Rudi terjepit kebutuhan mendesak. Ia butuh uang untuk keluarganya. Namun, ada satu tembok besar yang menghalanginya: rasa malu. Ia sungkan meminjam ke orang terdekat.
"Saya tidak enak kalau harus meminjam ke orang dekat," ungkapnya.
Solusinya? Kredivo dan AdaKami. Aplikasi-aplikasi ini tidak punya perasaan. Tidak perlu ditatap matanya. Cukup unggah KTP, swafoto, dan dana segar Rp 3,5 juta pun mengalir.
Tapi kemudahan itu berbayar mahal. Kini Rudi merasakan tekanan finansial yang hebat. Utangnya belum lunas semua. Masih ada tunggakan yang menghantui ketenangannya.
"Ke depannya saya ingin lunaskan semua dan tidak meminjam lagi. Ini meresahkan kehidupan sehari-hari," kata Rudi.
Ia baru sadar, aplikasi yang tidak punya mata itu ternyata punya "tangan" yang kuat untuk mencengkeram ketenangan hidupnya.
Kasbon di warung dengan pembayaran saat gaji kini berubah tren menjadi playlater melalui aplikasi.-bianca-
Dari Kasbon Warung ke Saldo Dana
Fenomena utang-piutang ini sebenarnya bukan barang baru. Di warung-warung kelontong, praktik "kasbon" sudah mendarah daging.
Lutfi, seorang penjaga warung, tahu betul soal ini.
Tapi ada yang berubah. Dulu orang kasbon untuk beras atau minyak. Sekarang? "Rata-rata rokok, token listrik, kadang ada yang isi saldo Dana," jelas Lutfi saat ditemui di warungnya yang temaram.
Lutfi kini lebih selektif. Ia hanya memberi kasbon kepada mereka yang sudah sering belanja. Namun, ada satu kecurigaan yang mengganjal di hatinya.
Banyak pelanggan minta kasbon untuk isi saldo dompet digital. Untuk apa? Lutfi menduga sebagian lari ke meja judi online.
"Kalau ngutang buat kebutuhan sehari-hari nggak apa-apa. Tapi kalau buat judi online, jangan," tegasnya.
Dulu, utang warung adalah jaring pengaman agar dapur tetap ngebul. Sekarang, utang warung sering kali jadi jembatan untuk "bermain" di dunia digital yang berisiko tinggi.
Raksasa Digital yang Mulai Panen