Bertauhid Vertikal dan Horizontal ala Muhammadiyah

Selasa 03-03-2026,15:30 WIB
Oleh: Prof Jamhari Makruf, Ph.D.

BACA JUGA:Pameran Otomotif, Merek Mobil Bertambah dan Sinyal Ekonomi 'Rojali'

Kyai Ahmad Dahlan menegaskan hal ini melalui teologi al-Ma’un.

Tauhid harus diwujudkan dalam tindakan nyata membantu kaum miskin, mengembangkan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan memperjuangkan keadilan sosial.

Agama tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus hadir sebagai solusi bagi persoalan kemanusiaan.

Dalam konteks kekinian, gagasan kemajuan menjadi sangat penting.

Dunia berubah cepat, dan agama harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Kemajuan bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan.

Tanpa pembaruan, agama berisiko kehilangan relevansi. 

BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: KH Kafabihi Mahrus Pilihan Tepat Untuk Rais Aam PBNU

BACA JUGA:Menuju Muktamar ke-35 NU: KH Afifuddin Muhajir Adalah Jawaban dan Arus Utama Kepemimpinan PBNU

Kemajuan menuntut rasionalitas. Keputusan harus berbasis data, analisis, dan argumentasi yang kuat.

Dalam praktik Muhammadiyah, hal ini terlihat dalam pengembangan pendidikan, pendirian sekolah atau universitas didasarkan pada riset kebutuhan masyarakat, bukan sekadar intuisi.

Selain itu, kemajuan juga mensyaratkan kepercayaan pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sejarah peradaban menunjukkan bahwa kemajuan selalu ditopang oleh science.

Peradaban Islam klasik pun mencapai puncaknya karena penguasaan ilmu pengetahuan.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kewirausahaan.

Kategori :