Gelombang PHK Picu Trauma Turun Kelas dan Krisis Identitas, Psikolog Beberkan Dampak Micro-Burnout

Selasa 24-02-2026,05:00 WIB
Reporter : Tim Redaksi Disway
Editor : Subroto Dwi Nugroho

JAKARTA, DISWAY.ID -- Gelombang PHK di Indonesia tak hanya berdampak pada kondisi finansial pekerja, tetapi juga memunculkan tekanan psikologis yang jarang terungkap ke publik.

Banyak pekerja mengalami krisis identitas profesional, burnout berkepanjangan, hingga kecemasan terhadap masa depan. 

Para psikolog menyebut fenomena ini sebagai trauma penurunan kelas sosial, sebuah kondisi ketika seseorang merasa status, peran, dan jati dirinya runtuh setelah kehilangan pekerjaan tetap.

BACA JUGA:PHK Menggila 2025, Kelas Menengah Terpaksa Jadi Ojol dan freelance: Pengangguran Tembus 7,3 Juta

BACA JUGA:Buktikan Nanti, Satu KTP Satu Harga Gas LPG 3 Kg Bikin Hidup Rakyat Lebih Mudah atau Makin Ribet

Bukan sekadar pergantian profesi, kehilangan pekerjaan sering kali berarti hilangnya komunitas, stabilitas, serta pengakuan sosial yang selama ini melekat pada jabatan.

Psikolog: PHK Bisa Picu “Identity Dissolution”

Psikolog klinis Ratna Megawati, M.Psi., yang telah dua dekade berpraktik di Jakarta, menyebut banyak mantan pekerja kantoran mengalami apa yang ia istilahkan sebagai identity dissolution atau pembubaran identitas.

Menurutnya, pekerja yang bertahun-tahun membangun karier di lingkungan korporat mendadak kehilangan pijakan ketika beralih ke pekerjaan berbasis aplikasi seperti ojek online atau freelancer.

“Banyak klien datang dengan kebingungan mendasar, mereka tidak lagi tahu siapa diri mereka setelah meninggalkan pekerjaan tetap. Saat ditanya ‘apa pekerjaanmu?’, mereka kesulitan menjawab,” ujarnya.

BACA JUGA:Satu KTP Satu Harga: Apakah Gas Melon Tepat Sasaran atau Malah Masalah Baru?

BACA JUGA:Pedagang Kecil Menjerit, Satu KTP Satu Harga Gas LPG 3 Kg Bikin 'Kecekek’

Gelar seperti “manajer” atau “direktur” selama ini memberi identitas sosial yang jelas. Ketika itu hilang, sebagian orang mengalami krisis eksistensial yang serius.

Sedangkan Psikolog organisasi Dr. Ario Baskoro menjelaskan bahwa burnout di pekerjaan berbasis aplikasi memiliki karakter berbeda dibandingkan burnout kantoran.

Jika di kantor burnout berkembang perlahan akibat tekanan institusional, maka di sektor gig economy muncul apa yang disebutnya sebagai micro-burnout.

Kategori :