhan ni," katanya kepada Disway.id.

Menurutnya, angka kelahiran di Indonesia masih relatif tinggi jika dilihat secara nasional.

"Gak usah jauh jauh. Di Bogor aja deh, di bogor masyarakatnya masih berpendapat bahwa untuk keluar dari kemiskinan itu dengan menikahkan anak anaknya di usia muda. Walaupun angka persentase tinggi tetapi mereka punya anak di usia muda," jelasnya.

Haryadi menilai pilihan childfree lebih banyak terjadi pada kelompok berpendidikan tinggi dan jumlahnya masih terbatas.

"Kalau saya melihatnya ada kecenderungan yang maasyarakatnya lebih berpendidikan tinggi, yang berfikir bahwa punya anak jadi punya beban ekonomi. Tapi kalau kita lihat daru rata-rata populasi kita itu jumlahnya masih sedikit (free cild). Jadi angka kelahiran masih tetap tinggi. Berbeda dengan jepang," paparnya.

Terkait potensi kelangkaan tenaga kerja muda, ia menegaskan belum ada kekhawatiran dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.

"Belum sesuatu yang mengkhawatirkan. Enggak, saya bilang enggak. Ini beda dengan jepang, korea. Karena tingkat pemdidikan disana jauh lebih baik. Mereka berfikirnya gak terlalu berlebihan. Tapi kalau kita (Indonesia) masih jauh untuk seperti itu (kelangkaan tenaga kerja anak muda)," tutupnya.

Sosiolog Soroti Dampak Ekonomi Jangka Panjang

Sosiolog, Musni Umar berpendapat, Indonesia bisa mengalami penurunan penduduk seperti Jepang, Singapura dan negara-negara maju lainnya jika tingkat kelahiran terus menurun.

Menurutnya saat ini masyarakat Indonesia sedang menghadapi dua kecenderungan yakni banyak anak muda yang memilih tidak menikah dan keluarga muda menunda memiliki anak.

Kondisi seperti ini, kata Musni Umar, setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor. Faktor pertama saat ini generasi muda semakin sulit mendapat pekerjaan. Sehingga mereka memilih menunda pernikahan.

"BPS mencatat sekitar 1,1 juta sarjana menganggur. Mereka tamatan SD, SMP dan  SMA sekitar 45 juta belum dapat pekerjaan dan sudah frustrasi cari pekerjaan," kata Musni Umar saat dihubungi Disway.id.

Faktor yang kedua, perempuan yang sudah menikah tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads