Apa yang ditulis Ibn Khaldun dalam Muqaddimah merupakan refleksi atas realitas sosial masyarakat Arab-Berber di Afrika Utara dan Andalusia.
Ia menemukan bahwa usia efektif sebuah peradaban biasanya berlangsung sekitar tiga generasi—kurang lebih satu abad. Pola ini bersifat berulang dan lintas peradaban.
Ibn Khaldun membagi masyarakat menjadi dua tipe utama: masyarakat nomaden (badawah) dan masyarakat sedentari perkotaan (hadarah).
Masyarakat nomaden hidup dalam kondisi keras dan penuh tantangan. Situasi ini menumbuhkan solidaritas kelompok (ashabiyah) yang kuat, keberanian, serta kemampuan adaptasi tinggi.
Ikatan kolektif tersebut memungkinkan mereka membangun kekuatan politik dan militer, bahkan menaklukkan masyarakat kota.
Sebaliknya, masyarakat perkotaan yang hidup menetap cenderung mengalami pelemahan solidaritas sosial. Kehidupan kota yang individualistik membuat warga mengandalkan institusi negara—polisi, birokrasi, aparat—untuk menjaga keamanan dan keteraturan.
Ketimpangan ekonomi, gaya hidup elit yang mewah, korupsi, serta meningkatnya kriminalitas melemahkan kohesi sosial.
Menurut Ibn Khaldun, kondisi inilah yang membuat masyarakat kota rentan ditaklukkan oleh kelompok dengan solidaritas sosial yang lebih kuat.
Ia menegaskan bahwa ashabiyah adalah kunci kejayaan peradaban. Ketika solidaritas sosial menguat, peradaban tumbuh. Namun ketika kemewahan, ketidakadilan, dan korupsi merajalela, solidaritas melemah dan kehancuran menjadi tak terelakkan.
BACA JUGA:Cek Prakiraan Cuaca Jakarta Selasa, 10 Februari 2026: BMKG Prediksi 3 Wilayah Berawan Sepanjang Hari
BACA JUGA:Siasat Gerilya Sales QRIS dan Candu Paylater
Empat Fase Peradaban
Ibn Khaldun menjelaskan bahwa peradaban bergerak melalui empat fase utama. Fase pertama adalah fase perjuangan dan pembentukan.
Peradaban lahir dari kelompok dengan solidaritas kuat, semangat kolektif, dan komitmen bersama untuk bertahan dan berkembang. Nilai kesederhanaan, keberanian, dan pengorbanan menjadi fondasi utama.
Fase kedua adalah fase kejayaan. Stabilitas politik terbentuk, ekonomi berkembang, ilmu pengetahuan dan kebudayaan tumbuh subur, serta infrastruktur diperluas.
Pada tahap ini, masyarakat menikmati hasil kerja keras generasi sebelumnya. Solidaritas sosial masih ada, tetapi mulai melemah seiring meningkatnya kenyamanan hidup.
Fase ketiga adalah fase kemunduran. Generasi penerus lebih menikmati hasil daripada memperjuangkannya. Kemewahan meningkat, inovasi menurun, dan solidaritas sosial terkikis. Konflik internal, persaingan elite, serta ketidakadilan sosial mulai menguat.