Prabowo Kantongi Rp91,6 Triliun Investasi, Pengamat Ingatkan soal Realisasi
Presiden Prabowo Subianto dikabarkan bakal menggelar reshuffle Kabinet Merah Putih siang ini, Rabu, 28 Januari 2026.-Sekretariat Presiden-
JAKARTA, DISWAY.ID - Presiden RI, Prabowo Subianto membawa oleh-ole investasi sebesar Rp91,6 triliun usai kunjunganya ke luar negeri. Mulai dari Inggris, Swiss, hingga Prancis.
Merespon itu, Pengamat Ekonomi M Rizal Taufikurahman mengatakan investasi hasil dari kunjungan Prabowo ke luar negeri telah memberi bukti kepercayaan kanca Internasional terhadap Indonesia. Namun, tidak langsung berdampak besar ke Ekonomi.
BACA JUGA:BPJS Kesehatan Bakal 'Gedor' Rumah Warga: Target 2030 Seluruh Rakyat Wajib Terdaftar!
BACA JUGA:BNN: Whip Pink Bahaya Bagi Manusia, Bikin Ketawa Tapi Langsung Mengantar Nyawa!
"Tetapi tidak otomatis berdampak besar ke ekonomi," katanya kepada Disway.id, Selasa, 27 Januari 2026.
Menurutnya, pengaruh nyata dari investasi itu, sangat ditentukan oleh bentuk dan kecepatan realisasi.
"Jika dana ini benar-benar masuk sebagai investasi langsung jangka menengah hingga panjang, dampaknya bisa memperkuat pembentukan modal, membuka lapangan kerja, dan membantu stabilitas eksternal," tegasnya.
Namun, lanjut Dia, sebagian besar investasi masih berupa MoU atau investasi portofolio. Dimana, efeknya ke pertumbuhan riil akan terbatas dan bahkan bisa bersifat sementara.
BACA JUGA:Optimalisasi Aset Daerah, Pemprov Bengkulu Buka Investasi Stadion Semarak
BACA JUGA:Rekam Jejak Sari Yuliati Maju dari Dapil NTB 2, Resmi Jabat Wakil Ketua DPR RI
Ia menjelaskan bahwa dampak ekonomi juga sangat bergantung pada ke mana investasi itu diarahkan. Seperti, sektor seperti hilirisasi industri, energi, logistik hingga pangan yang berpotensi memberi efek berantai yang kuat.
"Karena meningkatkan nilai tambah dan menekan biaya ekonomi," ucapnya.
Sebaliknya, lanjut Rizal, tanpa perbaikan di sisi perizinan dan kepastian proyek. Kesiapan infrastruktur, risiko investasi hanya berhenti di atas kertas tetap besar.
"Karena itu, ukuran keberhasilannya bukan besarnya angka komitmen, melainkan apakah dalam satu atau dua tahun ke depan terlihat peningkatan investasi riil, serapan tenaga kerja, dan perbaikan neraca perdagangan," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: