Analisis Sosiolog, Hilangnya Rasa Malu
Mengapa kita jadi begitu gampang berutang? Dr. Aris Munandar, sosiolog dari Universitas Indonesia, punya jawabannya. Ia menyebutnya sebagai "dehumanisasi utang".
Dulu, kalau mau berutang, kita harus tatap muka. Ada rasa sungkan. Ada beban psikologis karena berutang budi. Sekarang? Semuanya lewat layar ponsel. "Tidak ada manusia yang menatap mata mereka saat mengajukan dana, rasa malu itu pun otomatis luruh," ujar Aris.
Lebih ngeri lagi, utang kini dijadikan alat social climbing alias panjat sosial. Berkat media sosial, orang lebih takut ketinggalan tren (FOMO) daripada takut punya utang. Istilah utang diperhalus menjadi "cicilan ringan" atau "solusi belanja".
"Orang tidak lagi malu punya utang, mereka justru lebih malu kalau tidak bisa pamer gaya hidup di media sosial," tuturnya tajam.
Aris memperingatkan akan lahirnya generasi "miskin aset". Secara fisik terlihat mapan, pakai gadget terbaru, makan di kafe mahal, tapi asetnya keropos. Semuanya milik aplikasi.
"Budaya tolong-menolong bisa hilang. Janji tidak lagi dianggap sakral. Gagal bayar dianggap biasa selama tidak ada penyitaan fisik," tambahnya. Ini adalah sinyal bahaya bagi karakter bangsa kita yang selama ini dikenal amanah.
Paylater memang seperti pisau bermata dua. Di tangan orang yang bijak seperti Dessy Putri, ibu rumah tangga sekaligus pengusaha kuliner di Depok, ia menjadi solusi saat pengeluaran membengkak untuk belanja modal.
"Sebisa mungkin saya gak mau keluar uang terlalu banyak untuk menghindari penumpukan tagihan," katanya.
Tapi di tangan mereka yang sekadar mengejar gengsi atau godaan diskon makanan, paylater adalah jeratan halus yang akan menguras habis keringat mereka setiap awal bulan.
Teknologi memang diciptakan untuk memudahkan manusia. Tapi kalau kemudahan itu justru membuat kita kehilangan kendali atas hidup sendiri, mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak.
Sebelum notifikasi tagihan berikutnya muncul dan membuat gaji Anda kembali "numpang lewat". (*)
Reporter: Dimas Rafi, Bianca Chairunnisa, Anisha Aprilia, Hasyim Ashari