Siasat Gerilya Sales QRIS dan Candu Paylater

Selasa 10-02-2026,07:29 WIB
Reporter : Tm Lipsus
Editor : Khomsurijal W

Bagi pemilik warung yang gagap teknologi, ini terdengar seperti ancaman eksistensial. Mereka merasa tidak punya pilihan: ikut sekarang atau mati besok.

Begitu stiker terpasang dan ada satu transaksi (meski cuma beli permen), tugas Rian selesai. Dia foto warungnya buat laporan, lalu dia pergi. Dia tidak punya kewajiban mengedukasi pemilik warung sampai paham cara komplain kalau transaksi gagal.

Akibatnya? Banyak pemilik warung yang pegang alat tapi buta cara pakainya. Stiker QRIS itu akhirnya hanya jadi pajangan tanpa fungsi, sementara si sales sudah lari mengejar target di tempat lain.

Loncatan Internet dan Matinya Perencanaan

Mengapa ini semua terjadi begitu cepat? Nur Alamzah, pengamat ekonomi dari Universitas Hasanuddin, punya jawabannya. Pandemi COVID-19 adalah pemicunya.

Saat pandemi, masyarakat dipaksa pindah ke dunia online. Belajar online, belanja online. Pengguna internet melonjak drastis. Industri teknologi menangkap peluang ini dengan kecepatan cahaya. Lahirlah fintech, paylater, dan sistem pembayaran digital yang sangat masif.

"Dalam industri bisnis, di mana ada peluang, pasti ada yang menawarkan," jelas Nur Alamzah.

Namun, ada harga mahal yang harus dibayar: Perubahan pola konsumsi. Dulu, orang berbelanja dengan perencanaan. Ada anggaran yang disiapkan.

Sekarang? Perencanaan itu mati. Antara "kebutuhan" dan "keinginan" menjadi kabur. Gencarnya penawaran di marketplace dan kemudahan klik paylater membuat orang tidak bisa lagi mendeteksi apakah mereka benar-benar butuh barang itu atau hanya lapar mata.

"Digitalisasi membuat aktivitas belanja menjadi sangat mudah, fleksibel, dan nyaris tanpa batas waktu," tambah Alamzah.

Antara Solusi dan Jebakan

Dunia memang sudah berubah. Kita tidak bisa lagi kembali ke zaman tukar menukar barang. Digitalisasi adalah keniscayaan. Tapi, kita perlu waspada.

Paylater bisa menjadi solusi bagi Dessy Putri untuk memutar modal nasi kuningnya. QRIS bisa menjadi pendorong omzet bagi Pak Sutarman. Namun, sistem yang sama juga bisa menjadi jeratan bagi mereka yang tidak punya rem finansial.

Strategi gerilya sales seperti Rian memang sukses menyebarkan digitalisasi secara kuantitas, tapi gagal secara kualitas edukasi. Masyarakat kita "dipaksa" digital sebelum mereka benar-benar paham risikonya.

Pesan Nur Alamzah sangat jelas. Gunakan layanan ini dengan sangat hati-hati. Terutama yang sifatnya utang. Karena di era digital, utang itu bukan lagi beban yang terlihat di depan mata, tapi "candu" yang tersembunyi di balik layar ponsel yang mengkilap.

Jangan sampai niatnya ingin membiayai kebutuhan, malah berakhir membiayai ego yang tidak pernah kenyang. (*)

Kategori :